• Dzikir Pagi Dan Petang

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Dzikir Mejelang Tidur

    Siapa yang membaca ayat Kursi saat hendak tidur, maka sesungguhnya dia selalu berada dalam perlindungan Allah dan tidak didekati setan hingga pagi hari.

  • Bacaan Setelah Bangun Tidur

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Dzikir Setelah Shalat Fardlu

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Bacaan Shalat Tahajud

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

Selasa, 13 Maret 2018

Kisah Qorun Sebagai Pelajaran Bagi Orang Yang Kufur Nikmat

Allah ta’ala memberikan banyak pelajaran kepada kita melalui kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Diantara kisah tersebut adalah kisah Qorun yang memiliki harta berlimpah sebagaimana terdapat dalam Al- Qur’an surat Al-Qashash ayat 76 sampai 83. Pada ayat tersebut diceritakan Qorun berlaku sombong atas harta yang ia miliki. Allah berfirman :

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

“Qorun berkata: “”Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS Al-Qashash : 78)

Dalam ayat tersebut, Allah menceritakan kisah Qorun yang tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepadanya. Ia tidak memuji Allah yang telah memberikan nikmat kepadanya. Ia juga tidak menggunakan nikmat harta yang diperoleh dalam jalan ketaatan. Maka inilah bentuk kufur nikmat yang dilakukan Qorun. Maka Allah memberikan adzab yang pedih yaitu ditenggelamkan ke dalam bumi beserta seluruh hartanya. Allah ta’ala berfirman :

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

“Maka Kami benamkanlah Qorun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. Al Qashash : 81).

Demikianlah balasan bagi orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah. Sudah seharusnya kita mengambil pelajaran dari kisah tersebut sehingga tidak ada pada diri kita sifat kufur nikmat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur dan dijauhkan dari sifat kufur nikmat. Wallahu A'laam

Semoga kita bisa memetik faedah hikmahnya.

Di Copaste Dari Fanspage Facebook: [ Al-Habib Quraisy Baharun ]

Share:

Sabtu, 10 Maret 2018

5 Tips Mendidik Generasi Zaman Now

Oleh: Umi Salaman, Spd.

Berbicara generasi zaman kini, tentu tidak bisa dilepaskan dengan era perkembangan teknologi. Hampir semua anak tidak bisa dihindarkan darinya. Semua gagdet mereka kenal mulai dari smartphone, ipad, tablet atau apalah namanya. Bahkan tidak hanya anak kota, anak-anak di desa pun sudah banyak yang kecanduan gagdet.

Di desa, dahulu yang nongkrong di warung kopi kebanyakan orang laki-laki dewasa. Sekarang anak-anak usia SMP, SD, bahkan TK ramai-ramai mendatangi tempat yang biasa disebut warung giras ini. Ini adalah fenomena baru yang perlu dikritisi. Kira-kira apa yang mereka lakukan di sana? Mereka ke warung kopi bukan untuk minum kopi, tapi lebih karena wi-fi gratis yang disediakan oleh pemilik warung. Nah, di situlah anak-anak tersebut memanfaatkan wi-fi gratisan untuk download game online atau apapun konten yang mereka inginkan. Bebas, tanpa pendampingan siapapun.

Makanya di desa-desa sudah jarang kita temui anak-anak bermain layangan, petak-umpet, bekel, sepeda dan permainan tradisional yang lainnya. Mereka sekarang lebih asyik nongkrong di warung-warung kopi, dan sibuk dengan gagdet masing-masing. Tidak ada komunikasi atau suara obrolan antar sesama. Lalu, generasi seperti inikah yang menjadi harapan untuk membangun peradaban manusia yang lebih baik di negeri ini?

Sulitnya mendidik generasi zaman now

Dengan pengaruh gagdet yang luar biasa tersebut anak-anak kita bukan hanya dalam pola asuh orangtua saja, tetapi pola pikir dan pola sikap mereka sudah banyak terpengaruh oleh apa yang mereka lihat di dunia maya. Tentu jika pengaruhnya positif itu akan menyenangkan, namun konten negatif yang lebih banyak kita temui di dunia maya itulah yang mengkhawatirkan para orang tua.

Semisal konten porno, dampaknya sangat berpengaruh pada perkembangan pola jiwa anak-anak. Mereka akan sulit konsentrasi di kelas,  manjadi tidak fokus saat belajar, dan yang lebih parah konten porno bersifat adiktif. Lain lagi konten kekerasan. Hal ini akan memicu anak lebih aktif dan reaktif dalam bergaul dengan sesamanya. Mengingat anak-anak masih dalam tahap tumbuh kembang, mereka belum bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Jurus jitu mendidik kids zaman now

Sesungguhnya kita memahami bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya."

Ya mendidik anak bukan hanya sekedar ilmu "katon", tapi harus punya bekal. Diantara bekal tersebut antara lain:

1. Menanamkan akidah sejak dini yaitu dengan mengenalkan Allah SWT sebagai sang pencipta dan pengatur segala yang ada di jagat raya.

2. Membekali anak bahwa tujuan penciptaan manusia adalah semata ibadah (Qur'an surat adz_zariyat: 56).

3. Menjelaskan ke anak bahwa setiap yang bernyawa pasti mati. Setiap diri akan bertanggung jawab atas amalnya. Jika dia baik masuk syurga, jika buruk masuk neraka.

4. Memberi teladan pengamalan ibadah sehari-hari dengan istiqomah.

5. Menghindarkannya dari dampak negatif gadget dan pergaulan dengan kesepakatan yang telah disepakati sebelumnya.

Lima poin di atas adalah upaya orangtua untuk membentengi generasi dari pengaruh negatif gadget dan lingkungan. Tentunya orang tua tetap harus mendampingi anak-anak mereka. Tugas mulia ini akan semakin sempurna apabila ada pengawasan masyarakat dan perlindungan dari negara juga. Wallahu alam.

Sumber Tulisan: [ Rf/voa-islam.com ]

Share:

Rabu, 07 Maret 2018

35 Keutamaan Membaca Alquran


Al Qur’an adalah kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi besar Muhammad SAW. Sebagai pedoman hidup untuk para hambanya yang bertakwa. Dia adalah cahaya bagi orang mukmin, cahaya dalam kehidupan dan cahaya ketika dihari Kiamat nanti.

Al Qur’an telah ada sebelum bumi diciptakan dan Al Qur’an pun akan tetap ada meski dunia ini telah hancurkan. Keistimewaanya tidak ada yang bisa menandingi baik dari segi bahasa, sastra dan ilmu pengetahuan. Semua berisi fakta sebelum kejadian dunia maupun setelahnya. Karena Memang Al Qur’an adalah karya Allah yang teragung untuk para hambanya yang mukmin.

Untuk itu lah, Allah akan memberikan ganjaran yang sangat besar bagi siapa yang membaca dan mengamalkannya. Dibawah ini kami merangkum beberapa keutamaan membaca Al Qur’an dan mengamalkannya dari hadist-hadist pilihan Rasulullah SAW. Semoga apa yang dinukilkan ini dapat memberikan kita motivasi untuk membacanya serta mengamalkannya. Berikut 35 keutamaannya :

1. Tidak ada derajat yang lebih tinggi dari pada orang yang suka membaca Al Qur’an

2. Rumah yang didalamnya dibaca Al Qur’an, ahli rumah akan diberi berkah dan kebaikan, malaikat pun turut memenuhi rumah tersebut, dan setan akan keluar. Sebaliknya rumah yang didalamnya tidak dibaca Al Qur’an maka kehidupannya akan dipenuhi kesempitan, ketidak berkahan, Malaikat akan keluar dan setan ikut memenuhi rumah tersebut.

3. Orang yang mengajarkan Al Qur’an pada anaknya pada masa kecil dan selalu membacanya pada masa tuanya akan mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.

4. Membaca Al Qur’an akan memberi nur dibumi dan simpanan bagi kita dilangit dan rumah yang didalamnya dibaca Al Qur’an akan menyinari ahli-ahli langit seperti bintang-bintang menyinari bumi.

5. Tanda-tanda kecintaan Allah SWT adalah bahwa Allah SWT memasukkan rasa cinta pada Al Qur’an dalam hati seseorang (selalu ingin membacanya)

6. Seorang muslim yang hendak berbaring ditempat tidurnya lalu ia membaca salah satu surat dari Al Qur’an, Allah akan tugaskan satu malaikat untuk menjaganya, dan tidak ada satu bahaya pun akan mendekatinya, sehingga ia terjaga kapan saja

7. Seseorang yang sibuk membaca, menghafal, mempelajari, memahami Al Qur’an sehingga tidak mempunyai waktu untuk berdoa maka Allah SWT akan memberikan sesuatu yang lebih utama dari pada yang diberikan pada orang yang berdoa.

8. Barang siapa yang membaca 10 ayat dari Al Qur’an didalam satu malam, maka dicatat banginya pahala 1 qintar, dan 1 qintar itu lebih baik dari pada dunia dan serta segala seisinya

9. Orang yang beriman pada Al Qur’an dan mengamalkannya maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya dan akan memuliakannya didunia dan diakhirat.

10. Dengan membaca Al Qur’an dan banyak mengingat maut akan menyebabkan hati bersinar dan akan memantulkan sifat ma’rifat yang terang (pengkilat hati yang seperti besi berkarat dalam air)

11. Bacaan Al Qur’an dalam shalat lebih baik dari pada bacaan Al Qur’an diluar shalat. Bacaan diluar shalat lebih baik dari pada membaca tasbih dan takbir, bacaan tasbih lebih baik dari pada puasa dan puasa adalah perisai (penghalang) api neraka.

