• Dzikir Pagi Dan Petang

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Dzikir Mejelang Tidur

    Siapa yang membaca ayat Kursi saat hendak tidur, maka sesungguhnya dia selalu berada dalam perlindungan Allah dan tidak didekati setan hingga pagi hari.

  • Bacaan Setelah Bangun Tidur

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Dzikir Setelah Shalat Fardlu

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Bacaan Shalat Tahajud

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

Sabtu, 24 Desember 2016

Lima Jenis Laki-laki Yang Pantang Dijadikan Suami


Perempuan utamanya Muslimah harus berhati-hati dalam memilih laki-laki yang akan dijadikannya sebagai calon suami. Itu karena urusan memilih suami bukan semata urusan dunia tapi akhirat taruhannya. Jangankan ‘melirik’ calon non muslim (naudzubillah minzalik), calon yang mengaku sebagai muslim pun harus tetap diwaspadai. Itu karena banyak sekali laki-laki di zaman ini yang Islam-nya hanya sebatas KTP alias tidak peduli dengan aturat syariat.
Share:

Senin, 17 Oktober 2016

Nasehat Imam Al-bukhari Bagi Penuntut Ilmu


Ilustrasi Image By: citraislam.com

Menuntut ilmu bukanlah perkara mudah dan sederhana. Butuh pengorbanan dan kesabaran tingkat tinggi untuk menguasainya. Selain itu, godaan dalam proses mencari ilmu juga cukup banyak, beraneka ragam, dan datang silih berganti; baik godaan dari luar maupun dalam diri sendiri. Kesuksesan seorang pelajar sangat ditentukan oleh sejauh mana dia mampu mengusir setiap godaan ini.

Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tadribur Rawi mengutip sebuah kisah tentang nasihat Imam Al-Bukhari kepada seorang murid yang ingin belajar hadits kepadanya. Singkat kata, imam hadits ini mengatakan, jika kamu ingin menjadi ahli hadits yang sempurna, kamu mesti menulis empat hal. Empat hal ini tidak sempurna kecuali dengan empat perkara.

Apabila telah menyempurnakan empat perkara ini, kamu akan diberikan empat keuntungan sekaligus diuji dengan empat cobaan. Bila kamu lulus dari empat ujian tersebut, Allah SWT akan memberimu empat ganjaran di dunia dan di akhirat. Jabaran dari empat hal yang saling berkaitan itu adalah sebagai berikut:

ﻻﺗﺘﻢ ﻟﻪ ﻟﻪ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﺇﻻ ﺑﺄﺭﺑﻊ ﻫﻲ ﻣﻦ ﻛﺴﺐ ﺍﻟﻌﺒﺪ : ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﻜﺘﺎﺑﺔ، ﻭﺍﻟﻠﻐﺔ، ﻭﺍﻟﺼﺮﻑ، ﻭﺍﻟﻨﺤﻮ، ﻣﻊ ﺃﺭﺑﻊ ﻫﻦ ﻣﻦ ﻋﻄﺎﺀ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﺍﻟﺼﺤﺔ، ﻭﺍﻟﻘﺪﺭﺓ، ﻭﺍﻟﺤﺮﺹ، ﻭﺍﻟﺤﻔﻆ، ﻓﺈﺫﺍ ﺻﺤﺖ ﻟﻪ ﻫﺬﻩ ﺍﻷﺷﻴﺎﺀ ﻫﺎﻥ ﻋﻠﻴﻪ ﺃﺭﺑﻊ : ﺍﻷﻫﻞ، ﻭﺍﻟﻮﻟﺪ ﻭﺍﻟﻤﺎﻝ ﻭﺍﻟﻮﻃﻦ، ﻭﺍﺑﺘﻠﻲ ﺑﺄﺭﺑﻊ : ﺷﻤﺎﺗﺔ ﺍﻷﻋﺪﺍﺀ، ﻭﻣﻼﻣﺔ ﺍﻷﺻﺪﻗﺎﺀ، ﻭﻃﻌﻦ ﺍﻟﺠﻬﻼﺀ، ﻭﺣﺴﺪ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ، ﻓﺈﺫﺍ ﺻﺒﺮ ﻋﻠﻰ ﻫﺬﻩ ﺍﻟﻤﺤﻦ ﺃﻛﺮﻣﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ ﻓﻲ ﺍﻟﺪﻧﻴﺎ ﺑﺄﺭﺑﻊ : ﺑﻌﺰ ﺍﻟﻘﻨﺎﻋﺔ، ﻭﺑﻬﻴﺒﺔ ﺍﻟﻴﻘﻴﻦ، ﻭﺑﻠﺬﺓ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻭﺑﻴﺤﺎﺓ ﺍﻷﺑﺪ، ﻭﺃﺛﺎﺑﻪ ﻓﻲ ﺍﻵﺧﺮﺓ ﺑﺄﺭﺑﻊ : ﺑﺎﻟﺸﻔﺎﻋﺔ ﻟﻤﻦ ﺃﺭﺍﺩ ﻣﻦ ﺇﺧﻮﺍﻧﻪ، ﻭﺑﻈﻞ ﺍﻟﻌﺮﺵ ﺣﻴﺚ ﻻ ﻇﻞ ﺇﻻ ﻇﻠﻪ، ﻭﻳﺴﻘﻲ ﻣﻦ ﺃﺭﺍﺩ ﻣﻦ ﺣﻮﺽ ﻣﺤﻤﺪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ، ﻭﺑﺠﻮﺍﺭ ﺍﻟﻨﺒﻴﻴﻦ ﻓﻲ ﺃﻋﻠﻰ ﻋﻠﻴﻴﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺠﻨﺔ

Artinya: “Hal ini (menuntut ilmu) tidak sempurna kecuali seseorang menguasai empat bidang: mahir baca-tulis, mengerti bahasa, menguasai ilmu sharaf, dan ilmu nahwu (gramtikal). Kemampuan ini harus dibarengi dengan karunia Allah: kesehatan, kemampuan, keuletan, dan hafalan. Apabila empat hal ini berjalan dengan baik, dia akan diberikan empat keuntungan: keluarga, anak, harta, dan domisili. Tapi seketika itu pula dia akan diuji dengan empat ujian: musuhnya dengki, celaaan sahabatnya, makian dari orang bodoh, dan keirian ulama. Jika seseorang berhasil melewati ujian ini, di dunia dia akan memperoleh empat kebaikan: semakin qana’ah, keyakinanya meningkat, merasakan nikmatnya ilmu, dan kenikmatan hidup. Kelak di akhirat, Allah SWT akan memuliakannya dengan empat kesempatan: dapat memberikan syafaat kepada siapa yang dia inginkan, berhak memberi minum kepada siapa pun dari telaga Nabi Muhammad SAW, dinaungi bayangan Arasy, dan diposisikan di surga paling tinggi, di samping surga para Nabi.”

Maksud dari pernyataan ini ialah bahwa keharusan bagi penuntut ilmu menguasai empat bidang sebagai dasar mencari ilmu, yaitu: pandai baca, pandai tulis, menguasai bahasa, dan gramatikalnya. Keempat potensi ini tidak akan berkembang kecuali atas karunia Tuhan. Dalam konteks ini, anugerah Tuhan itu berupa empat hal: kesehatan, kemampuan, semangat, dan kekuatan hafalan.

Sepintar apapun seorang anak, bila Allah SWT tidak memberikan kesehatan dan kesempatan belajar kepadanya, tentu proses belajarnya akan menjadi tidak efektif dan sempurna. Setelah berhasil menguasai empat bidang ini, dia diberikan empat karunia Tuhan, maka dia akan mendapatkan empat keuntungan: keluarga, anak, harta, dan domisili. Di samping beruntung, dia juga diuji dengan empat ujian: ada musuhnya yang dengki, sahabatnya juga ikut-ikutan mencaci-maki, umpatan dan hinaan dari orang-orang bodoh, dan ada juga ulama yang iri terhadap kepintarannya.

Jika dia mampu bertahan dan bersabar, Allah SWT akan memberikannya empat kebaikan: semakin qana’ah, keyakinanya bertambah kuat, dia merasakan nikmatnya ilmu, dan diberikan kebahagiaan hidup. Di akhirat kelak, kebahagiannya disempurnakan dengan empat kesempatan: mereka diberi kesempatan untuk memberi syafaat kepada orang yang diingininya, dilindungi oleh Arasy, berhak memberi minum kepada siapa saja dari telaga Nabi Muhammad SAW, dan dia diletakkan di surga kelas tinggi, yang berada di samping surga para Nabi.

Begitulah sulitnya menuntut ilmu. Ada banyak rintangan dan godaan yang mesti disingkirkan. Sangat beruntung orang yang mampu bersabar dalam melewati segala bentuk ujian ini. Di antara deretan cobaan di atas, umpatan dan cacian teman sejawat mungkin adalah ujian paling berat dibanding lainnya.

