• Dzikir Pagi Dan Petang

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Dzikir Mejelang Tidur

    Siapa yang membaca ayat Kursi saat hendak tidur, maka sesungguhnya dia selalu berada dalam perlindungan Allah dan tidak didekati setan hingga pagi hari.

  • Bacaan Setelah Bangun Tidur

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Dzikir Setelah Shalat Fardlu

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

  • Bacaan Shalat Tahajud

    Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada waktu pagi dan petang.” (Al-Ahzab: 41—42)

Senin, 09 April 2018

Kisah Tebuireng Dari Mbah Hasyim Hingga Gus Dur

Pesantren Tebuireng: bukan pesantren tertua. Tapi pesantren yang berada di Jombang ini sangat dikenal karena menjadi pusat perjuagan sejak pertengahan abad ke-19.

Tebuireng sendiri lahir sebagai respon terhadap tumbuhnya kapitalisme liberal yang tubuh bersamaan tumbuhnya industri gula di kawasan itu. Pabrik gula itu membawa ekses ketidakadilan sosial, pemiskinan, dan berbagai macam kriminalitas yang sengaja dilestarikan oleh penjajah guna melemahkan mental masyarakat jajahan.

Sebagai seorang aktivis muda, Hasyim asy’ari yang telah mendapatkan pendidikan paripurna dari seluruh peantren terkemuka di Jawa yang kemudian berpuncak mendapatkan pendidikan agama di Tanah Suci. Ia tergerak untuk mengatasi tantangan struktural itu, maka pada tahun Rabiul Awal 1317/1899 M didirikanlah sebuah pesantren di Tebuireng di Cukir. Berhadapan persis dengan pabrik Gula Cukir.

Sejak awal berdirinya, pesantren tersebut tidak mengenakkan kalangan kolonial yang bercokol di situ, maka gangguan demi gangguan dilakukan oleh sekelompok preman dan jagoan yang dipelihara oleh Belanda.

Ketika posisi Kiai dan segenap santri yang jumlanya hanya beberapa orang itu sangat terancam, maka Mbah Hasyim Asy’ari meminta bantan pada kiai-kiai dari Cirebon yang dikenal memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Kiai Abbas beserta beberapa kiai yang lain dari Buntet Cirebon datang memberikam bantuan. Semua jagoan yang ada di situ bisa dikalahkan sehingga mereka tidak berani lagi menggangu pesantren. Tetapi tidak dengan sendirinya pengawasan Belanda berhenti, sebaliknya terus diintensifkan.

Dengan berkurangnya gangguan itu, jumlah santri yang datang semakin bertambah. Ada sekitar 28 orang yang berasal dari berbagai tempat di Jawa Timur. Sebagai pesantren Salafiyah, Tebuireng mengajarkan berbagai kitab penting baik dalam fiqih, tauhid dan akhlaq.

Keahlian Mbah Hasyim Asy’ari dalam bidang hadits dan tafsir, menjadi daya tarik utama pesantren yang dirintisnya itu. Semua kitab diajarkan sesuai dengan tradisi pesantren Salaf, yaitu dengan metode bandongan, dan sorogan, bahkan saat itu metode halaqah juga sudah diterapkan, sehingga kehidupan akademis para santri menjadi dinamis dalam mengasah diri. Banyak santri senior dari pesantren juga dating, nyantri di Tebuireng baik sekadar mencari barokah maupun sengaja melibatkan diri dalam perjuangan politik yang gerakan dari pesantren itu.

Saat itu santri sudah datang dari Jawa tengan dan Jawa Barat sehingga jumlahnya kemudian meningkat hingga 200 orang. Apalagi sikap kiai yang sangat tegas pendiriannya dalam menghadapi berbagai persoalan kolonial, menjadi daya tarik tersendiri bagi para santri untuk berguru kepadanya. Melihat perkembangan pesantren Tebuireng yang semakin tidak terbendung itu, pemerintah Kolonial Belanda akhirnya terpaksa mengakui pesantren ini tahun 1906. Namun, Mbah Hasyim ini tetap waspada. Sebab, dia tahu bahwa pengakuan ini tidak lebih merupakan bagian dari Politiek Etis, sebuah tipu muslihat Belanda untuk membelandakan bangsa Indonesia dan umat Islam melalui pendidikan.