12. Orang yang ahli dalam Al Qur’an (benar-benar menghafalnya, sering membacanya, memahami makna dan maksudnya) dihari mahsyar akan bersama malaikat pencatat yang mulia dan benar dan orang yang terbata-bata dalam membaca Al Qur’an dan bersusah payah mempelajarinya mendapat pahala 2 kali lipat (1 dari bacaanya dan 1 lagi dari kesungguhannya dalam berusaha)

13. Barang siapa yang sungguh-sungguh ingin menghafal Al Qur’an tapi tidak mampu, tapi terus menerus membacanya Maka Allah SWT akan membangkitkannya dihari Mahsyar dengan para Hafiz Al Qur’an (Para Hafiz Al Qur’an dapat mensafaati 10 keluarganya yang sudah dijamin masuk neraka kecuali mereka yang syirik dan kafir)

14. Barangsiapa yang menghormati, dan menunaikan hak-haknya dan mengamalkan Al Qur’an. Maka Al Qur’an akan membelanya dihadapan Allah SWT dan memberi syafaat dan menaikkan derajatnya.

15. Barangsiapa membaca Al Qur’an dan mengamalkan apa yang ada didalamnya maka pada hari kiamat dia dan kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota yang cahayanya lebih terang dari pada matahari serta dipakaikan pakaian keindahan dan keindahannya tidak ada yang sanggup menandinginya.

16. Barangsiapa yang membaca dan menghafal Al Qur’an serta menghalalkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan diharamkannya maka Allah SWT akan memasukkannya kedalam surga dan menjaminnya untuk memberi syafaat pada 10 orang ahli keluarganya yang diwajikan neraka (kecuali syirik dan Kafir) (Al maidah :72)

17. Banyak membaca Al Qur’an dapat menguatkan ingatan, membersihkan batin, menguatkan rohani dan mewangikan mulut.

18. Barangsiapa mengajarkan anak-anaknya membaca Al Qur’an maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.

19. Membaca 1 huruf Al Qur’an maka Allah akan diberi 10 pahala kebaikan (Al an’am : 10)

20. Barangsiapa yang mendengarkan 1 ayat Al Qur’an Al Qur’an akan ditulis 1 kebaikan berlipat ganda dan yang membacanya akan diberi nur pada hari kiamat.

21. Kaum yang berkumpul membaca Al Qur’an dan saling mengajarkan akan diberi sakinah, disirami rahmat, malaikatpun mengerumuni mereka dan Allah SWT menyebut mereka dikalangan mereka disisinya.

22. Barangsiapa membaca 10 ayat pada malam hari maka ia tidak akan ditulis sebagai orang yang lalai, 100 ayat akan dicatat sebagai orang yang taat dan diselamatkan dari tuntutan Al Qur’an, 200 ayat maka ia mendapat ibadah pahala semalam suntuk.

23. Barangsiapa membaca Al Qur’an yang dengannya ia mendapat makanan dari manusia (untuk tujuan dunia) maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan muka hanya tulang tanpa daging.

24. Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya

25. Membaca/mempelajari beberapa ayat Al Qur’an adalah lebih baik dan lebih berharga dari pada kerajaan seluas 7 benua yang bersifat sementara dan pahalanya bermanfaat untuk selama-lamanya.

26. Membaca Al Qur’an tanpa melihat mushaf mendapat 1000 derajat dan orang yang membaca Al Qur’an dengan melihat mushaf 2000 derajat (lebih afdol)

27. Membaca Al Qur’an dalam shalat maka Setiap hurufnya akan mendapat pahala 100 kebaikan, jika sambil duduk dalam shalat akan mendapat 50 kebaikan dalam Setiap hurufnya, jika dibaca diluar shalat dalam keadaan berwudhu maka akan mendapatkan 25 kebaikan dalam Setiap hurufnya, dan jika dibaca tanpa wudhu akan mendapat pahala 10 kebaikan di Setiap hurufnya.

28. Kebanggan, kemuliaan dan kehormatan ummat ini adalah dengan membaca Al Qur’an, menghafalnya, mengerjakannya dan beramal dengannya dan apa saja yang berhubungan dengan Al Qur’an

29. Tidak ada yang dapat mendekatkan diri kepada Allah kecuali dengan perantaraan Al Qur’an dan membaca Al Qur’an akan menyebabkan kita lebih bertawajjuh dan memberi kesan tersendiri pada diri pembaca.

30. Ahli Al Qur’an (yang selalu menyibukkan dengan Al Qur’an) adalah ahli Allah dimana setiap waktu Allah akan selalu mengirim kasih sayangnya dan mereka orang-orang istimewa Allah sehingga mendapat kemuliaan.

31. Membaca Al Qur’an dengan suara keras dalah seperti memberi shadaqah dengan terang-terangan dan dengan perlahan seperti memberik sedekah dengan sembunyi-sembunyi.

32. Tidak ada penolong yang lebih utama kedudukannya disisi Allah SWT pada hari kiamat dari pada Al Qur’an (bukan dari Golongan Nabi, Malaikat dan Lain sebagainya)

33. Mempelajari 1 ayat Al Qur’an pada pagi hari lebih baik dari pada shalat 100 rakaat, mempelajari 1 bab ilmu pada pagi hari lebih baik dari pada shalat 1000 rakaat.

34. Seseorang yang mempelajari Al Qur’an menjaga dan membacanya pada tengah malam dalam shalat dimisalkan seperti mangkuk terbuka penuh dengan kasturi yang baunya menyebar keseluruh tempat, sedangkan seorang hafiz Al Qur’an yang tidur dan tidak membaca Al Qur’an karena lalai tapi Al Qur’an berada dalam hatinya seperti mangkuk penuh kasturi tetapi baunya tidak menyebar (Nur berkah terhalang pada orang lain)

35. Mengamalkan kandungan Al Qur’an akan menghindarkan kita dari fitnah

Di Copast Dari Fanspage: [ Cerita Santri ]
Share:

Minggu, 18 Februari 2018

20 Wasiat Penting Habib Salim As-syathiri Tarim Yaman


Berikut adalah 20 wasiat penting dari ulama besar Yaman yang meninggal kemarin, Sabtu 17 Februari 2018, Habib Salim bin Abdullah bin Umar asy-Syathiri dari beberapa ceramahnya di Indonesia:

1. Durhaka pada orangtua itu bernasab, turun-temurun, pasti akan dibalas melalui keturunannya kelak.

2. Seorang yang menghormati ulama besar tapi ia meninggalkan orangtuanya artinya ia mementingkan sunnah dan melalaikan yang wajib. Sama seperti orang memakai imamah tapi auratnya justru terbuka, sungguh tidak pantas.

3. Berkata Imam Ahmad bin Hanbal: “Orangtua ada 3; yang melahirkan, yang memberi ilmu (guru), dan yang menikahkanmu dengan anaknya (mertua).”

4. Pada saat kita kecil, orangtua mencintai kita, bersabar dengan keadaan dan tangisan kita, menghadapi berbagai tingkah pola kita, berdoa supaya kita panjang umur dan sehat sampai dewasa. Maka wajib bagi kita bersabar terhadapnya ketika mereka sudah tua dan memiliki banyak kekurangan.

5. Syafaat Rasulullah Saw. pun tak dapat menolong orang yang durhaka kepada orangtuanya dari siksa neraka kecuali orangtuanya sendiri yang memberi kesempatan padanya untuk diberi rahmat oleh Allah.

6. Memutus silaturrahim akan mendapat laknat dari Allah, tertolak seluruh amalnya, tidak akan diterima doanya walaupun ia seorang yang alim. Maka sambunglah silaturrahim sebelum kita mati dalam keadaan terlaknat dan sebelum kita masuk barzakh dengan amarah Allah selagi ada kesempatan.

7. Majelis ilmu lebih baik seribu kali daripada majelis maulid atau shalawat.

8. Orang yang hadir majelis ilmu akan mendapat rahmat Allah meski tidak paham atau tidak hafal apa yang telah disampaikan.

9. Banyak orang yang baru bisa merasakan manfaatnya hadir majelis ilmu ketika menjelang sakaratul maut.

10. Orang berakal bukanlah orang yang hanya bisa membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. Tetapi orang berakal adalah orang yang mengerti mana yang baik untuk dilakukan dan mengerti mana yang jelek untuk dijauhi. Dan itu semua ada dalam majelis ilmu.

11. Janganlah mengobrol sendiri dalam majelis ilmu. Syaikh Abubakar Bin Salim berkata: “Orang-orang yang sering mengobrol di majelis ilmu dikhawatirkan akhir hayatnya menjadi bisu.”

12. Ketika kamu tidak bisa menjadi seorang pengajar, maka setidak-tidaknya jadilah seorang pencari ilmu, atau orang yang semangat dalam menghadiri majelis ilmu, atau orang yang cinta kepada majelis ilmu.

13. Jauhilah orang-orang yang benci majelis ilmu.

14. Apabila zakat dikelola dengan baik dan benar niscaya tidak akan ada fakir miskin di dalam sebuah negara muslim. Seperti era Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

15. Barangsiapa memuliakan/menjamu tamu yang tidak dikenal, maka bagaikan memuliakan Allah Swt. Barangsiapa memuliakan/menjamu tamu yang dikenal, maka bagaikan memuliakan Rasulullah Saw.

16. Siwak mempunyai 120 manfaat. Sedangkan rokok mempunyai 120 bahaya.

17. Di Belanda terdapat sebuah penelitian bahwa ada kuman gigi yang tidak bisa mati kecuali dengan zat yang terkandung dalam kayu arok/siwak.

