• Dzikir Pagi Dan Petang

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Dzikir Mejelang Tidur

    Siapa yang membaca ayat Kursi saat hendak tidur, maka sesungguhnya dia selalu berada dalam perlindungan Allah dan tidak didekati setan hingga pagi hari.

  • Bacaan Setelah Bangun Tidur

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Dzikir Setelah Shalat Fardlu

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Bacaan Shalat Tahajud

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 April 2018

Kisah Panglima Perang Yang Dipecat Karena Tidak Pernah Berbuat Kesalahan

Pada zaman pemerintahan Khalifah Umar bin Khatab, ada seorang panglima perang yang disegani lawan dan dicintai kawan. Panglima perang yang tak pernah kalah sepanjang karirnya memimpin tentara di medan perang. Baik pada saat beliau masih menjadi panglima Quraish, maupun setelah beliau masuk Islam dan menjadi panglima perang umat muslim. Beliau adalah Jenderal Khalid bin Walid.

Namanya harum dimana-mana. Semua orang memujinya dan mengelu-elukannya. Kemana beliau pergi selalu disambut dengan teriakan, "Hidup Khalid, hidup Jenderal, hidup Panglima Perang, hidup Pedang Allah yang Terhunus." Ya!.. beliau mendapat gelar langsung dari Rasulullah shalallaahu 'alaihi wasallam yang menyebutnya sebagai "Pedang Allah yang Terhunus".

Dalam suatu peperangan beliau pernah mengalahkan pasukan tentara Byzantium dengan jumlah pasukan 240.000. Padahal pasukan muslim yang dipimpinnya saat itu hanya berjumlah 46.000 orang. Dengan kejeliannya mengatur strategi, pertempuran itu bisa dimenangkannya dengan mudah. Pasukan musuh lari terbirit-birit.

Itulah Khalid bin Walid, beliau bahkan tak gentar sedikitpun menghadapi lawan yang jauh lebih banyak.

Ada satu kisah menarik dari Khalid bin Walid. Dia memang sangat sempurna di bidangnya; ahli siasat perang, mahir segala senjata, piawai dalam berkuda, dan karismatik di tengah prajuritnya. Dia juga tidak sombong dan lapang dada walaupun dia berada dalam puncak popularitas.

Pada suatu ketika, di saat beliau sedang berada di garis depan, memimpin peperangan, tiba-tiba datang seorang utusan dari Amirul mukminin, Syaidina Umar bin Khatab, yang mengantarkan sebuah surat. Di dalam surat tersebut tertulis pesan singkat, "Dengan ini saya nyatakan Jenderal Khalid bin Walid di pecat sebagai panglima perang. Segera menghadap"

Menerima khabar tersebut tentu saja sang jenderal sangat gusar hingga tak bisa tidur. Beliau terus-menerus memikirkan alasan pemecatannya. Kesalahan apa yang telah saya lakukan? Kira-kira begitulah yang berkecamuk di dalam pikiran beliau kala itu.

Sebagai prajurit yang baik, taat pada atasan, beliaupun segera bersiap menghadap Khalifah Umar Bin Khatab. Sebelum berangkat beliau menyerahkan komando perang kepada penggantinya.

Sesampai di depan Umar beliau memberikan salam, "Assalamualaikum ya Amirul mukminin! Langsung saja! Saya menerima surat pemecatan. Apa betul saya di pecat?"

"Waalaikumsalam warahmatullah! Betul Khalid!" Jawab Khalifah.

"Kalau masalah dipecat itu hak Anda sebagai pemimpin. Tapi, kalau boleh tahu, kesalahan saya apa?"

"Kamu tidak punya kesalahan."

"Kalau tidak punya kesalahan kenapa saya dipecat? Apa saya tak mampu menjadi panglima?"

"Pada zaman ini kamu adalah panglima terbaik."

"Lalu kenapa saya dipecat?" tanya Jenderal Khalid yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

Dengan tenang Khalifah Umar bin Khatab menjawab, "Khalid, engkau jenderal terbaik, panglima perang terhebat. Ratusan peperangan telah kau pimpin, dan tak pernah satu kalipun kalah. Setiap hari Masyarakat dan prajurit selalu menyanjungmu. Tak pernah saya mendengar orang menjelek-jelekkan. Tapi, ingat Khalid, kau juga adalah manusia biasa. Terlalu banyak orang yang memuji bukan tidak mungkin akan timbul rasa sombong dalam hatimu. Sedangkan Allah sangat membenci orang yang memiliki rasa sombong''.

''Seberat debu rasa sombong di dalam hati maka neraka jahanamlah tempatmu. Karena itu, maafkan aku wahai saudaraku, untuk menjagamu terpaksa saat ini kau saya pecat. Supaya engkau tahu, jangankan di hadapan Allah, di depan Umar saja kau tak bisa berbuat apa-apa!"

Mendengar jawaban itu, Jenderal Khalid tertegun, bergetar, dan goyah. Dan dengan segenap kekuatan yang ada beliau langsung mendekap Khalifah Umar.

Sambil menangis beliau berbisik, "Terima kasih ya Khalifah. Engkau saudaraku!"

Bayangkan.. mengucapkan terima kasih setelah dipecat, padahal beliau tak berbuat kesalahan apapun. Adakah pejabat penting saat ini yang mampu berlaku mulia seperti itu? Yang banyak terjadi justru melakukan perlawanan, mempertahankan jabatan mati-matian, mencari dukungan, mencari teman, mencari pembenaran, atau mencari kesalahan orang lain supaya kesalahannya tertutupi.

Jangankan dipecat dari jabatan yang sangat bergengsi, 'kegagalan' atau keterhambatan dalam perjalanan karir pun seringkali tidak bisa diterima dengan lapang dada. Akhirnya semua disalahkan, sistem disalahkan, orang lain disalahkan, semua digugat.. bahkan hingga yang paling ekstrim.. Tuhan pun digugat..

Kembali ke Khalid bin Walid, hebatnya lagi, setelah dipecat beliau balik lagi ke medan perang. Tapi, tidak lagi sebagai panglima perang. Beliau bertempur sebagai prajurit biasa, sebagai bawahan, dipimpin oleh mantan bawahannya kemarin.

Beberapa orang prajurit terheran-heran melihat mantan panglima yang gagah berani tersebut masih mau ikut ambil bagian dalam peperangan. Padahal sudah dipecat. Lalu, ada diantara mereka yang bertanya, "Ya Jenderal, mengapa Anda masih mau berperang? Padahal Anda sudah dipecat."