Ternyata, Tebuireng tetap pada pendiriannya, tidak mau tunduk pada Belanda dan tidak mau menerima bantuannya, bahkan semakin intensif menyardarkan bangsanya. Pesantren itu dituduh sebagai sarang ekstrimis Islam, karena itu pada tahun 1913 pesantren Tebuireng dihancurkan dan berbagai kitab penting dibakar oleh Belanda.

Menghadapi tantangan yang semakin berat itu tiada lain bagi peasantren ini untuk menyiapkan pejuang yang selain mendalam ilmu agamanya tetapi juga memiliki bekal ilmu pengetahuan umum yang memadai sebagai modal perjuangan nasional.

Walaupun Mbah Hasyim murni berpendidikan Salaf, tetapi sangat menghargai kemajuan yang terjadi di lingkungannya. Sebab itu, tahun 1919 telah diselenggarakan pendidikan formal yang bersifat klasikal yang dinamakan Madrasah Salafiyah Syafiiyah. Pelopor pembaruan di tebuireng ini adalah seorang Kiai Muda Muhamamad Ilayas yang sangat dipercaya oleh K Hasyim Asy’ari, sehingga berani memulai mengajarkan mata pelajaran umum yang selama ini belum dikenal di pesantren salafiyah.

Kalau semua kitab agama dipelajari dengan menggunakan bahsa Arab, tetapi saat itu, mulai diperkenalkan huruf latin, bersamaan dengan diterapkannya mata pelajaran bahasa Melayu, berhitung, sejarah, ilmu bumi dan sebagainya.

Tawaran baru ini sangat menarik kalangan santri yang sedang bangkit dan bergejolak saat itu. Sehingga Tebuireng menjadi pesantren idaman di kalangan pemuda tidak hanya dari Jawa, tetapi dikenal di seluruh Nusantara.

Para santri dari Tebuireng ini kemudian menjadi ulama besar yang memimin berbagai pesantren penting di Nusantara, antara lain KH Wahab hasbullah memimpin Pesantren ambakberas, KH Abdul Karim pendiri peantren Lirboyo dan sebagainya, termasuk K Ahmad Shiddiq adalah murid K Hasyim yang disegani.

Kiai Hasyim dikenal sebagai tokoh yang sangat giat bekerja mencari harta dan selalau menganjurkan orang untuk bercocok tanam yang dianggapnya sebagai pekerjaan sangat mulia. Demikian pula untuk mengembangkan pendidikan. Kedua dirasa sangat perlu untuk memperkuat basis perekonomian dan basis moral. Karena itu pada tahu 1919 itu juga didirikanlah Nahdlatut Tujjar yang dipimpin sendiri kemudian bendaharanya adalah Kiai Wahab Chasbullah. Sejak saat itu Tebuireng menjadi simpul utama dari pergerakan nasional.

DI TENGAH gigihnya perlawan tehadap Belanda itu, kelompok Wahabi menguasai Masjidil Haram yang hendak menerapkan satu madzhab, yaitu Wahabi. Tingkah kelompok ini macam-macam, di antaranta mereka hendak membongkar makam Nabi Muhammad.

Para ulama pesantren tidak setuju dengan tingkah pola dan pemirikan agama kaum Wahabi. Lantas, Kiai Wahab usul kepada Mbah Hasyim agar dibentuk kepanitiaan untuk memprotes tindakan raja Ibnu Saud. Terbentuklah panitia bernama Komite Hejaz.

Dikirimlah delegasi Komite Hejaz itu. Setelah mendapat persetujuan dari pemimpin pesantren Terbuireng itu maka pada 31 Januari 1926 NU didirikan dan K Hasyim sendiri sebagai Rais Akbar.

Dengan menggunakan jaringann ulama yang dimiliki kiai, maka dengan cepat NU menyebar menjadi organisiasi besar. Dengan sendirinya Tebuireng menjadi sentral perjuangan kaum santri Nusantara saat itu. Ataa restu Mbah Hasyim, kiai Wahab dan kiai muda lain semakin leluasa dan giat bergerak membangkitkan umat.

Dengan lahirnya NU, daya tarik Pesantren Tebuireng semakin memuncak. Seiring dengan naiknya pamor pesantren itu, maka santri berdatangan dari seluruh Nusantara. Demikian juga para pemimpin pergerakan Nasional berdaatangan ke Pesantren itu sekedar untuk meminta restu dan memberikan dukungan moril atas kiprahnya.