18. Dalam najis anjing dan babi ada beberapa kuman yang tidak bisa dihancurkan dengan berbagai macam zat kimia, tapi justru bisa dibasmi dengan debu. Oleh sebab itu, syariat mewajibkan membasuh najis anjing dan babi dengan tujuh kali basuhan yang salah satunya harus dicampur dengan debu.

19. Dalam salah satu sayap lalat ada empat penyakit dan dalam sayap lainnya ada empat obat penyakit tersebut. Jadi, jika terdapat lalat mati di dalam minuman maka tenggelamkan terlebih dahulu sebelum membuang lalat tersebut agar aman diminum. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam sebuah hadits.

20. Agar futuh dalam ilmu, Habib Abdullah al-Haddad berkata: “Saya mendapatkan futuh dalam ilmu dengan sebab 3 perkara; dengan menangis dan merendahkan hati serta beristighfar di waktu Sahur, dengan berzuhud terhadap dunia, dan tidak aku mendengar ada seorang lelaki yang saleh atau perempuan yang salehah kecuali aku mengunjunginya dan meminta doa darinya.”

(Abdkadir Alhamid/ Toha Mahsun M)

Sumber: pustakamuhibbin.club
Share:

Sabtu, 03 Februari 2018

Kiai Abdul Djalil Syahid Membela Al-quran Tetes Darahnya Harum Semerbak


Hari Kamis tanggal 10 bulan Dzul Qadah 1366 H./26 September 1947 M. pukul 03.30 dini hari, serdadu Belanda sampai di Sidogiri dan langsung mengepung rapat pondok pesantren tua ini. Pasukan Hizbullah sempat melakukan perlawanan dan terlibat baku tembak. Saat hampir Subuh Belanda berhasil menerobos masuk ke Pondok Pesantren Sidogiri dan mendatangi Kiai Djalil yang saat itu bersama para pengawalnya. Belanda menanyakan di mana Kiai Sa’doellah. “Saya tidak tahu! Di sini saya hanya diserahi untuk mengajar santri,” jawab Kiai Djalil mantap.

Penasaran, pasukan Belanda memaksa Kiai Djalil ikut dijadikan tawanan. Kiai menolak, tidak mau mengikuti ajakan mereka. Terjadi perdebatan sengit kemudian. Karena sudah masuk waktu Subuh Kiai ingin mengatakan masih ingin salat Subuh terlebih dahulu. Selesai salat, Kiai langsung menuju halaman di sana tentara Belanda telah menunggu. Kiai Djalil keluar dari masjid dengan membawa buntalan yang berisi al-Qur’an dan kitab. Melihat Kiai Djalil membawa buntalan, Belanda memaksa agar menyerahkan buntalan itu, sebab Belanda curiga yang dibawa Kiai Djalil adalah dokumen penting milik Kiai Sa’doellah. “Jangan sentuh buntalan itu! Kamu najis memegangnya,” bentak Kiai Djalil garang.

Kiai djalil memang mempunyai firasat tidak enak pada Belanda. Bahkan Kiai pernah bilang, “Le’ londo mlebbu, Islam payah (Kalau Belanda sampai masuk ke sini, Islam payah)”. Sehingga beliau sudah bersiap-siap menghadapi segala kemungkinan. Diam-diam beliau menyelinapkan kris di balik bajunya. Ketika Belanda dengan paksa merampas buntalan yang berisi al-Qur’an dan kitab itu, Kiai Djalil marah dan melakukan perlawanan.

Maka terjadilah pertempuran tidak seimbang antara Kiai Djalil yang ditemani bebarapa santri yang menjadi pengawalnya melawan Belanda yang jumlahnya banyak dan bersenjata lengkap. Beberapa serdadu Belanda tewas tersungkur. Tapi tidak lama berselang, semua pengawal Kiai Djalil gugur tertembak. Belanda sendiri kewalahan menghadapi Kiai Djalil yang ternyata tidak mempan ditembak, meskipun diberondong. Sampai akhirnya dengan kemarahan yang sangat memuncak, mereka berhasil menangkap Kiai Djalil dan dengan beringas menembakkan peluru ke mulut beliau. Dor…! Dor…! Dor…! Suara tembakan terdengar sampai puluhan kali. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Beliau akhirnya gugur sebagai syahid.

Kekejaman Belanda tidak cukup sampai di situ. Jenazah Kiai Djalil siseret dan dibuang di sungai Sidogiri sebelah barat. Konon, tetesan darah Kiai membuat air sungai saat itu harum semerbak. Jenazah Kiai Djalil ini baru ditemukan sekitar jam 09.00 oleh khadam beliau bernama Dlofir (Sukerejo Situbondo).

Kiai Djalil wafat tepat pasa hari Kamis tanggal 10 Dzul Qadah 1366 H atau 26 September 1947 M sekitar pukul 06.00 pagi hari. Beliau dimakamkan di areal pemakaman keluarga Sidogiri. Sedangkan beberapa orang pengawal beliau dimakamkan di samping masjid bagian utara (dekat jeding masjid).

Kiai Djalil adalah satu dari sekian ribu ulama yang menjadi korban kebiadaban Belanda. Disini, kiranya penting kita kutip pernyataan jujur seorang jenderal Belanda yang memimpin agresi tersebut. “Andaikan tidak ada ulama-ulama atau kiai-kiai kolot dan ortodoks (baca: Pesantren), Negara Indonesia tidak mungkin meraih kemerdekaan.”

Sumber: Buku JEJAK LANGKAH 9 MASYAYIKH SIDOGIRI 1

Dicopast Dari Akun Facebook حيدر علي
Share:

Senin, 25 Desember 2017

Toleransi Tenggangrasa Dan Ucapan Selamat Natal


Tidak ada seorangpun di dunia ini yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia selalu memerlukan orang lain guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebab itulah manusia dijuluki sebagai makhluk sosial. Demikian padatnya kebutuhan manusia sehingga persinggungan diantara mereka tidak mungkin terelakkan. Bahkan di dunia yang semakin mengglobal ini, persinggungan itu telah menembus batas. Batas ruang, waktu, budaya, agama dan juga ideologi.

Persinggungan ini harus dikelola dengan baik, agar tidak berubah menjadi gesekan yang akan menghanguskan harmonisme kehidupan. Untuk menjaga ritem ini diperlukan sebuah konsep saling mengerti, yang dalam bahasa kita dikenal dengan teposeliro atau tenggangrasa. Yaitu sikap saling menghormati dan saling menghargai perasaan orang lain. Karena hanya dengan sikap inilah keselarasan hidup bersama orang lain akan tetap terseleggara. Apalagi jika mengingat keberadaan negara Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan juga bahasa. Maka memiliki sikap tenggangrasa menjadi sebuah kewajiban bagi saiapapun yang hidup di Indonesia.

Bagi umat Islam sendiri perbedaan ini bukanlah sebuah masalah. Karena memang demikianlah Allah swt menciptakan kehidupan di dunia ini, sebagaimana firmannya dalam al-Hujarat ayat 13

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا  

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal…

Memang mengelola perbedaan bukanlah hal yang mudah, hanya muslim yang berkwalitas iman dan taqwanya yang dititipi oleh Allah swt kemampuan menjaga keseimbangan ini. Karena sejatinya perbedaan itu merupakan kasunyatan yang sengaja dihadirkan Allah swt sebagai cobaan bagi umat muslim. Sebagaimana diandaikan Allah sendiri dalam surat al-Maidah 48.

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَٰكِن لِّيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آتَاكُمْ ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Seandainya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan  satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu,

Ayat di atas merupakan sebuah petunjuk bagi umat muslim, bahwasannya persamaan dan kesatuan hanyalah sekedar pengandaian adapaun kenyataannya sesungguhnya adalah perbedaan, dan sekaligus Allah swt menjadikan yang nyata itu sebagai ‘soal’ ujian bagi manusia. Karena Allah swt mengetahui bahwa manusia tidak akan mampu menjawab soal ujian yang bersifat pengandaian seperti di atas. Dengan kata lain manusia tidak akan mampu bertahan hidup jika Allah swt menciptakan manusia dalam satu macam saja.

Dalam rangka mempermudah manusia menemukan jawaban dari soal ujian tentang perbedaan ujian ini, Allah swt perintahkan Rasulullah saw turun ke bumi untuk mengajar umatnya. Sayangnya persinggungan Rasulullah saw dengan pemeluk agama lain (yahudi dan nasrani) tidak tergambar dengan komplit dalam hadits-haditsnya kecuali sangat sedikit sekali. Diantaranya adalah hadits riwayat Abu Hurairah;

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ r قَالَ لاَ تَبْدَءُوا الْيَهُودَ وَلاَ النَّصَارَى بِالسَّلاَمِ فَإِذَا لَقِيتُمْ أَحَدَهُمْ فِى طَرِيقٍ فَاضْطَرُّوهُ إِلَى أَضْيَقِهِ

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Janganlah kamu memulai salam kepada orang Yahudi dan Nasrani, dan bila kamu berjumpa dengan mereka di jalan maka desaklah mereka ke tempat yang lebih sempit.” (HR. Muslim)

Melalui hadits di atas Rasulullah saw mengajarkan kepada umatnya bagaimana cara memperlakukan pemeluk agama lain ketika berpapasan di tengah jalan. Demikian pula seharusnya ajaran ini diqiyaskan secara aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Hendaknya seorang muslim tetap menyediakan ‘ruang sosial’ untuk menghormati mereka, tetapi ruang itu harus lebih sempit adanya dibandingkan dengan ruang sosial yang kita sediakan sesama muslim. Hal ini sebagai bukti keteguhan hati dalam beragama Islam.