Dengan tenang Khalid bin Walid menjawab, "Saya berperang bukan karena jabatan, popularitas, bukan juga karena Khalifah Umar. Saya berperang semata-mata karena mencari keridhaan Allah"

Sebuah cuplikan kisah yang sangat indah dari seorang Jenderal, panglima perang, ''Pedang Allah yang Terhunus''

Sumber Fp: Cerita Para Wali
Share:

Senin, 02 April 2018

Kisah Sayyidina Umar Dan Lelaki Pemabuk Bertaubat Karena Khamer Jadi Cuka

Pada masa kekhalifahan Sayyidina Umar bin Khattab, ada seorang lelaki yang gemar sekali minum khomr (arak). Suatu malam ketika lelaki itu sedang berjalan di sebuah gang di kota Madinah dengan sebotol arak di tangannya. Kemudian ia berjumpa dengan Sayyidina Umar.

"Dia adalah Umar bin Khoththob, apa yang aku katakan kepadanya jika ia bertanya padaku?" ucap lelaki itu dalam hati.

Jantungnya mulai berdebar-debar karena takut ketahuan oleh Sayyidina Umar. Kalau-kalau nanti sampai bertanya apa isi botol yang sedang dipegangnya.

Setiap malam Sayyidina Umar selalu berkeliling kota, mengamati keadaan rakyatnya. Jika Beliau mendapati kemungkaran, beliau segera memberantasnya. Cambuk Sayyidina Umar lebih ditakuti daripada pedangnya Hajjaj. 

Setelah memeras otak lelaki itu pun berkata: "Yaa Allah, jika engkau selamatkan aku dari Umar saat ini, maka aku akan bertobat kepada-Mu."

Lelaki itu pun berpapasan dengan Sayyidina Umar. 

"Apa itu yang kau bawa?" tanya Sayyidina Umar

"Botol" jawab lelaki itu. 

"Apa isi nya?"

"Cuka"

"Bawa kemari!" kata Sayyidina Umar.

Beliau pun meneliti isi botol tersebut. Dan ternyata botol tersebut benar-benar berisi cuka.

Setelah Sayyidina Umar pergi lelaki itu pun bersyukur : "Yaa Allah, betapa seringnya aku bermaksiat kepada-Mu, namun kasih sayang-Mu begitu besar padaku. Mulai saat ini aku benar-benar bertobat kepada-Mu."

Catatan:
Allah SWT mengetahui kesungguhan lelaki itu dan merubah Arak yang ada di dalam botol menjadi cuka. 

Imam Al Ghazali berkata:
"Sebagaimana Allah mampu merubah arak itu menjadi cuka, maka ketahuilah Allah juga Maha Mampu untuk merubah keburukan menjadi kebaikan".

Barang siapa bersungguh-sungguh bertobat kepada Allah SWT, maka keburukan-keburukan yang pernah dilakukan akan di catat sebagai kebaikan oleh Allah. Ini adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada manusia sebagai hamba.

Sumber: [ www.dutaislam.com/ed/pin ]
Share:

Kamis, 22 Maret 2018

Menyesal Saat Sakaratul Maut

Alkisah ada seorang sahabat Nabi bernama Sya’ban RA. Ia adalah seorang sahabat yang tidak menonjol dibandingkan sahabat-sahabat yang lain. Ada suatu kebiasaan unik dari beliau yaitu setiap masuk masjid sebelum sholat berjamaah dimulai dia selalu beritikaf di pojok depan masjid.

Dia mengambil posisi di pojok bukan karena supaya mudah bersandaran atau tidur, namun karena tidak mau mengganggu orang lain dan tak mau terganggu oleh orang lain dalam beribadah. Kebiasaan ini sudah dipahami oleh sahabat bahkan oleh Rosululloh SAW, bahwa Sya’ban RA selalu berada di posisi tersebut termasuk saat sholat berjamaah.

Suatu pagi saat sholat subuh berjamaah akan dimulai Rosululloh SAW mendapati bahwa Sya’ban RA tidak berada di posisinya seperti biasa. Nabi pun bertanya kepada jamaah yang hadir apakah ada yang melihat Sya’ban?. Namun tak seorangpun jamaah yang melihat Sya’ban RA. Sholat subuhpun ditunda sejenak untuk menunggu kehadiran Sya’ban RA. Namun yang ditunggu belum juga datang. Khawatir sholat subuh kesiangan, Nabi memutuskan untuk segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat subuh, Nabi bertanya apa ada yang mengetahui kabar dari Sya’ban RA. Namun tak ada seorangpun yang menjawab.

Nabi bertanya lagi apa ada yang mengetahui di mana rumah Sya’ban?.

Kali ini seorang sahabat mengangkat tangan dan mengatakan bahwa dia mengetahui persis di mana rumah Sya’ban RA. Nabi yang khawatir terjadi sesuatu dengan Sya’ban RA meminta diantarkan ke rumahnya.

Perjalanan dengan jalan kaki cukup lama ditempuh oleh Nabi dan rombongan, sebelum sampai ke rumah yang dimaksud. Rombongan Nabi sampai ke sana saat waktu afdol untuk sholat dhuha (kira-kira 3 jam perjalanan).

Sampai di depan rumah tersebut Nabi SAW mengucapkan salam. Dan keluarlah seorang wanita sambil membalas salam tersebut.

“Benarkah ini rumah Sya'ban?” Nabi bertanya.

“Ya benar, saya istrinya” jawab wanita tersebut.

“Bolehkah kami menemui Sya’ban, yang tadi tidak hadir saat sholat subuh di masjid?”

Dengan berlinangan air mata istri Sya’ban RA menjawab:

“Beliau telah meninggal tadi pagi"

Innalilahi wainna ilaihirojiun… Masya Alloh, satu-satunya penyebab dia tidak sholat subuh berjamaah adalah karena ajal sudah menjemputnya.

Beberapa saat kemudian istri Sya’ban bertanya kepada Rosul SAW

“ Ya Rosul ada sesuatu yang jadi tanda tanya bagi kami semua, yaitu menjelang kematiannya, dia berteriak tiga kali dengan masing-masing teriakan disertai satu kalimat. Kami semua tidak paham apa maksudnya."

“Apa saja kalimat yang diucapkannya?” tanya Rosul.