Barangkali sudah nasib orang berilmu seperti itu. Terkadang teman pun bisa jadi lawan, bahkan tak jarang nyawa pun dikorbankan demi sebuah kebenaran. Namun ketika datang masanya, mereka akan tersenyum bahagia di depan Yang Maha Kuasa ketika mampu melewati tahapan di atas. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Sumber: ( www.nu.or.id )
Share:

Selasa, 04 Oktober 2016

Batu Akik Mbah Kholil Dan Pesan Muktamar Nu



Syaikhona Kholil Bangkalan Madura lahir Tahun 1820 M atau 1235 H merupakan guru ulama besar di pulau Jawa. Ulama besar yang digelar oleh para kiai sebagai “Syaikhuna” yakni guru kami, karena kebanyakan kiai-kiai dan penggasas pondok pesantren di Jawa dan Madura pernah belajar dan nyantri dengan beliau.
Share:

Senin, 29 Agustus 2016

Sejarah Dan Pengertian Pondok Pesantren


Berawal dari adanya seorang kyai di suatu tempat, kemudian datang santri yang ingin belajar agama kepadanya. Setelah semakin hari semakin banyak santri yang datang, timbullah inisiatif untuk mendirikan pondok atau asrama di samping rumah kyai. Pada zaman dahulu kyai tidak merencanakan bagaimana membangun pondoknya tersebut,
Share:

Senin, 27 Juni 2016

Inilah Kisah Rasulullah Melihat Keindahan Malam Lailatul-qadar



Umat Islam meyakini bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang lebih mulia dari seribu bulan. Malam ganjil yang diyakini datang di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini merupakan waktu yang diharapkan oleh seluruh umat Islam. Karena apabila kita melakukan amal kebaikan pada malam itu, seolah-olah kita telah melakukan ibadah yang nilainya setara dengan 1.000 bulan atau 83 tahun.
Share:

Selasa, 07 Juni 2016

Inilah Doa Lengkap Berbuka Puasa



Kita disunahkan membaca doa berbuka puasa. Tentu saja doa ini berlaku bagi mereka yang berbuka puasa. Lantaran isi doanya menyatakan bahwa yang berdoa itu memang berpuasa. Doa berbuka puasa ini memang dianjurkan mengingat hampir semua aktivitas digantungkan pada doa.
Share:

Jumat, 27 Mei 2016

Mengenal Kepribadian Luhur Habib Anis Al-habsyi



Dua minggu pasca-Lebaran tahun 2006, umat muslim di Soloraya tersentak mendengar kabar duka. Seorang tokoh ulama panutan yang juga keturunan dari Rasulullah saw, Habib Anis Al-Habsyi dikabarkan telah menghadap ke rahmatullah. Menurut keterangan dari dokter, Habib Anis yang kala itu berusia 78 tahun, wafat karena penyakit jantung yang dideritanya.
Share:

Sabtu, 14 Mei 2016

Kh. Romli Tamim Penyusun Doa Istighorsah



Kata "Istighotsah" ( ﺇﺳﺘﻐﺎﺛﺔ) adalah bentuk masdar dari Fi'il Madli Istaghotsa ( ﺇﺳﺘﻐﺎﺙ) yang berarti mohon pertolongan. Secara terminologis, istigotsah berarti beberapa bacaan wirid ( awrad) tertentu yang dilakukan untuk mohon pertolongan kepada Allah SWT atas beberapa masalah hidup yang dihadapi.
Share:

Kamis, 05 Mei 2016

Kh. Ahmad Muthohar Mursyid Thariqah Dan Penulis Berbagai Kitab



KH Ahmad Muthohar bin Abdurrahman bin Qoshidil Haq adalah putra kelima KH Abdurrahman. Beliau merupakan adik KH Fathan bin Abdurrahman yang meneruskan perjalanan Pesantren Futuhiyyah bersama dengan dua keponakannya, KH Muhammad Shodiq Luthfil Hakim Muslih dan KH Muhammad Hanif Muslih, sepeninggal KH Muslih bin Abdurrahman.
Sepanjang masa itu, kiai Ahmad Muthohar merupakan sesepuh yang mengampu pengajian santri dan bertindak sebagai imam sholat maktubah di Masjid An Nur Pondok Pesantren Futuhiyyah, disamping sebagai imam sholat Jumat di Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, Kauman, Mranggen.

Sedang struktur tata kelola organisasi pesantren (termasuk pengelolaan yayasan) dipimpin oleh dua putra KH Muslih bin Abdurrahman, yakni KH Muhammad Shodiq Luthfil Hakim Muslih dan dibantu adiknya KH Muhammad Hanif Muslih.