Ruang itupun harus jelas batasannya. Imam Nawawi dalam Tafsir Munir menjelaskan bahwa penghormatan itu hanya boleh dilakukan dalam batas urusan duniawi (sosial saja) tidak menyinggung soal aqidah. Itupun harus disertai dengan keyakinan bahwa hanya Islamlah agama yang paling haq, adapun yang lain adalah bathil. Jikalau penghormatan itu terlalu berlebihan hingga melahirkan rasa simpati kepada agama lain, maka hal itu dilarang. Karena dapat menyebabkan kekufuran.

واعلم أن كون المؤمن مواليا للكافر يحتمل ثلاثة اوجوه احدها ان يكون راضيا بكفره ويتولاه لأجله وهذا ممنوع لان الرضى بالكفر كفر. وثانيها المعاشرة الجميلة فى الدنيا بحسب الظاهر وذلك غير ممنوع. وثالثها الركون الى الكفر والمعونة والنصرة اما بسبب القرابة اوبسبب المحبة مع اعتقاد ان دينه باطل فهذا لا يوجب الكفر الا انه منهى عنه لان الموالة هذا المعنى قد تجره الى استحسان طريقه والرضى بدينه وذلك يخرجه عن الاسلام 

Demikian pula pendapat Imam ar-Razi yang termaktub dalam tafsirnya Mafathul Ghaib. Meski demikian keterangan dalam Hasyiyah al-Bujairami alal Khatib memberikan pengecualian bahwa berhubungan dengan pemeluk agama lain sangat dianjurkan apabila dirasa mampu memberikan maslahah secara syar’i atau dapat menghindarkan diri dari bahaya

 قَوْلُهُ (تَحْرُمُ مَوَدَّةُ الْكَافِرِ) أَيْ الْمَحَبَّةُ وَالْمَيْلُ بِالْقَلْبِ وَأَمَّا الْمُخَالَطَةُ الظَّاهِرِيَّةُ فَمَكْرُوهَةٌ ... الخ أما معاشرتهم لدفع ضرر يحصل منهم أو جلب نفع فلاحرمة فيه  ا هـ

Pembahasan mengenai hubungan dengan agama lain menjadi sangat kontekstual ketika musim natal dan tahun baru tiba. Apalagi kalau tidak soal hukum mengucapkan natal dan tahun baru kepada pemeluk agama lain?

Beranjak dari keterangan teks di atas, memang tidak ada satupun kata yang menunjuk pada ucapan selamat natal ataupun tahun baru. Mungkin saja tradisi semacam itu tidak terdapat dalam kehidupan penulis pada zaman dan dilingkungannya. Akan tetapi teks tersebut bisa menjadi sumber simpulan melarang mengupkan selamat natal dan tahun baru kepada pemeluk agama lain, kecuali hanya sebagai basa-basi saja. Bukan diniatkan sebagai do’a apalagi sebagai rasa simpati dengan aqidahnya.

Demikialah tradisi saling berucap selamat ini dilakukan oleh umat bergama di Indonesia. Mereka saling mengucap selamat di hari raya dan tahun baru sebagai mujamalah dhahriyah (basa-basi saja) tanpa ada rasa dalam hati. Ini merupakan salah satu nilai yang terkandung dalam konsep tenggangrasa. Yaitu saling menjaga perasaan antara satu dan lainnya yang diejawantahkan dalam bentuk basa-basi dan kesopanan. Ini sangatlah penting karena ‘yang lain’ itu pada dasarnya adalah bagian dari keluarga besar Indonseia juga. Tenggangrasa tidak pernah meganggap yang lain adalah benar-benar orang lain. Tenggangrasa melihat perbedaan sebagaimana adik-kakak yang berbeda pendirian, berbeda selera dan keinginan tetapi mereka adalah satu keluarga. Sesuai dengan firman Allah swt 

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ

Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata,

Hal ini sungguh berbeda dengan konsep toleransi yang memandang orang lain adalah benar-benar orang lain, bukan bagian dari keluarga. Sehingga harus dihormati dan diberi kesempatan selayaknya menghormati seorang tamu bukan saudara. Diantaranya dengan membiarkan (tolere) apapun yang mereka lakukan meskipun itu berbeda dengan kita. Terasa sekali adanya unsur ‘agak memaksa’ dalam memberikan penghormatan menurut konsep toleransi. Dalam toleransi tersirat adanya kepentingan dalam ‘menghormati’ orang lain, penghormatan yang tidak lahir dari tulusnya hati tapi karena seuatu hadirnya sesutau yang lain.

Sesungguhnya jika diangan lebih dalam berbagai masalah yang timbul seputar wacana hubungan antar pemeluk agama (mulai dari ucapan selamat natal, valentine day, tahun baru, dll) itu muncul berbarengan dengan munculnya konsep toleransi itu sendiri. Walhasil apakah kita masih ingin melanjutkan keterjebakan kita dalam goa toleransi yang selalu menghadirkan permasalahan? Atau menggeser diri keluar dari kegelapan goa toleransi dan kembali pada terang tenggangrasa? (Red. Ulil H)

Sumber: www.nu.or.id
Share:

Minggu, 10 Desember 2017

Petaka Dunia Maya

Oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Teknologi informasi dan komunikasi terus berkembang seiring dengan perkembangan pola berpikir umat manusia sebagai makhluk sosial yang mempunyai naluri ingin tahu, ingin mengenal, dan ingin berkomunikasi. Telepon, handphone, komputer, dan internet adalah sarana informasi dan komunikasi yang telah berhasil diciptakan.

Dengan memanfaatkan teknologi dan komunikasi, seperti internet, seseorang dapat mengetahui peristiwa yang terjadi di dunia ini dalam hitungan detik. Ia pun dapat berkomunikasi dan mengenal orang lain dari segala penjuru dunia tanpa harus berjalan jauh dan bertatap muka secara langsung. Inilah yang dikenal orang dengan sebutan dunia maya atau cyberspace.

Saat ini internet menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan sehari-hari. Dengan segala kecanggihannya, internet telah merambah segala sisi kehidupan. Setiap pengguna dapat memanfaatkannya di manapun berada. Bahkan, hampir setiap rumah tidak luput dari teknologi canggih ini.

Di antara manfaat luar biasa internet ialah menjadi salah satu sarana hebat untuk menyebarkan Islam karena dapat menjangkau seluruh penjuru dunia. Tidak sedikit ahli ilmu yang mempunyai andil besar dalam pembuatan situs-situs internet untuk menyebarkan hukum-hukum, pendidikan, dan adab-adab Islam.

Bahkan, melalui taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala, muncul situs-situs yang mencantumkan sejumlah nama ulama besar, seperti Syaikhul Islam Ibnu Baz, Faqihul Islam Ibnu Utsaimin, dan Muhadditsul Islam al-Albani rahimahumullah—semoga Allah menjadikan surga Firdaus sebagai tempat kembali kita dan mereka.

Alhasil, dengan mudah para pengguna internet mendapatkan banyak pengetahuan Islam, baik di bidang akidah, fikih, hadits, akhlak, maupun adab, baik dengan mendengarkannya secara langsung, membacanya, maupun mencetaknya menjadi sebuah tulisan atau buku.

Tidak sebatas itu, pengguna internet pun dapat menikmati secara langsung alunan tilawatil qur’anberikut tafsirnya, hukumnya, dan sebagainya. Alhasil, teknologi internet ini berperan besar dalam khidmah terhadap Islam.

Namun, di balik semua itu, orang-orang yang gemar menebar kerusakan juga ambil bagian memanfaatkannya. Orang-orang kafir dan yang berniat jahat membuat dan menyediakan situs-situs yang penuh dengan kekejian dengan segala bentuknya: suara, gambar, atau tulisan. Mereka terus memperbanyak situs-situs semacam ini demi menyebarkan kehinaan dan kerusakan.

Tidak mengherankan jika para pelakunya adalah orang-orang kafir, karena memang bersenang-senang dengan syahwat dan syubhat menjadi tujuan utama hidup mereka, tanpa mengindahkan masalah agama, akal, ataupun etika. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَعۡلَمُونَ ظَٰهِرٗا مِّنَ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَهُمۡ عَنِ ٱلۡأٓخِرَةِ هُمۡ غَٰفِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (ar-Rum: 7)

Orang-orang kafir mengetahui yang lahir saja dari kehidupan dunia dan lalai dari kehidupan akhirat. Yang mencengangkan adalah apabila pelakunya sebagian muslimin dan orang-orang yang dikenal baik. Tentu saja ini menjadi musibah yang besar.

Hukum Menggunakan Teknologi Internet

Internet bagaikan sebilah pedang bermata dua. Keadaannya seperti kebanyakan alat teknologi pada umumnya: dapat digunakan untuk hal-hal yang baik dan yang jelek, yang tentu saja kembali kepada cara si pengguna memanfaatkannya. Itu semua karena kemunculan teknologi ini bersifat netral.

Pengaruh positif dan pengaruh negatif yang menjadi akibatnya, lebih banyak tergantung pada pemanfaatannya. Jika internet digunakan untuk hal-hal yang baik, hasilnya pun akan baik; sebaliknya, jika digunakan untuk yang jelek, hasilnya pun akan jelek.

Oleh karena itu, dalam kaidah syariat disebutkan, “Sebuah hukum akan berbeda tergantung pada keadaan setiap pelakunya”. Jika seseorang mengetahui bahwa dirinya hanya akan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat dan tidak membuatnya lalai dari kewajiban syar’i, kewajiban manzili (tugas rumah/keluarga), dan kewajiban lainnya, internet menjadi kenikmatan yang diketahui kadarnya.