Di masing-masing teriakannya dia berucap kalimat:

“Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”
“Aduuuh kenapa tidak yang baru……. “
“Aduuuh kenapa tidak semua……”

Nabi pun melantukan ayat yang terdapat dalam surat Qaaf (50) ayat 22:

“Sesungguhnya kamu berada dalam keadaan lalai dari (hal) ini, maka Kami singkapkan dari padamu hijab (yang menutupi) matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.“

Saat Sya’ban dalam keadaan sakaratul maut, perjalanan hidupnya ditayangkan ulang oleh Alloh SWT. Bukan cuma itu saja, semua ganjaran dari perbuatannya diperlihatkan oleh Alloh. Apa yang dilihat oleh Sya’ban (dan orang yang sakratul maut) tidak bisa disaksikan oleh yang lain. Dalam pandangannya yang tajam itu Sya’ban melihat suatu adegan di mana kesehariannya dia pergi pulang ke masjid untuk sholat berjamaah lima waktu.

Perjalanan sekitar 3 jam jalan kaki sudah tentu bukanlah jarak yang dekat. Dalam tayangan itu pula Sya’ban RA diperlihatkan pahala yang diperolehnya dari langkah-langkahnya ke Masjid. Dia melihat seperti apa bentuk surga ganjarannya. Saat melihat itu dia berucap:

“Aduuuh kenapa tidak lebih jauh……”

Timbul penyesalan dalam diri Sya’ban, mengapa rumahnya tidak lebih jauh lagi supaya pahala yang didapatkan lebih banyak dan sorga yang didapatkan lebih indah.

Dalam penggalan berikutnya Sya’ban melihat saat ia akan berangkat sholat berjamaah di musim dingin. Saat ia membuka pintu berhembuslah angin dingin yang menusuk tulang. Dia masuk kembali ke rumahnya dan mengambil satu baju lagi untuk dipakainya. Jadi dia memakai dua buah baju. Sya’ban sengaja memakai pakaian yang bagus (baru) di dalam dan yang jelek (butut) di luar. Pikirnya jika kena debu, sudah tentu yang kena hanyalah baju yang luar. Sampai di masjid dia bisa membuka baju luar dan sholat dengan baju yang lebih bagus.

Dalam perjalanan ke masjid dia menemukan seseorang yang terbaring kedinginan dalam kondisi mengenaskan. Sya’ban pun iba, lalu segera membuka baju yang paling luar dan dipakaikan kepada orang tersebut dan memapahnya untuk bersama-sama ke masjid melakukan sholat berjamaah. Orang itupun terselamatkan dari mati kedinginan dan bahkan sempat melakukan sholat berjamaah.

Sya’ban pun kemudian melihat indahnya sorga yang sebagai balasan memakaikan baju bututnya kepada orang tersebut. Kemudian dia berteriak lagi:

“Aduuuh kenapa tidak yang baru...“

Timbul lagi penyesalan di benak Sya’ban. Jika dengan baju butut saja bisa mengantarkannya mendapat pahala yang begitu besar, sudah tentu ia akan mendapat yang lebih besar lagi seandainya ia memakaikan baju yang baru.

Berikutnya Sya’ban melihat lagi suatu adegan saat dia hendak sarapan dengan roti yang dimakan dengan cara mencelupkan dulu ke segelas susu. Ketika baru saja hendak memulai sarapan, muncullah pengemis di depan pintu yang meminta diberi sedikit roti karena sudah lebih 3 hari perutnya tidak diisi makanan.

Melihat hal tersebut Sya’ban merasa iba. Ia kemudian membagi dua roti itu sama besar, demikian pula segelas susu itu pun dibagi dua. Kemudian mereka makan bersama-sama roti itu yang sebelumnya dicelupkan susu, dengan porsi yang sama.

Alloh kemudian memperlihatkan ganjaran dari perbuatan Sya’ban RA dengan surga yang indah. Demi melihat itu diapun berteriak lagi:

“Aduuuh kenapa tidak semua……”

Sya’ban kembali menyesal. Seandainya dia memberikan semua roti itu kepada pengemis tersebut tentulah dia akan mendapat surga yang lebih indah.

Masya Alloh , Sya’ban bukan menyesali perbuatannya, tapi menyesali mengapa tidak optimal. Sesungguhnya semua kita nanti pada saat sakaratul maut akan menyesal tentu dengan kadar yang berbeda, bahkan ada yang meminta untuk ditunda matinya karena pada saat itu barulah terlihat dengan jelas konsekuensi dari semua perbuatannya di dunia.

Mereka meminta untuk ditunda sesaat karena ingin bersedekah. Namun kematian akan datang pada waktunya, tidak dapat dimajukan dan tidak dapat dimundurkan. Sering sekali kita mendengar ungkapan hadits berikut:

“Sholat Isya berjamaah pahalanya sama dengan sholat separuh malam.”

“Sholat Subuh berjamaah pahalanya sama dengan sholat sepanjang malam .”

“Dua rakaat sebelum Shubuh lebih baik dari pada dunia dan isinya.”

Namun lihatlah... masjid tetap saja lengang. Seolah kita tidak percaya kepada janji Alloh. Mengapa demikian? Karena apa yang dijanjikan Alloh SWT itu tidak terlihat oleh mata kita pada situasi normal. Mata kita tertutupi oleh suatu hijab. Karena tidak terlihat, maka yang berperan adalah iman dan keyakinan bahwa janji Alloh tidak pernah meleset. Alloh akan membuka hijab itu pada saatnya. Saat ketika nafas sudah sampai di tenggorokan.

Sya’ban RA telah menginspirasi kita bagaimana seharusnya menyikapi janji Alloh SWT tersebut. Dia ternyata tetap menyesal sebagaimana halnya kitapun juga akan menyesal. Namun penyesalannya bukanlah karena tidak menjalankan perintah Alloh SWT. Penyesalannya karena tidak melakukan kebaikan dengan optimal.

Sudahkah kita semua berhitung siap menghadapi apa yang akan pasti kita hadapi semua... sakaratul maut... atau sibuk masih sibuk dengan urusan dunia kita yang pasti kita tinggalkan...???

Semoga kita selalu bisa mengoptimalkan kebaikan-kebaikan disetiap kesempatan. Aamiin, Wallahu A'lam.