KH Ahmad Muthohar bin Abdurrahman terkenal sebagai sosok ulama yang istiqomah. Para santri menjadi saksi keistiqomahannya dalam hal ubudiyah. Sepanjang hayat, kecuali pada saat benar-benar udzur, beliau senantiasa melaksanakan sholat maktubah berjamaah dengan para santri.

Salah satu hal yang patut menjadi teladan dari kiai kelahiran 1926 ini adalah keistiqomahan dalam beribadah. Meski harus dengan menaiki kursi roda dan didorong oleh santri dari kediaman menuju masjid, beliau tetap semangat, bahkan masih sempat keliling ke kamar-kamar pesantren untuk membangunkan santri yang tidur atau sekedar mengingatkan waktu sholat jamaah.

Disamping menjadi imam Masjid An Nur Pesantren Futuhiyyah, sehari-harinya KH Ahmad Muthohar bin Abdurrahman juga mengampu pengajian kitab-kitab salaf.

Semasa hidup, KH Ahmad Muthohar dikenal sebagai penulis produktif. Tak kurang dari 30 judul kitab kuning karyanya membahas berbagai disiplin ilmu, diantara kitab nahwu, shorof (tata bahasa), aqidah (ketahuidan), akhlak (budi pekerti), fiqih (hukum Islam), tafsir, hingga mawaris (tentang pembagian warisan).
KH Ahmad Muthohar merupakan salah satu ulama yang berkesempatan menimba ilmu dari Abu Al Faidh’ Alam Ad Diin Muhammad Yasin bin Isa Al Fadani, yang masyhur dikenal dengan Syekh Yasin Al Fadani, ulama Makkah asal Padang Sumatera Barat, bergelar “Al Musnid Dunya” (ulama ahli sanad dunia), berkat keahliannya dalam hal ilmu periwayatan hadits.
Di kalangan nahdliyyin, karya-karya KH Ahmad Muthohar cukup dikenal dan masih dipakai untuk pembelajaran agama hingga sekarang. Sebut saja kitab Imrithi dan Al Wafiyyah fi Al Fiyyah (Nahwu), Akhlaqul MArdliyyah (akhlak), Tafsir Faidurrahman (tafsir), Al Maufud (Shorof), Syifaul Janan dan Tuhfatul Athfal (tajwid). Buah karyanya yang lain, kitab Rahabiyyah (warisan) serta Tsamrotul Qulub (bacaan wirid sesudah shalat).

Sebagian besar karya KH Ahmad Muthohar diterbitkan oleh penerbit Thoha Putra Semarang, yang memang dikenal sebagai penerbit kitab-kitab klasik. Selain itu, ada pula sejumlah karyanya yang dirilis oleh penerbit Malaysia.
Selain penulis produktif, KH Ahmad Muthohar juga merupakan sosok penting di kalangan nahdliyin, hingga wafat tahun 2005, beliau adalah Mustafadl Jam’iyyah al Mu’tabarah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyyah An Nahdliyyah.

Tak heran, kepergiannya dihantarkan oleh banyak pelayat. Sebagian mereka merupakan murid thariqah. Tak cuma dari Mranggen, para murid tersebut datang dari berbagai kota di Jawa, seperti Semarang, Purwodadi, Kendal, Sragen, Pekalongan, Blora, Pati, Solo, Cirebon, bahkan luar Jawa.

KH Ahmad Muthohar meninggal dunia pada usia 79 tahun saat melaksanakan sholat tahajud, yang rutin dilakoninya selama berpuluh-puluh tahun. Beliau wafat meninggalkan 8 putra-putri dari para istrinya, 4000-an santri, dan puluhan ribu anggota thoriqoh.

Oleh: Abdus Shomad/Ben Zabidy PP. Futuhiyyah Suburan Mranggen [nu.or.id]
Share:

Minggu, 01 Mei 2016

Kh. Abuya Muhtadi Dimyati Mufti Syafiiyah Nasionalis Dari Banten

KH. Abuya Muhtadi Dimyathi Al-Bantany yang bernama kecil Ahmad Muhtadi dilahirkan di Kampung Cidahu Desa Tanagara Kecamatan Cadasari Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten dari pasangan KH Abuya Dimyathi Bin KH M. Amin Al-Bantany dan Nyai Hj. Asma' Binti KH ‘Abdul Halim Al-Makky pada 26 Desember 1953 M / 28 Jumadal Ula 1374 H.

Share:

Tokoh Islam

Hikmah

Islamia

Muslimah