Adapun orang yang cenderung membebaskan dirinya dan tidak memedulikan batasan-batasan syariat, ia justru akan memikulkan dosa pada dirinya sendiri. Nikmat itu pun berubah menjadi petaka baginya.

Intinya, secara umum, menggunakan internet adalah hal yang mubah, tetapi apabila diperinci, tidak keluar dari lima hukum taklifi, yaitu:

HARAM

Menggunakan internet hukumnya haram apabila dijadikan sebagai media untuk melakukan keharaman dan masuk ke situs-situs yang diharamkan, baik untuk dibaca, didengar, maupun dilihat.

Allah berfirman,

وَقَدۡ نَزَّلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلۡكِتَٰبِ أَنۡ إِذَا سَمِعۡتُمۡ ءَايَٰتِ ٱللَّهِ يُكۡفَرُ بِهَا وَيُسۡتَهۡزَأُ بِهَا فَلَا تَقۡعُدُواْ مَعَهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦٓ إِنَّكُمۡ إِذٗا مِّثۡلُهُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ جَامِعُ ٱلۡمُنَٰفِقِينَ وَٱلۡكَٰفِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا ١٤٠

“Sungguh, Allah telah menurunkan kepada kalian di dalam al-Qur’an bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), janganlah kalian duduk bersama mereka sampai mereka memasuki pembicaraan yang lain. Sesungguhnya (kalau kalian berbuat demikian), tentulah kalian serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam Jahanam.” (an-Nisa’: 140)

Sebagian salaf berkata, “Ketahuilah, saudaraku, berkhalwat dengan dosa adalah sebab terbesar datangnya kelemahan, sedangkan berkhalwat dengan ibadah adalah sebab kekokohan.”

WAJIB

Menggunakan internet boleh jadi hukumnya wajib bagi orang alim dan penuntut ilmu apabila mereka dituntut untuk menjelaskan hukum syariat kepada manusia atau dalam rangka membantah syubhat yang menyesatkan dan mengingkari kemungkaran.

MUSTAHAB

Hukum ini ditujukan bagi orang yang ingin mengambil faedah dari internet terkait dengan motivasi beramal dan berakhlak baik.

MAKRUH

Menggunakan internet hukumnya makruh apabila tujuannya melihat hal-hal yang mubah atau memang dianjurkan, tetapi menyebabkan si pengguna lalai dari ketaatan kepada Allah dan membuang waktu. Kalau yang dilihatnya adalah perkara haram, menjadi haramlah hukumnya.

MUBAH

Misalnya, melihat pengetahuan-pengetahuan umum, majalah, dan hal-hal yang tidak diharamkan serta tidak dimakruhkan.

Kejahatan Internet Terhadap Perempuan

Di dunia maya, ada kebaikan dan ada pula keburukan sebagaimana halnya dunia nyata. Ada kebaikan, pasti ada keburukan. Sebanyak pesan kebaikan menyebar, sebanyak itu pula kejahatan merajalela.

Saat ini kekerasan terhadap perempuan tidak lagi hanya secara fisik, tetapi juga secara online. Kerentanan perempuan di internet tidak terlepas dari kelemahannya. Di internet, perempuan dilihat sebagai tubuh, bahkan objek seksual.

Banyak yang tidak menyadari bahwa internet juga menjadi ranah kejahatan terhadap perempuan. “Tidak ada yang menjaga hak-hak perempuan di internet,” ungkap Nani Buntarian, aktivis perempuan yang sejak 1998 menginisiasi pengguna mailing list untuk gerakan perempuan.

Hal ini terungkap dalam Diskusi Rabu Perempuan di Kedai Tjikini, Rabu, 24/10 lalu. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Komnas Perempuan bekerjasama dengan Jaringan Perempuan Eksplorasi Hak Internet dan Seksualitas tersebut, terungkap berbagai pengalaman kekerasan terhadap perempuan di internet. Penipuan sampai pelecehan seksual terjadi di internet tanpa ada ‘polisi’ yang mengawasi dan menindak tegas pelakunya.

Kejahatan di dunia maya sering kali terorganisasi sehingga sulit dilacak. Lebih parah lagi, kejahatan di dunia maya meretas batas-batas negara. Hal ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di negara lain. Korban kejahatan ini sudah banyak berjatuhan.

Sebuah media memberitakan, bahwa belum lama ini pihak kepolisian berhasil mengungkap kejahatan yang menawarkan perempuan secara online. Yang memprihatinkan, kejahatan ini baru terungkap setelah dua tahun beroperasi dengan korban lebih dari 2.000 perempuan dengan beragam pendidikan dan profesi. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun.

Bolehkah Muslimah Menggunakan Internet?

Islam adalah agama yang mengharamkan pemeluknya mengikuti langkah-langkah setan. Islam juga mengharamkan segala sarana yang dapat menjerumuskan kepada keharaman, meskipun pada asalnya sarana tersebut adalah mubah. Inilah yang disebut oleh ulama sebagai qa’idah saddu adz-dzara–i’ (menutup pintu kerusakan). Allah subhanahu wa ta’alaberfirman,

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ وَمَن يَتَّبِعۡ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِ فَإِنَّهُۥ يَأۡمُرُ بِٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۚ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ مَا زَكَىٰ مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ أَبَدٗا وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يُزَكِّي مَن يَشَآءُۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٞ ٢١

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalianmengikuti langkah-langkah setan. Barang siapa mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kalian, niscaya tidak ada seorang pun dari kalian yang bersih (dari perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (an-Nur: 21)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَلَا تَسُبُّواْ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ فَيَسُبُّواْ ٱللَّهَ عَدۡوَۢا بِغَيۡرِ عِلۡمٖ

“Janganlah kalian memaki sesembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan….”(al-An’am: 108)

Di antara dampak negatif keterlibatan perempuan di dunia internet adalah godaan kaum laki-laki terhadapnya sehingga hatinya terpengaruh, demikian pula sebaliknya. Apalagi, perempuan itu lemah, cepat terpengaruh oleh kata-kata yang mengandung sanjungan dan pujian.

Oleh karena itu, perempuan tidak boleh melibatkan diri pada situs atau blog milik laki-laki jika merasakan adanya godaan/gangguan. Setan senantiasa menyamarkan sesuatu di hadapan manusia, membuka pintu menuju kemaksiatan, dan mencampuradukkan hal-hal yang disyariatkan dengan yang tidak, hal-hal yang hak dengan yang batil.

Maka dari itu, obrolan antara laki-laki dan perempuan, baik dengan suara maupun tulisan, pada dasarnya adalah hal yang mubah, tetapi terkadang menjadi sebab terperangkapnya mereka dalam jerat-jerat setan.

Perempuan yang mengetahui kelemahan dirinya dan khawatir jatuh ke dalam perangkap setan wajib menahan dan menyelamatkan dirinya. Adapun yang memiliki kekuatan dan kekokohan, boleh melakukannya dengan beberapa syarat:

Tidak memperbanyak pembicaraan di luar topik yang dipermasalahkan atau selain dakwah IslamTidak melembutkan suara dan tidak menggunakan ungkapan yang cenderung lembekTidak menanyakan privasi, alamat e-mail, alamat rumah, dan lain-lain yang tidak ada hubungannya dengan pembahasanSegera menghentikan dan menahan pembicaraan apabila hati mulai merasakan getaran syahwat.

Perempuan boleh ikut serta dalam blog atau situs yang bersifat umum apabila terikat dengan ketentuan berikut.

Keterlibatannya hanya sebatas keperluan. Dia meletakkan inti masalahnya, kemudian keluar tanpa perlu memberikan komentar selain yang memang harus. Sebab, hukum asalnya adalah menjaga pembicaraan dengan laki-laki dan tidak bercampur baur dengannya.Dia tidak boleh mengucapkan kata-kata yang dapat menimbulkan godaan/gangguan, seperti bercanda, ucapan yang lembut, tertawa, atau menggunakan smiley yang menggambarkan orang sedang tersenyum. Semua itu akan membuat tamak orang yang hatinya berpenyakit. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَٰنِسَآءَ ٱلنَّبِيِّ لَسۡتُنَّ كَأَحَدٖ مِّنَ ٱلنِّسَآءِ إِنِ ٱتَّقَيۡتُنَّۚ فَلَا تَخۡضَعۡنَ بِٱلۡقَوۡلِ فَيَطۡمَعَ ٱلَّذِي فِي قَلۡبِهِۦ مَرَضٞ وَقُلۡنَ قَوۡلٗا مَّعۡرُوفٗا ٣٢

“Hai istri-istri Nabi, kalian tidaklah seperti perempuan yang lain jika kalian bertakwa. Maka dari itu, janganlah kalian tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al-Ahzab: 32)

Dia harus menghindari pemberian alamat e-mailkepada laki-laki walaupun dengan tujuan meminta bantuan. Sebab, hal ini dapat menyebabkan terikatnya hati dan timbulnya godaan.Yang lebih utama dan lebih baik adalah perempuan hanya melibatkan diri atau mengunjungi blog-blog yang khusus dimiliki oleh perempuan. Ini lebih selamat baginya. Jika ada kebutuhan untuk ikut serta dalam situs atau blog yang sifatnya umum, alangkah baik jika ia memilih nama atau identitas yang tidak menunjukkan perempuan.

Bolehkah Muslimah Menjadi Pengelola Situs yang Bersifat Umum?

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Pada dasarnya, laki-laki dan perempuan sama dalam hal hukum, kecuali jika ada dalil yang membedakannya, seperti tanggung jawab yang bersifat umum menyangkut kepemimpinan, kehakiman, dan sejenisnya yang menjadi kekhususan kaum laki-laki.