Sumber: Fp [ Dakwah Para Habaib Dan Ulama Was Sholihin ]

Share:

Selasa, 13 Maret 2018

Kisah Qorun Sebagai Pelajaran Bagi Orang Yang Kufur Nikmat

Allah ta’ala memberikan banyak pelajaran kepada kita melalui kisah-kisah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Diantara kisah tersebut adalah kisah Qorun yang memiliki harta berlimpah sebagaimana terdapat dalam Al- Qur’an surat Al-Qashash ayat 76 sampai 83. Pada ayat tersebut diceritakan Qorun berlaku sombong atas harta yang ia miliki. Allah berfirman :

قَالَ إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ عِنْدِي أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِنْ قَبْلِهِ مِنَ الْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا وَلَا يُسْأَلُ عَنْ ذُنُوبِهِمُ الْمُجْرِمُونَ

“Qorun berkata: “”Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.” (QS Al-Qashash : 78)

Dalam ayat tersebut, Allah menceritakan kisah Qorun yang tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikan kepadanya. Ia tidak memuji Allah yang telah memberikan nikmat kepadanya. Ia juga tidak menggunakan nikmat harta yang diperoleh dalam jalan ketaatan. Maka inilah bentuk kufur nikmat yang dilakukan Qorun. Maka Allah memberikan adzab yang pedih yaitu ditenggelamkan ke dalam bumi beserta seluruh hartanya. Allah ta’ala berfirman :

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

“Maka Kami benamkanlah Qorun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap adzab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (QS. Al Qashash : 81).

Demikianlah balasan bagi orang-orang yang kufur terhadap nikmat Allah. Sudah seharusnya kita mengambil pelajaran dari kisah tersebut sehingga tidak ada pada diri kita sifat kufur nikmat. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur dan dijauhkan dari sifat kufur nikmat. Wallahu A'laam

Semoga kita bisa memetik faedah hikmahnya.

Di Copaste Dari Fanspage Facebook: [ Al-Habib Quraisy Baharun ]

Share:

Rabu, 07 Maret 2018

35 Keutamaan Membaca Alquran


Al Qur’an adalah kitab suci yang Allah turunkan kepada Nabi besar Muhammad SAW. Sebagai pedoman hidup untuk para hambanya yang bertakwa. Dia adalah cahaya bagi orang mukmin, cahaya dalam kehidupan dan cahaya ketika dihari Kiamat nanti.

Al Qur’an telah ada sebelum bumi diciptakan dan Al Qur’an pun akan tetap ada meski dunia ini telah hancurkan. Keistimewaanya tidak ada yang bisa menandingi baik dari segi bahasa, sastra dan ilmu pengetahuan. Semua berisi fakta sebelum kejadian dunia maupun setelahnya. Karena Memang Al Qur’an adalah karya Allah yang teragung untuk para hambanya yang mukmin.

Untuk itu lah, Allah akan memberikan ganjaran yang sangat besar bagi siapa yang membaca dan mengamalkannya. Dibawah ini kami merangkum beberapa keutamaan membaca Al Qur’an dan mengamalkannya dari hadist-hadist pilihan Rasulullah SAW. Semoga apa yang dinukilkan ini dapat memberikan kita motivasi untuk membacanya serta mengamalkannya. Berikut 35 keutamaannya :

1. Tidak ada derajat yang lebih tinggi dari pada orang yang suka membaca Al Qur’an

2. Rumah yang didalamnya dibaca Al Qur’an, ahli rumah akan diberi berkah dan kebaikan, malaikat pun turut memenuhi rumah tersebut, dan setan akan keluar. Sebaliknya rumah yang didalamnya tidak dibaca Al Qur’an maka kehidupannya akan dipenuhi kesempitan, ketidak berkahan, Malaikat akan keluar dan setan ikut memenuhi rumah tersebut.

3. Orang yang mengajarkan Al Qur’an pada anaknya pada masa kecil dan selalu membacanya pada masa tuanya akan mendapatkan perlindungan dari Allah SWT.

4. Membaca Al Qur’an akan memberi nur dibumi dan simpanan bagi kita dilangit dan rumah yang didalamnya dibaca Al Qur’an akan menyinari ahli-ahli langit seperti bintang-bintang menyinari bumi.

5. Tanda-tanda kecintaan Allah SWT adalah bahwa Allah SWT memasukkan rasa cinta pada Al Qur’an dalam hati seseorang (selalu ingin membacanya)

6. Seorang muslim yang hendak berbaring ditempat tidurnya lalu ia membaca salah satu surat dari Al Qur’an, Allah akan tugaskan satu malaikat untuk menjaganya, dan tidak ada satu bahaya pun akan mendekatinya, sehingga ia terjaga kapan saja

7. Seseorang yang sibuk membaca, menghafal, mempelajari, memahami Al Qur’an sehingga tidak mempunyai waktu untuk berdoa maka Allah SWT akan memberikan sesuatu yang lebih utama dari pada yang diberikan pada orang yang berdoa.

8. Barang siapa yang membaca 10 ayat dari Al Qur’an didalam satu malam, maka dicatat banginya pahala 1 qintar, dan 1 qintar itu lebih baik dari pada dunia dan serta segala seisinya

9. Orang yang beriman pada Al Qur’an dan mengamalkannya maka Allah SWT akan mengangkat derajatnya dan akan memuliakannya didunia dan diakhirat.

10. Dengan membaca Al Qur’an dan banyak mengingat maut akan menyebabkan hati bersinar dan akan memantulkan sifat ma’rifat yang terang (pengkilat hati yang seperti besi berkarat dalam air)

11. Bacaan Al Qur’an dalam shalat lebih baik dari pada bacaan Al Qur’an diluar shalat. Bacaan diluar shalat lebih baik dari pada membaca tasbih dan takbir, bacaan tasbih lebih baik dari pada puasa dan puasa adalah perisai (penghalang) api neraka.

12. Orang yang ahli dalam Al Qur’an (benar-benar menghafalnya, sering membacanya, memahami makna dan maksudnya) dihari mahsyar akan bersama malaikat pencatat yang mulia dan benar dan orang yang terbata-bata dalam membaca Al Qur’an dan bersusah payah mempelajarinya mendapat pahala 2 kali lipat (1 dari bacaanya dan 1 lagi dari kesungguhannya dalam berusaha)

13. Barang siapa yang sungguh-sungguh ingin menghafal Al Qur’an tapi tidak mampu, tapi terus menerus membacanya Maka Allah SWT akan membangkitkannya dihari Mahsyar dengan para Hafiz Al Qur’an (Para Hafiz Al Qur’an dapat mensafaati 10 keluarganya yang sudah dijamin masuk neraka kecuali mereka yang syirik dan kafir)

14. Barangsiapa yang menghormati, dan menunaikan hak-haknya dan mengamalkan Al Qur’an. Maka Al Qur’an akan membelanya dihadapan Allah SWT dan memberi syafaat dan menaikkan derajatnya.