Akan tetapi, terkadang perempuan juga memikul tanggung jawab dalam hal kepemimpinan yang wilayahnya terbatas, seperti ketika melakukan perjalanan dengan rombongan sesama perempuan, mengepalai lembaga pendidikan khusus perempuan, dan semisalnya.” (asy-Syarhul Mumti’ 3/218)

Dalam al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah disebutkan, di antara kepemimpinan dan tanggung jawab yang boleh dipikulkan kepada kaum perempuan adalah persaksian, wasiat, dan penjagaan wakaf.

Ibnu ‘Abidin berkata, “Perempuan boleh memikul tanggung jawab dalam hal menjaga wakaf, wasiat kepada anak yatim, dan menjadi saksi.”

Ibnu Taimiyah dan al-Qadhi Abu Ya’la al-Hambali berpendapat bahwa perempuan memikul tanggung jawab terhadap harta anaknya yang yatim sepeninggal ayah dan kakeknya.

Ada riwayat dari Umar a, beliau berwasiat kepada Hafshah agar bertanggung jawab terhadap wakaf sepeninggal beliau. (Fathul Bari, syarah [penjelasan] hadits no. 2772)

Alhasil, seorang muslimah boleh mengelola dan bertanggung jawab terhadap blog pribadinya atau situs-situs yang bersifat umum, karena hal itu termasuk domain khusus yang dapat dipikulnya, terlebih lagi kalau blog dan situs tersebut pengunjungnya hanya kaum perempuan.

Adapun jika blog dan situs itu terbuka untuk umum, pengunjungnya laki-laki dan perempuan, ini membutuhkan sebuah kehati-hatian dan melihat keadaan si pengelola. Artinya, kalau pekerjaan ini menyebabkan dirinya selalu berhubungan dengan laki-laki, bersama dengannya, dan selalu meminta pendapatnya meskipun lewat telepon atau chattingatau melalui instant messenger (Yahoo Messenger, Window Live Messenger), yang seharusnya dilakukan adalah menutup pintu godaan. Seorang muslimah hendaknya menjauhi hal ini demi menjaga agamanya.

Betapa banyak kerusakan dan petaka yang menimpa seorang muslimah karena hal ini, padahal awalnya bisa jadi terbebas dari kejelekan dan kerusakan. Karena itu, Islam menutup setiap jalan dan pintu yang dapat menimbulkan godaan, gangguan, dan kerusakan semaksimal mungkin.

Wallahu a’lam.

Sumber: [www.qonitah.com]
Share:

Selasa, 17 Oktober 2017

Syeikh Muhammad Nafis Al-banjari Sufi Dari Kalimantan


Dalam deretan ulama Banjar, nama Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari tak kalah masyhur dibanding Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Kalau Muhammad Arsyad dikenal sebagai ahli syariat, maka Muhammad Nafis dikenal sebagai pakar ilmu kalam dan tasawuf. Dengan keilmuannya, ia berhasil menorehkan prestasi sebagai salah seorang ulama terkemuka Nusantara.

Dialah pengarang “Durr Al-Nafis”, kitab berbahasa Jawi yang dicetak berulang-ulang di Timur Tengah dan Nusantara, yang masih dibaca sampai sekarang. Dia berada dalam urutan kedua setelah Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari segi pengaruhnya atas kaum muslimin di Kalimantan. Apa yang yang harus dilakukan kaum muslimin agar memperoleh kemajuan dalam hidup? Mengapa Belanda melarang kitabnya beredar di Indonesia?

Syeikh Muhammad Nafis al-Banjari bin Idris bin Husien, lahir sekitar tahun 1148 H/1735 M,di Kota Martapura Kalimantan Selatan, dari keluarga bangsawan atau kesultanan Banjar, silsilah dan keturunanya bersambung hingga Sultan Suriansyah (1527-1545 M.) Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam sebelumnya bernama Pangeran Samudera.

Silsilah lengkapnya adalah: Muhammad Nafis bin Idris bin Husien bin Ratu Kasuma Yoeda bin Pangeran Kesuma Negara bin Pangeran Dipati bin Sultan Tahlillah bin Sultan Saidullah bin Sultan Inayatullah bin Sultan Mustain Billah bin Sultan Hidayatullah bin Sultan Rahmatullah bin Sultan Suriansyah. Muhammad Nafis hidup pada periode sama dengan Syeikh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Jika Arsyad meninggal tahun 1227/1812, Nafis belum diketahui tahun wafatnya. Yang kita ketahui, peristirahatan terakhir beliau di Mahar Kuning Desa Bintaru, sekarang menjadi bagian Kelua Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan, sekitar 125 kilometer dari Banjarmasin. Tidak ada catatan pasti tahun pergi menuntut ilmu ke tanah suci Makkah. Diperkirakan ia pergi menimba ilmu pada usia dini sangat muda, sesudah mendapat pendidikan dasar-dasar agama Islam di kota kelahirannya Martapura.

Sebagian ahli berpendapat, masa belajar Muhammad Nafis tak jauh dari masa Muhammad Arsyad al-Banjari. Bahkan, para masyasyikh-nya juga kebanyakan sama, yakni Muhammad bin Abdul Karim al-Samman al-Madani, Muhammad al-Jauhari, Abdullah bin Hijazi al-Syarqawi al-Mishry (syekh al-Azhar sejak 1207 H/ 1794 M), Muhammad Shiddiq bin Umar Khan (murid al-Sammani) dan Abdurrahman bin Abdul Aziz al-Maghribi.

Dari para gurunya itu, Muhammad Nafis banyak belajar tasawuf. Sekian lama ia mematangkan pengetahuan dan lelaku tasawufnya sampai ia diberi gelar kehormatan “Syekh Mursyid.” Dengan gelar itu, ia beroleh ijazah untuk mengajarkan dan membimbing ilmu tasawuf kepada orang lain. Pencapaian itu tentunya tak mudah dan instan, tapi membutuhkan waktu latihan dan perenungan yang sangat lama.

Sekian lama berada di Mekkah, ia akhirnya kembali ke Nusantara, diperkirakan pada 1210 H/1795. Saat itu, yang memerintah di Banjar adalah Sultan Tahmidillah (Raja Islam Banjar XVI, 1778-1808 M). Tapi, karena Nafis tak suka dekat dengan kekuasaan, ia memilih meninggalkan Banjar dan berhijrah ke Pakulat, Kelua, sebuah daerah yang terletak sekitar 125 km dari Banjarmasin. Alasan lain adalah perkembangan Islam di daerah sekitar Martapura dan Banjar sudah ditangani oleh Syekh Muhammad Arsyad.

Sedang daerah Kelua, termasuk daerah pedalaman, masih belum terjangkau oleh dakwah Islamiyah ulama Banjar. Dengan gigih, Muhammad Nafis mengenalkan Islam di sana. Berkat kegigihannya, daerah itu kemudian menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Kalimantan Selatan. Juga menjadi daerah yang turut melahirkan para pejuang anti-Belanda.

Dalam berdakwah, Muhammad Nafis dikenal sebagai sosok pengembang tasawuf yang andal. Meski di Banjar saat itu terjadi pertentangan antara kubu Muhammad Arsyad dengan Syekh Abdul Hamid Abulung yang didakwa sebagai pengembang wujudiyyah, dakwah tasawuf ala Muhammad Nafis berlangsung dengan lancar dan damai. Ini tak lepas dari corak tasawuf yang diusungnya, yakni “merukunkan” tasawuf sunni dan falsafi yang diposisikan secara diametral.

Ia juga tampak tak terikat dengan satu tarekat secara total. Shingga, menurut pengakuannya sendiri, ia adalah pengikut tarekat Qadariyah, Syathariyah, Naqsabandiyah, Khalwatiyah, dan Sammaniyah. Keikutsertaan Muhammad Nafis dalam ragam tarekat Mu’tabarah itu seolah menunjukkan bahwa suluk menuju Tuhan bisa dilakukan lewat berbagai jalan, tak hanya mengandalkan satu jalan saja. Juga menunjukkan betapa pengetahuan tasawuf Muhammad Nafis sangatlah mendalam.

Ciri khas ajaran tasawuf Muhammad Nafis adalah semangat aktivisme yang kuat, bukan sikap pasrah. Ia dengan gamblang menekankan transendensi mutlak dan keesaan Tuhan sembari menolak determinisme fatalistik yang bertentangan dengan kehendak bebas. Menurutnya, kaum muslim harus aktif berjuang mencapai kehidupan yang lebih baik, bukan hanya berdiam diri dan pasrah pada nasib.

Sebab itulah, ajaran tasawuf ala Muhammad Nafis turut membangkitkan semangat masyarakat Banjar untuk berjuang lepas dari penjajah. Malah, konon, setelah membaca kitab karangannya, orang menjadi tak takut mati. Situasi ini jelas membahayakan Belanda karena akan mengobarkan jihad. Tak heran kalau kemudian berbagai intrik dilakukan oleh Belanda untuk menghentikan ajaran Muhammad Nafis, mulai dari kontroversi ajaran sampai pelarangan. Namun, dakwah Muhammad Nafis terus berlanjut sampai ia wafat.

ISLAM DI KALIMANTAN

Bebeda dengan Muhammad Arsyad yang menjadi perintis pusat pendidikan Islam, Muhammad Nafis mencemplungkan dirinya dalam usaha penyebarluasan Islam di wilayah pedalaman Kalimantan. Dia memerankan dirinya sebagai ulama sufi kelana yang khas, keluar-masuk hutan menyebarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Dan oleh karena itu beliau memainkan peranan penting dalam mengembangkan Islam di Kalimantan.

Islam masuk Kalimantan Selatan lebih belakangan ketimbang misalnya, Sumatera Utara dan Aceh. Seperti diungkapkan Azra, diperkirakan pada awal abad ke-16 sudah ada sejumlah muslim di sini, tetapi Islam baru mencapai momentumnya setelah pasukan Kesultanan Demak datang ke Banjarmasin untuk membantu Pangeran Samudra dalam perjuangannya melawan kalangan elite di Kerajaan Daha. Setelah kemenangannya, Pangeran Samudra beralih memeluk Islam pada sekitar tahun 936/1526, dan diangkat sebagai sultan pertama di Kesultanan Banjar. Dia diberi gelar Sultan Suriansyah atau Surian Allah oleh seorang da’i Arab.

Dengan berdirinya Kesultanan Banjar, otomatis Islam dianggap sebagai agama resmi negara. Namun demikian, kaum muslimin hanya merupakan kelompok minoritas di kalangan penduduk. Para pemeluk Islam, umumnya hanya terbatas pada orang-orang Melayu. Islam hanya mampu masuk secara sangat perlahan di kalangan suku Dayak. Bahkan di kalangan kaum Muslim Melayu, kepatuhan kepada ajaran Islam boleh dibilang minim dan tidak lebih dari sekadar pengucapan dua kalimah syahadat. Di bawah para sultan yang turun-temurun hingga masa Muhammad Arsyad dan Muhammad Nafis, tidak ada upaya yang serius dari kalangan istana untuk menyebarluaskan Islam secara intensif di kalangan penduduk Kalimantan. Karena itu, tidak berlebih jika Muhammad Nafis dan terlebih Muhammad Arsyad Al-Banjari merupakan tokoh penting dalam proses Islamisasi lebih lanjut di Kalimantan. Dua orang ini pula yang memperkenalkan gagasan-gagasan keagamaan baru di Kalimantan Selatan.

DAYA SPIRITUAL DAN KEWAJIBAN SYARIAT

Tak banyak karya yang ditinggalkannya. Namun, karya-karyanya senantiasa menjadi rujukan, tak hanya bagi kaum muslim Nusantara, tapi juga mancanegara. Di antara kitabnya adalah al-Durr al-Nafs. Nama kitab “Durr Al-Nafis” sesungguhnya amatlah panjang. Lengkapnya, kitab yang ditulis di Makkah pada 1200/1785 ini: “Durr Al-Nafis fi Bayan Wahdat Al-Af’al Al-Asma’ wa Al-Shifat wa Al-Dzat Al-Taqdis”. Kitab ini berkali-kali dicetak di Kairo oleh Dar Al-Thaba’ah (1347/192 8)dan oleh Musthafa Al-Halabi (1362/1943), di Makkah oleh Mathba’at Al-Karim Al-Islamiyah (1323/1905), dan di berbagai tempat di Nusantara. Kitab ini menggunakan bahasa Jawi, sehingga dapat dibaca oleh orang-orang yang tidak faham bahasa Arab.

Seperti diungkapkan Azyumardi Azra, dalam kitabnya itu, Muhammad Nafis dengan sadar berusaha mendamaikan tradisi Al-Ghazali dan tradisi Ibn ‘Arabi. Dalam karyanya ini, di samping menggunakan ajaran-ajaran lisan dari para gurunya, Nafis merujuk pada karya-karya “Futuhat Al-Makkiyah” dan “Fusushl-Hikam” dari Ibn ‘Arabi, “Hikam” (Ibn Atha’illah), “Insan Al-Kamil” (Al-Jilli), “Ihya’ ‘Ulumiddin” dan “Minhaj Al-‘Abidin (Al-Ghazali), “Risalat Al-Qusyairiyyah” (Al-Qusyairi), “Jawahir wa Al-Durar” (Al-Sya’rani), “Mukhtashar Al-Tuhfat al-Mursalah” (‘Abdullah bin Ibrahim Al-Murghani), dan “Manhat Al-Muhaammadiyah” karya Al-Sammani.

Kitab itu membicarakan sufisme dan tauhid, menjelaskan maqam-maqam perjalanan (suluk) untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Al-Durr al-Nafs ditulis atas permintaan sahabat-sahabatnya ketika berada di Mekkah. Menurut penuturannya, ia menulis kitab itu untuk menyelamatkan para salik (perambah jalan Tuhan) dari syirik khafi dan penyakit riya’ yang umum menghinggapi umat muslim. Kitab itu ditulis dalam bahasa Melayu Arab untuk memudahkan umat membaca dan memahaminya. Karena mutu dan ajarannya yang tinggi, kitab itu dicetak berkali-kali, baik di dalam maupun luar negeri.

Sebagai penganjur aktivisme-sufistik, kontribusi Muhammad Nafis al-Banjari dalam membangun Islam di Banjar sangatlah besar. Tak aneh kalau kemudian ia diberi gelar Maulana al-Allamah al-Fahhamah al-Mursyid ila Tariq as-Salamah (Yang mulia, berilmu tinggi, terhormat, pembimbing ke jalan kebenaran) sebagai bentuk penghormatan masyarakat atas jasa-jasanya. Menimbang pencapaian dan prestasinya, gelar itu memang tak berlebihan baginya.

Bagi generasi muda masa kini, kita berharap saatnya untuk mengenang kembali, kemudian menghargai dan meneruskan cita-cita dan perjuangan Muhammad Nafis al-Banjari dalam konteks kekinian. Selain itu, menelusuri jejak-jejak sejarah beliau mampu merekatkan kembali jalinan psikologis dan spiritual dari sang ulama tersebut. Dari peran beliau kita dapat mengetahui akar-akar pemikiran, akar-akar perjuangan, serta pengaruh yang muncul dalam fenomena kebangsaan kita. Sehingga paparan ini dapat memberikan gambaran utuh mata rantai perjuangan tokoh-tokoh Islam dulu, kini dan esok.

Gambaran tersebut akan sangat berarti bagi individu-individu yang ingin mempelajari dan menelaah kembali jaringan ulama Kalimantan yang mempersembahkan dedikasi dan loyalitasnya untuk pembangunan bangsa.

KARYA

Karya beliau yang terkenal ialah ad-Durr an-Nafis. Kitab tersebut selesai ditulis pada 27 Muharam 1200 H/30 November 1785 M. Cetakan pertama kitab ini ditashhih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani, di Mathba'ah al-Miriyah bi Bulaq, Mesir al-Mahmiyah. Pada terbitan pertama tercantum syair Syeikh Ahmad al-Fathani:

"Berpeganglah kamu dengan ilmu orang sufi,
NIscaya kamu menyaksikan bagi Tuhanmu itu keesaan.
Wahai yang meninggalkan sebaik-baik teman sekedudukan,
Adalah kitab ini mengandung maksud keseluruhan,
Seperti lautan,
daripadanya tiap-tiap yang berharga penilaian''.

Sebagai keterangan lanjut Syeikh Ahmad al-Fathani mencatatkan, ``Ketahui olehmu hai yang waqif atas kitab ini. Bahawa segala naskhah kitab ini sangatlah bersalah-salahan setengah dengan setengahnya, dan tiada hamba ketahuikan mana-mana yang muafakat dengan asal naskhah Muallifnya. Maka hamba ikutkan pada naskhah yang hamba cap ini akan barang yang terlebih elok dan munasabah. Dan tiada hamba kurangkan daripada salah suatu daripada beberapa naskhah itu akan sesuatu kerana ihtiyat''.

Ad-Durr an-Nafis cetakan pertama Syeikh Ahmad al-Fathani telah memberi keterangan beberapa istilah seperti terdapat pada kalimat-kalimat: 1. ``... maka hendaklah lihat olehmu kepada Abi Bakar, iaitu ibarat daripada mati nafsu yang ammarah ...''. Syeikh Ahmad al-Fathani menjelaskan, bahawa nafsu ammarah, ialah ``nafsu yang cenderung kepada kejahatan''.

2. ``Bermula hasilnya segala wujud sesuatu itu dengan dinisbahkan kepada wujud Allah Taala yang haqiqi itu khayal, dan waham, dan majaz jua, kerana wujudnya antara dua `adam Bermula wujud yang antara dua `adam itu `adam jua adanya ...''. Keterangan Syeikh Ahmad al-Fathani, ``Dua `adam, ertinya `adam lahiq dan `adam sabiq. Pengertian `adam lahiq, ialah tiada yang mengikut. Pengertian `adam sabiq, ialah tiada yang mendahului''.

3. ``Dan pada sekira-kira zahir mumkin itu lain daripada Allah Taala. Dan sekira-kira haqiqatnya wujud mumkin itu, iaitu `ain wujud Allah Taala. Dan misalnya seperti buih dan ombak...''. Keterangan Syeikh Ahmad al-Fathani, ``Katanya, ``Dan pada sekira-kira zahir dan pada sekira-kira haqiqat ...'', maka kedua (-dua) itu `athaf. Katanya, ``Pada sekira-kira wujud, dan dhamir pada haqiqatnya dan dhamir pada nyatanya. Kedua (-dua) itu kembali kepada buih, dan dhamir daripadanya itu kembali kepada air''.