15. Barangsiapa membaca Al Qur’an dan mengamalkan apa yang ada didalamnya maka pada hari kiamat dia dan kedua orang tuanya akan dipakaikan mahkota yang cahayanya lebih terang dari pada matahari serta dipakaikan pakaian keindahan dan keindahannya tidak ada yang sanggup menandinginya.

16. Barangsiapa yang membaca dan menghafal Al Qur’an serta menghalalkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan diharamkannya maka Allah SWT akan memasukkannya kedalam surga dan menjaminnya untuk memberi syafaat pada 10 orang ahli keluarganya yang diwajikan neraka (kecuali syirik dan Kafir) (Al maidah :72)

17. Banyak membaca Al Qur’an dapat menguatkan ingatan, membersihkan batin, menguatkan rohani dan mewangikan mulut.

18. Barangsiapa mengajarkan anak-anaknya membaca Al Qur’an maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang.

19. Membaca 1 huruf Al Qur’an maka Allah akan diberi 10 pahala kebaikan (Al an’am : 10)

20. Barangsiapa yang mendengarkan 1 ayat Al Qur’an Al Qur’an akan ditulis 1 kebaikan berlipat ganda dan yang membacanya akan diberi nur pada hari kiamat.

21. Kaum yang berkumpul membaca Al Qur’an dan saling mengajarkan akan diberi sakinah, disirami rahmat, malaikatpun mengerumuni mereka dan Allah SWT menyebut mereka dikalangan mereka disisinya.

22. Barangsiapa membaca 10 ayat pada malam hari maka ia tidak akan ditulis sebagai orang yang lalai, 100 ayat akan dicatat sebagai orang yang taat dan diselamatkan dari tuntutan Al Qur’an, 200 ayat maka ia mendapat ibadah pahala semalam suntuk.

23. Barangsiapa membaca Al Qur’an yang dengannya ia mendapat makanan dari manusia (untuk tujuan dunia) maka ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan muka hanya tulang tanpa daging.

24. Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al Qur’an dan mengajarkannya

25. Membaca/mempelajari beberapa ayat Al Qur’an adalah lebih baik dan lebih berharga dari pada kerajaan seluas 7 benua yang bersifat sementara dan pahalanya bermanfaat untuk selama-lamanya.

26. Membaca Al Qur’an tanpa melihat mushaf mendapat 1000 derajat dan orang yang membaca Al Qur’an dengan melihat mushaf 2000 derajat (lebih afdol)

27. Membaca Al Qur’an dalam shalat maka Setiap hurufnya akan mendapat pahala 100 kebaikan, jika sambil duduk dalam shalat akan mendapat 50 kebaikan dalam Setiap hurufnya, jika dibaca diluar shalat dalam keadaan berwudhu maka akan mendapatkan 25 kebaikan dalam Setiap hurufnya, dan jika dibaca tanpa wudhu akan mendapat pahala 10 kebaikan di Setiap hurufnya.

28. Kebanggan, kemuliaan dan kehormatan ummat ini adalah dengan membaca Al Qur’an, menghafalnya, mengerjakannya dan beramal dengannya dan apa saja yang berhubungan dengan Al Qur’an

29. Tidak ada yang dapat mendekatkan diri kepada Allah kecuali dengan perantaraan Al Qur’an dan membaca Al Qur’an akan menyebabkan kita lebih bertawajjuh dan memberi kesan tersendiri pada diri pembaca.

30. Ahli Al Qur’an (yang selalu menyibukkan dengan Al Qur’an) adalah ahli Allah dimana setiap waktu Allah akan selalu mengirim kasih sayangnya dan mereka orang-orang istimewa Allah sehingga mendapat kemuliaan.

31. Membaca Al Qur’an dengan suara keras dalah seperti memberi shadaqah dengan terang-terangan dan dengan perlahan seperti memberik sedekah dengan sembunyi-sembunyi.

32. Tidak ada penolong yang lebih utama kedudukannya disisi Allah SWT pada hari kiamat dari pada Al Qur’an (bukan dari Golongan Nabi, Malaikat dan Lain sebagainya)

33. Mempelajari 1 ayat Al Qur’an pada pagi hari lebih baik dari pada shalat 100 rakaat, mempelajari 1 bab ilmu pada pagi hari lebih baik dari pada shalat 1000 rakaat.

34. Seseorang yang mempelajari Al Qur’an menjaga dan membacanya pada tengah malam dalam shalat dimisalkan seperti mangkuk terbuka penuh dengan kasturi yang baunya menyebar keseluruh tempat, sedangkan seorang hafiz Al Qur’an yang tidur dan tidak membaca Al Qur’an karena lalai tapi Al Qur’an berada dalam hatinya seperti mangkuk penuh kasturi tetapi baunya tidak menyebar (Nur berkah terhalang pada orang lain)

35. Mengamalkan kandungan Al Qur’an akan menghindarkan kita dari fitnah

Di Copast Dari Fanspage: [ Cerita Santri ]
Share:

Minggu, 08 Oktober 2017

Belajar Dari Kehebatan Dan Kesederhanaan Khalifah Umar


Sejarawan Muslim terkemuka Muhammad Husain Haykal memberikan kesaksian tentang sosok Umar. Ia berkata: “dialah Umar ibn al-Khaththâb, lelaki agung yang namanya semerbak harum dalam sejarah besar umat Muhammad. Umar  adalah sahabat Rasulullah yang paling cemerlang, sang inspirator umat Islam, hamba yang taqwa kepada Rabb-nya. 

Dialah Umar, hawâri Rasul terdekat, orang terpercaya, sekaligus penasihat utamanya. Selepas Rasulullah wafat, Umar adalah pengganti kedudukan beliau yang kedua, setelah Abu Bakar, dan menjadi khalifah Islam terbesar sepanjang sejarah.

Umar adalah sosok besar yang menatah sejarah besar. Di tangan seorang khalifah Umar, Islam telah menjelma ‘imperium’ adiluhung dalam tempo waktu yang tak lebih dari sepuluh tahun, yang mampu menaklukkan negeri-negeri legendaris, meruntuhkan imperium agung Persia, juga mengguncang keberadaan imperium adiluhung Byzantium. 