4. Syeikh Ahmad al-Fathani menjelaskan istilah ma'iyah, kata beliau, ``Yakni berserta: a. ittihad = bersuatu. b. hulul = bertempat. c. khayal, yakni apabila kita lihat jauh ada sesuatu, dan kita lihat dekat tiada ada, seperti alung-alung di tengah jalan Madinah''. Ad-Durr an- Nafis setelah cetakan pertama oleh Matba'ah al-Miriyah di Bulaq, Mesir tahun 1302 H/1884 M yang diusahakan dan ditashhih oleh Syeikh Ahmad al-Fathani itu terdapat berbagai-bagai edisi. [madinatuliman.com]
Share:

Jumat, 13 Oktober 2017

Nasehat Habib Luthfi Bin Yahya Tentang Jodoh Dan Pernikahan


Rahmat turun karena sebab ikhtiar. Contoh: sakinah, mawaddah dan rahmah akan muncul jika seseorang sudah ikhtiar untuk menikah. Yang Allah Swt. perintahkan kepada kita adalah memilih suami yang shaleh atau istri yang shalehah. Sebisa mungkin, taatilah perintah tersebut tanpa berpikir sampai kapan jodoh kita itu bertahan.

Banyak sekali kriteria yang dipilih seseorang (misalkan kecantikan, kegantengan, pangkat harta, dll.) tapi pilihlah pasangan yang memiliki kualitas bagus dalam hal ibadah dan akhlak. Sedangkan masalah harta itu nomor tiga. Rasulullah Saw. menjamin kalau seseorang mendahulukan hal demikian, kelak kehidupan suami akan mudah, ringan, lapang dan tanpa beban (fadzfar bidzatiddin taribat yadaka).

Perlu diketahui, rahmat Allah Swt. itu tidak akan datang tanpa usaha dari anggota keluarga dan keshalehan anggotalah yang diperlukan dalam mangarungi gelombang kehidupan rumah tangga. Sedangkan aktifitas lainnya (semisal seks) itu hanyalah sarana pelengkap saja. Jadi keshalehan para anggota keluargalah yang dibutuhkan dalam mengarungi gelombang kehidupan.

Syarat utama dalam membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah itu adalah seorang suami sudah siap menjadi bapak sebelum menjadi bapak, sedangkan istri sudah siap menjadi ibu sebelum menjadi ibu. Oleh karena itu, bagi seorang lelaki carilah wanita yang sudah tampak jiwa keibuannya, begitu juga dengan wanita carilah lelaki yang berjiwa kebapakan.

Masalah jodoh itu saya ibaratkan dengan buah. Buah itu akan masak kalau sudah tiba waktunya. Kalau buah belum masak, rasanya akan masam. Dan kalau masam, mungkin buahnya tidak akan termakan. Sebab selain bergetah, buah yang belum masak dapat membuat sakit perut. Jadi menunggu jodoh tiba itu ibarat kita menunggu buah yang akan masak, nanti akan tiba sendiri. Kita tidak boleh berperasangka buruk, misalnya “kok jodohku lambat” tapi kembalikan semuanya pada Allah Swt. Sebab Allah lah yang menentukan jodoh kita. Jodoh yang ditentukan oleh Allah Swt. itu kelak akan datang kepada kita. Allah lah yang mengatur jodoh kita. Kita juga tidak boleh berperasangka buruk dan menyalahkan orang lain. Yang penting, jangan berputus asa memohon kepada Allah (berdoa).

Saya sarankan bagi yang belum menikah, sebaiknya pelajari dulu apa itu pengertian sakinah, mawaddah dan rahmah. Persiapkan mulai sekarang bagaimana cara menjadi orangtua yang baik. Sebab kelak perilaku anak itu kurang lebihnya akan meniru perilaku orangtuanya. Jangan pontang-panting minta anak shaleh-shalehah setelah jabang bayi lahir. Tapi mintalah mulai sekarang, mintalah secara istiqamah kepada Allah Swt. agar kelak dikasih pasangan yang shaleh-shalehah serta diberikan anak yang shaleh-shalehah pula yang mampu menjawab tantangan bangsa dan negara.

Untuk pemudi, paling penting kriteria calon suami itu; semangat bekerja, bertanggungjawab, tidak meninggalkan shalat 5 waktu, dan mau mendekati ulama dan orang-orang shaleh. Insyaallah akan membawa kebaikan baik duniawi maupun ukhrawi. Yang masih single semoga segera mendapat jodoh, yang membawa maslahat dunia dan akhirat.

Oleh: Maulana Habib Muhammad Luthfi bin Yahya via [Muslimedia News - MMN]
Share:

Kamis, 12 Oktober 2017

Tips Mendidik Anak Agar Majadi Anak Yang Shaleh


Anak adalah harta yang tidak ternilai oleh apapun. Dia ibarat titipan paling indah yang diberikan Allah kepada orang tuanya. Pada masa depannya lah terletak harapan serta kebahagiaan para orang tua.

Dijaman modern seperti sekarang ini, adalah sebuah keharusan bagi orang tua untuk mengajarkan anak- anak mereka tentang pentingnya akidah yang lurus. Hal ini penting untuk dilakukan, mengingat banyaknya pengaruh diluaran yang bisa membentuk karakter anak- anak kita. Maka sebagai orang tua, kita harus tahu bagaimana cara mengarahkan mereka, agar kelak mereka menjadi anak- anak yang sholeh. Berikut beberapa tips mendidik anak agar menjadi sholeh, Inshaallah.

1. SHOLEHKAN DIRI SHOLEKAN ANAK

“Buah jatuh tak jauh dari pohonnya”, perumpamaan ini pas sekali untuk menggambarkan, bahwa sedikit banyak anak adalah cerminan dari kedua orang tuanya. Karena itulah, sebelum kita memiliki cita- cita untuk mendapatkan anak sholeh, memang sebaiknya para orang tua mensholehkan diri mereka. Orang tua juga selayaknya melengkapi diri dengan berbagai ilmu, agar dapat digunakan dalam pengasuhan anak. Ketika anak dibekali oleh bangunan keagamaan yang baik, hal ini akan menciptakan langkah antisipasif terhadap bencana kebobrokan akhlak anak dimasa depan. Jadi sekedar memerintahkan anak untuk berbuat, tidaklah cukup membentuk karakter dan pribadi yang sholeh pada diri mereka. Orang tua juga harus sanggup untuk memberikan tauladan dalam hal berbuat baik.

2. ORANG TUAKU TAULADANKU

“Like father, like son”, ungkapan ini mungkin sudah sering kita dengar untuk menjelaskan bahwa memang anak adalah plagiator ulung. Setiap tindak tanduk orang tua yang tertangkap oleh mata anak- anak mereka, tidak akan hilang begitu saja. Memori anak yang kuat akan terus merekam. Jika seorang anak sering berkata kasar, bisa jadi karena dia juga sering mendapat perkataan seperti itu dari orang tuanya. Atau mungkin karena si anak seringkali melihat adegan pertengkaran yang dipertontonkan orang tua mereka dirumah. Jika hal ini dibiarkan setiap hari, lama-lama sikap tersebut akan diimitasi, diinternalisasi dan dihabitasi dalam kehidupan anak tersebut.

3. UKIR MASADEPAN ANAKMU DENGAN ILMU

Mengajarkan ilmu kepada anak, ibarat mengukir diatas batu. Ilmu apapun yang orang tua berikan kepada anak akan dengan mudah terserap. Ini tidaklah mengherankan, karena ketika anak dilahirkan mereka memiliki 100 miliar neuron di otaknya. Jika diumpamakan satu unit komputer memiliki 100 neuron (jaringan) maka otak anak akan sama dengan 1 miliar unit komputer. Karena itulah, anak-anak memiliki karakteristik ingatan yang kuat. Maka, disinilah waktu yang tepat untuk para orang tua untuk mengajarkan mereka tentang akidah yang benar, namun tetap dengan bahasa yang mereka bisa pahami.

4. PERHATIKAN LINGKUNGAN ANAK-ANAK KITA

"Sesungguhnya perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Seorang penjual minyak wangi bisa memberimu atau kamu membeli darinya, atau kamu bisa mendapatkan wanginya. Dan seorang pandai besi bisa membuat pakaianmu terbakar, atau kamu mendapat baunya yang tidak sedap." (HR. Bukhari Muslim). Itulah pesan Rasulullah yang mulia, agar kita berhati- hati dalam memilih teman, serta peka terhadap pengaruh yang berasal dari lingkungan sekitar kita. hal yang sama juga berlaku bagi anak- anak kita. Mereka yang polos kadang belum mengerti tentang bagaimana mereka harus berteman. Maka disinilah tantangan bagi orang tua untuk kemudian "menyelamatkan" anak mereka dari pengaruh buruk yang akan membentuk kepribadiannya dimasa depan.

5. SABAR, IKHLAS, DAN DOA

Kesabaran adalah hal mutlak harus dimiliki orang tua. Hal ini karena dalam rentang proses mendidik anak, kadang kita menemui hal- hal yang kurang berkenan. Contohnya, anak bersikap bandel dan tidak mau dinasehati. Ketika berada dalam keadaan seperti ini, sebaiknya orang tua menghindarkan diri dari caci maki dan kemarahan yang hanya akan membuat mereka semakin menjauh. Ketika emosi sudah mulai memuncak, orang tua harus pandai dalam menguasai diri, katakan pada diri bahwa toh mereka masih anak- anak, yang mungkin belum sepenuhnya mengerti tentang sebuah akibat. Kitapun pernah pada usia mereka, dan pastilah saat itu kita pun tidak ingin dibenarkan dengan cara yang kasar. Selain itu, orang tua juga harus belajar tentang keikhlasan. Ridho allah adalah tujuan terbaik, dan jalan menggapainya adalah dengan ikhlas.  Keikhlasan hati orang tua akan membuat apa yang mereka sampaikan mudah diserap dan dipahami anak. Dan yang tidak kalah penting, adalah dengan terus mendoakan mereka, supaya selalu berada dijalan Allah, dan kelak menjadi generasi islami yang membanggakan. 

Sumber: [ Syahidah/voa-islam.com ]
Share:

Tokoh Islam

Hikmah

Islamia

Muslimah