Islam pun pada akhirnya memiliki wilayah kekuasaan yang membentang luas mulai dari Cerynecia (Tripoliana), Mesir, Nubia, Levantina atau Mediterania Timur (Syam; sekarang wilayahnya meliputi Syria, Lebanon, Jordania, dan Palestina), Anatolia, hingga Persia. 

Sebab itulah, sosok Umar kerap disebut sebagai seorang ‘Kaisar’ yang setara dengan Alexander Agung—Kaisar Macedonia, dan Cyrus the Great—Kisra Persia, dua emperor besar dunia pada zamannya, yang kebesaran serta kekuasaannya malang melintang di seantero jagat.

Namun demikian, jangan pernah membayangkan jika kehidupan Umar layaknya para Kaisar pada umumnya—sebuah potret kehidupan yang bergelimpah ruah sebagaimana yang diceritakan oleh epik-epik. 

Umar tetap hidup sederhana dan bersahaja: ketika takwa adalah cita-cita utamanya, ketika Allah jauh lebih ia cintai dari segala isi dunia, ketika Rasulullah adalah teladan abadinya, dan ketika kebahagiaan dan kesejahteraan rakyat banyak adalah impiannya. 

Hati dan akhlak Umar jauh lebih besar dari nama besarnya, jauh lebih luas dari wilayah kekuasaan dan taklukan-taklukannya, jauh lebih mulia dari kemuliaan yang diberikan orang-orang kepadanya. Hal ini bukan karena apa-apa, tetapi karena Umar lebih mengedepankan ketakwaan di atas segalanya.

Jangan heran ketika kita temukan seorang ‘Kaisar’, seorang Emperor yang jauh melebihi tahta seorang presiden, yang makanannya adalah roti juwawut beroles minyak zaitun, minumnya hanya air putih, ranjang tidurnya adalah alas tikar, pakaiannya penuh dengan jahitan karena robek dan tercabik di banyak tempat, dan mahkotanya adalah serban yang sudah lusuh. 

Sekali-kali jangan heran ketika kita temukan seorang kaisar agung yang tidak memiliki ajudan seorang pun, tidak memiliki harta yang melimpah ruah sedikit pun, karena Umar men-tasaruf-kan semua gajinya untuk rakyat-rakyatnya.

Oleh: Fathoni (www.nu.or.id)
Share:

Senin, 27 Juni 2016

Inilah Kisah Rasulullah Melihat Keindahan Malam Lailatul-qadar



Umat Islam meyakini bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Malam ganjil yang diyakini datang di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini merupakan waktu yang diharapkan oleh seluruh umat Islam. Karena apabila kita melakukan amal kebaikan pada malam itu, seolah-olah kita telah melakukan ibadah yang nilainya setara dengan 1.000 bulan atau 83 tahun.
Share:

Jumat, 15 April 2016

Di Antara Wasiat Sunan Gunung Jati

Jika kita berziarah ke makam Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon, maka dapat ditemukan di salah satu sudut area makam, tepatnya di dinding serambi Masjid Agung Gunung Jati, terpampang secara jelas sebuah kalimat "Insun titip tajug lan fakir miskin." Kalimat yang sudah cukup familiar khususnya bagi masyarakat Cirbon, dan diyakini merupakan wasiat terakhir Sunan Gunung Jati tidak lama sebelum beliau wafat.

Share:

Selasa, 12 April 2016

Mintalah Doa Pada Orang Yang Sakit, Karena Doanya Seperti Doa Malaikat

Salah satu hak seorang muslim terhadap muslim lainnya adalah menjenguknya ketika sakit. Hal ini merupakan perkara yang mulya yang telah diajarkan oleh agama. Disamping itu pula dianjurkan memberikan nasehat-nasehat yang mengandung harapan serta berdo'a untuk kesembuhan orang yang sakit.

Share:

Selasa, 29 Maret 2016

Rahasia Di Balik Keistimewaan Kitab Taqrib

Tidak ada yang menyangkal akan kemasyhuran kitab Taqrib (al-Ghayah wa at-Taqrib) sebuah risalah kecil dalam disiplin fiqih yang meskipun tipis tapi berbobot. Nyaris semua pondok pesantren di Indonesia dalam desain kurikulum pembelajarannya memakai matan kitab Taqrib ini. Ia menjadi materi dasar penguasaan fan fiqih untuk para santri. Banyaknya kitab-kitab fiqih terbaru yang dikarang fuqaha kontemporer belum dapat menggeser penggunaan kitab produk sekitar abad ke-5 Hijriah tersebut.

Share:

Selasa, 01 Maret 2016

Lima Kiat Sukses Mencari Ilmu, Dalam Alfiyah Ibnu Malik

"Thalabul ilmi faridhatun 'ala kulli muslimin wa muslimatin"|"Uthlubul 'ilma minal mahdi ilal lahdi".

Dua hadits di atas rasanya tidak asing lagi di telinga orang pesantren sebagai penuntut ilmu

Share:

Selasa, 16 Februari 2016

Kisah Pemuda Istimewa Di Mata Rasulullah, Uwais Al-qarni

"Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya." Syaikhul Jihad Abdullah Azzam.

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan. "Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji." pinta sang ibu kepada uwais.

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan? Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. "Uwais gila... Uwais gila.." kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais.

Banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut. Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya. Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya. Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka'bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka'bah, ibu dan anak itu berdoa. "Ya Allah, ampuni semua dosa ibu," kata Uwais. "Bagaimana dengan dosamu?" tanya sang Ibu keheranan. Uwais menjawab, "Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga." Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta.

Allah subhanahu wata'ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais. Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka'bah karena Rasulullah berpesan, "Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman."

"Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan)." (HR Bukhari dan Muslim)

Kisah Berlanjut: Saat Uwais Al-Qarni pergi ke Madinah Untuk Berjumpa Rasulullah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi.

Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya. Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, "Engkau harus lekas pulang."

Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a. untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada ibunya, dia adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.

Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, "Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya."

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, "Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi."

Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan dia?

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka.

Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putih di telapak tangan Uwais Al Qarni. Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, "Abdullah".

Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, "Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?" Uwais kemudian berkata, "Nama saya Uwais Al Qarni".

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, "Saya lah yang harus meminta do'a pada kalian". Mendengar perkataan Uwais, "Khalifah berkata, "Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda". Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya.

Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, "Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi."

Kisah Berlanjut: Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat

Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, "Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal. mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya."

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, "Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu." (HR Ibnu Majah).

M. Haromain: Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri; Berdomisili di Pondok Pesantren Nurun ala Nur Bogangan Utara Wonosobo: [nu.or.id]

Share:

Senin, 11 Januari 2016

Agar Istri Seindah Bidadari

Dikisahkan Ada seorang lelaki berkata kepada seorang syekh: "Dulu, sebelum menikah, saya melihat istriku begitu indah, tiada duanya di dunia ini. Ketika saya melamarnya, ternyata ada banyak wanita yang seindah dia. Ketika saya menikahinya, aku mulai merasa bahwa ada banyak wanita yang lebih cantik darinya. Dan Sekarang, setelah hampir sepuluh tahun kami menikah, saya merasa bahwa semua wanita lebih menarik daripada istriku."

Share:

Minggu, 27 Desember 2015

Kisah Masa Kecil Rasulullah Bersama Ibunya

Sebagaimana tradisi suku Quraisy dan kabilah Arab pada umumnya, pada hari kedelapan selepas dilahirkan oleh Siti Aminah, Muhammad kecil harus diungsikan ke pedalaman dan baru akan dikembalikan ke ibunya ketika kelak berusia delapan atau sepuluh tahun. Tentu hal ini membuat Siti Aminah gundah. Tapi, tradisi tetaplah tradisi, mau nggak mau harus tetap dilaksanakan.

Share:

Sabtu, 26 Desember 2015

Cinta Rasul Ala Zaid Bin Haritsah

Beberapa tahun sebelum Rasulullah s.a.w diutus. Zaid bin Haritsah masih sangat belia ketika perkampungan Bani Kalb diserbu kelompok penyamun. Mereka tidak hanya merampas harta benda, tapi juga anak-anak untuk dijual di pasar budak. Termasuk Zaid bin Haritsah.

Share:

Rabu, 04 November 2015

Al-Quran Adalah Petunjuk Kehidupan

Alkisah ada seorang pelaut yang ingin melayari samudera lepas, dan dia sangat bersemangat untuk itu, dengan keyakinan yang hebat. dia memulai impiannya itu dengan membuat kapal dari kayu terbaik, dengan desain terbaik, dari pembuat kapal yang terbaik, semua serba terbaik.

kapalnya dirancang untuk menampung sampai ratusan kru kapal, juga dengan gudang perbekalan yang memadai selama setahun penuh. tidak hanya itu, berbulan-bulan dia habiskan merekrut kru paling hebat, mewawancarai, menyortir, melatih bahkan menyatukan para ahli kapal menjadi satu tim .

entah berapa malam dia habiskan untuk merencanakan perjalanannya menjangka dan menggaris peta, menulis poin demi poin rancangan.

saat yang direncanakan itupun telah tiba, layar yang dijahit dikembangkan, sauh diangkat, semua sudah siap berlayar, mengarungi samudera tanpa batas.

Akhirnya, inilah saatnya menjemput impian, mereka berlayar, hari demi hari, bulan demi bulan, semua telah terlewati.. sampai akhirnya sang pelaut ini sadar, dan tercengang, ada satu hal yang dia lupakan selama ini, yang terpenting! Yaitu PENUNJUK ARAH!.

Dia tengok kiri-kanan muka-belakang, semua sama-sama horison, lautan tak bertepi, tiada petunjuk ataupun penanda arah apapun. lunglai, semua persiapan selama ini, Percuma, bila sudah salah tujuan, maka apapun jadi sia-sia.

Sebenarnya pelaut itu sama seperti kita di dunia ini, tak tahu apapun, bedanya hidup kita tak bisa balik lagi, namun analoginya adalah sama. hidup tanpa arah itu sia-sia, menjalani hidup tanpa petunjuk itu Percuma, perbekalan apapun takkan pernah bisa mencukupi, takkan membantu apapun.

Berlayar tanpa navigasi itu cari mati, di dunia tanpa petunjuk itu sesat sudah pasti, maka yang paling penting di dalam hidup itu tahu arah. bila Arah sudah benar, perbekalan, kru, kapal, barulah bermanfaat, bila ada Penunjuk arah, itu baru perjalanan, karena dengan petunjuk arah itu sudah pasti terdapat tujuan.

Dunia ini lautan yang menyesatkan, dan Penunjuk arah kita adalah AL-QURAN, siapa jauh darinya, pasti akan tersesat, dan kehilangan arah. Sungguh sangat disayangkan akhir-akhir ini kita saksikan manusia, sibuk siapkan kapal, kru, perbekalan, tapi jauh dari AL-Quran, lupa membawa Penunjuk arah. maka wajar dunia memperdaya dirinya, tak puas, galau, sedih, kecewa, depresi di ujung hidupnya. menumpuk penuh kesia-siaan, dengan percuma.

Yang sudah salah jalan di dunia dan mati, maka ia tidak akan bisa peringatkan kita, yang betul jalannya dan sudah tenang, juga tak bisa pandu kita. bocoran dan Penunjuk arah di dunia satu-satunya hanya dari Allah dan Rasul-Nya, Kitabullah dan Sunnah, itu petunjuk yang pasti. Al-quran itu cahaya, siapa jadikan ia petunjuk arah, maka jalannya akan terang dan pasti arah di jalan Allah.

Share:

Minggu, 25 Oktober 2015

Toleransi Hasan Al-Bashri Bertetangga Nasrani

Kekaguman para sahabat dan murid-muridnya tak menggetarkan pribadi Hasan al-Bashri untuk tetap hidup penuh kesederhanaan. Di rumah susun yang tidak terlalu besar ia tinggal bersama istri tercinta. Di bagian atas adalah tempat tinggal seorang Nasrani. Kehidupan berumah tangga dan bertetangga mengalir tenang dan harmonis meski diliputi kekurangan menurut ukuran duniawi.

Share:

Senin, 22 Juni 2015

Pentingnya Menjaga Niat

Melakukan kebaikan, hendaknya didasarkan pada niat yang baik pula. Seperti halnya dengan puasa yang kita laksanakan seperti sekarang ini, kita niatkan untuk mencari ridho Allah. Tidak hanya itu, apabila kita sudah memiliki niat yang baik, mesti terus kita pertahankan, agar tidak terjadi hal seperti pada kisah seorang Bani Israil yang alim dan rajin beribadah

Share:

Sabtu, 13 Juni 2015

Ketika Si Penyembah Api Mendapat Hidayah Dan Berkah

Pada masa Malik bin Dinar, hiduplah seorang pemuda. Dahulu pemuda tersebut, seorang penyembah api. Namun setelah ia mendapat hidayah untuk masuk Islam, ia pun mengajak seluruh anak dan istrinya untuk ikut masuk Islam.

Suatu hari, usai mengikuti sebuah majelis yang dipimpin Malik bin Dinar di Kota Bashrah, ia pulang ke rumahnya yang berupa puing tua. Meski kehidupannya sangat miskin, ia bertekad tak akan menjual agama Islam yang telah dipeluknya demi harta. "Pergilah ke pasar, carilah pekerjaan. Belilah makanan secukupnya untuk kita makan," kata istrinya, sewaktu pagi. "Baiklah" kata pemuda itu.

Kemudian, ia bergegas pergi ke pasar, berharap mendapat sebuah pekerjaan yang halal. Namun, hari itu tidak ada seorang pun yang memberinya pekerjaan. "Lebih baik aku bekerja untuk Allah saja," kata pemuda tersebut, dalam hati. Ia pun pergi ke sebuah masjid. ia terus shalat hingga malam tiba. Lalu pulang dengan tangan hampa. "Kamu tak membawa sesuatu?" Tanya istrinya. "Hari ini, aku bekerja untuk Raja. Dia belum memberinya hari ini. Semoga saja besok diberi," jawabnya.

Mereka melewatkan malam dengan rasa lapar. Hari berikutnya, ia belum juga mendapatkan pekerjaan, dan kembali pulang dengan tangan hampa. Hingga pada hari Jum'at, ia kembali ke pasar. Namun, sayangnya ia belum jua mendapat pekerjaan. Ia pun pergi ke masjid. Setelah shalat dua rakaat, ia mencurahkan isi hatinya kepada Allah.

"Tuhanku! Pemukaku! Junjunganku! Engkau telah memuliakanku dengan Islam. Kau berikan aku keagungan Islam dam petunjuk terbaik. Atas nama kemuliaan agama yang telah kau berikan padaku dan dengan kemuliaan hari Jum'at yang agung, aku mohon tenangkan hatiku, karena sulitnya mencari nafkah untuk keluargaku. Berikanlah aku rizki yang tak terhingga. Demi Allah! aku malu kepada keluargaku. Aku takut berubah pikiran mereka tentang Islam," pintanya.

Di saat yang sama, ketika pemuda itu shalat Jum'at. Saat anak istrinya tengah kelaparan. Pintu rumahnya diketuk seseorang. Rupanya, datang seorang lelaki yang membawa nampan emas yang ditutup dengan sapu tangan bersulam emas. "Ambil nampan ini. katakan kepada suamimu. Ini upah kerjanya selama dua hari. Akan kutambah bila ia rajin bekerja. Apalagi pada hari Jum'at seperti ini. amal yang sedikit, pada hari ini di sisi Raja Yang Maha Perkasa artinya sangat besar sekali," ucap sang lelaki tersebut.

Nampan tadi, tak disangka berisi 1000 dinar. Ia pungut 1 dinar untuk ditukarkan di tempat penukaran uang. Pemilik penukaran uang yang seorang Nasrani mengatakan uang tersebut bukan dinar biasa. Sebab, beratnya dua kali lipat dari dinar biasa. "Dari mana kau dapatkan ini?" tanya Nasrani tersebut.

Setelah diceritakan kisah yang telah ia alami tadi, 1 dinar tadi ditukar dengan 100 dirham. Sementara itu, sepulang dari masjid, sang suami kembali dengan tangan hampa. Namun, di tengah jalan ia membawa beberapa jumput pasir dan dimasukkannya ke dalam sapu tangan. "Bila nanti ditanya, kujawab saja isinya tepung," gumamnya dalam hati.

Ketika masuk rumah, tercium bau makanan. Sambil keheranan, ia bertanya kepada istrinya, gerangan apa yang terjadi, bungkusan pasir ia taruh di samping pintu.Setelah diceritakan semuanya, sontak ia langsung sujud syukur kepada Allah. "Apa yang kau bawa tadi?" tanya istrinya. Rupanya istrinya tahu, sang suami tadi membawa sesuatu. "Ah, jangan kau tanyakan itu," jawabnya.

Karena penasaran, bungkusan pasir diambil oleh istri. Namun apa yang terjadi, ternyata pasir tadi telah berubah menjadi tepung. Kembali ia dan istrinya, bersujud kepada Allah. Atas keajaiban dan rizki yang telah diberikan.

(Oleh: Ajie Najmuddin) Disarikan dari Kitab Al-Mawa'idhu al-'Usfuriyyah

Share:

Rabu, 18 Maret 2015

Bersabarlah...!

bersabarlah dalam penantian, sebagaimana sabarnya Nabi Ibrahim, tatkala meminta pada Allah keturunan, lalu Allah anugerahkan padanya Nabi Ismail.

bersabarlah dalam usaha, sebagaimana sabarnya Bunda Hajar, dan Nabi Ismail tatkala ditinggal suaminya tanpa bekal, lalu Allah karuniakan pada mereka air zamzam.

bersabarlah dalam ujian, sebagaimana sabarnya Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim, tatkala Allah meminta nyawanya, lalu Allah selamatkan mereka, dan Allah berkahi keturunan mereka.

bersabarlah dalam dakwah, sebagaimana sabarnya Nabi Muhammad, tatkala harus difitnah, diancam, diusir, dicaci, dilempari, disakiti, lalu Allah muliakan namanya di langit dan di bumi.

bersabarlah dalam kelapangan, sebagaimana sabarnya Nabi Sulaiman, yang Allah uji dengan kekayaan yang tak pernah diberi pada siapapun jua, dan dia tak pernah merasa memiliki selain berucap "Ini hanya karunia dari Tuhanku!"

bersabarlah dalam kesakitan, sebagaimana sabarnya Nabi Ayyub yang Allah uji dengan badan dan jiwa, harta dan keluarga, lalu Allah tinggikan derajatnya di surga.

bersabarlah dengan cara apapun, karena malaikat di surga nanti akan mengucapkan "salam keselamatan pada kalian, tersebab kesabaran kalian"

(yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (QS 13: 23-24) (Ustadz Felix siauw)

Share:

Tokoh Islam

Hikmah

Islamia

Muslimah