Mereka itulah yang kemudian menjadi perintis NU di daerah masing-masing. Perlawanan terhadap penjajah juga semakin meluas di kalangan kiai dan santri pesantren setelah mendapat spirit baru perjuangan. Melihat gelagat semacam itu maka pesantren ini selalu mendapatkan perhatian bahkan kunjunga dari berbagai pejabat Belanda terutama menteri urusan pribumi.

Untuk mempercepat perkembangan pesantren dalam penyadaran masyarakat, maka pada tahun 1934, putra Mbah Hasyim, Kiai Wahid Hasyim, merintis pendidikan khusus yang diberi nama Madrasah Nidzomiyah, sebuah langkah spektakular, sebabab pendidikan yang hanya bisa diikuti santri senior dan pilihan ini mengajarkan 70 persen mata pelajaran umum.

Di situ juga disediakan perpustakaan yang berisi sekitar 1000 judul buku, serta tidak ketinggalan disediakan berbagai majalah dan surat kabar, sehingga peroduk dari perguruan ini menjadi organisator yang tertib dan piawi serta pejuang yang militant.

Hingga tahun 1940-an, jumlah kiai yang dilahirkan dari Pesantren Tebuireng terdata sebanyak 25.000 orang tersebar di seluruh Nusantara. Dalam penyelidikan Jepang semua kiai yang militant tersebut ditengarai sebagai fabrikaat Tebuireng (gemblengan Tebuireng).

Karena itu ketika melihat Mbah Hasyim tetap membangkang tidak mau melakukan Saikere (penghormatan) pada bendera dan kaisar jepang, maka pada april 1942 kiai ini ditangkap dan dipenjarakan oleh Jepang.

Setelah dipenjara sekitar setahun beliau dibebaskan tanpa syarat, bahkan kemdian diberi jabatan Tinggi sebagai ketua Jawa Hokakai, menjadi Ketua MIAI dan ketua Masyumi.

Melihat posisi strategis dan keamana di pesantren ini maka ketika laranagn terhadap pegibaran bendera merah putih serta melagkan Indonesia raya diberlakukan keduanya masih bisa berkibar dan dinyanyikan di Pesantren Tebuireng.

Pada masa menjelang kemerdekaan dan masa awal kemerdekaan dalam mempertahankan kemerdekaan, posisi Pesantren Tebuireng sangat sentral. Bersamaan dikeluarkannya Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, para pimpinan Nasional baik Bung Karno, Tan malaka dan Bung Tomo selalu berkordinasi ke Tebuireng untuk menghadapi sekutu.

Para sntri ulama dan keluarga Pesantren Tebuireng semuanya turun ke medan laga menjadi tentara seperti KH Wahid Hasyim, KH Chaliq, KH Hasyim, KH Yusuf Hasyim dan sebagainya. Seusai kemerdekaan banyak di antara mereka yang kembali mengajar di pesantren dan yang meneruskan perjuangan di parlemen dan di berbagai lembaga eksekutif.

Dengan peran politiknya yang besar, melahirkan tokoh-tokoh besar, Tebuireng menjadi semakin dikenal, apalagi pendirinya yakni KH Hasyim Asy’ari dan kemudian puteranya KH Wachid Hasyim mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional sehingga namanya menghiasi sejarah perjuangan nasional.

Pamor ini dengan sendirinya menyedot minat masyarakat belajar ke pesantren besar ini, karena itu pendidikan semakin dikembangkan baik secara materi dan fisik bangunannya.

Sejak tahun 1965 pesantren ini dipimpin oleh KH Yusuf Hasyim, yang kemudian pada tahun 1969 merintis pendirian pendidikan tinggi dengan membangun Universitas Hasyim Asy’ari.

Sepeninggal KH Yusuf Hasyim epemimpinan Pesantren Tebuireng dilanjutkan oleh KH Salahuddin Wahid. Saat ini pesantren Tebuireng semakin ramai dikunjungi orang dari berbagai kalangan semenjak KH Abdurrahman Wahid putera dari KH Wahid Hasyim dimakamkan bersama dengan kakeknya KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahid Hasyim.

Setiap hari ribuan penziarah dari kalangan muslim maupun non Muslim menziarahi makam KH Abdurrahman Wahid, sebagai tokoh pemersatu bangsa yang sangat dihormati oleh semua kalangan, sehingga pesantren Tebuireng yang semula surut saat ini kembali dikenal dan menjadi pusat perhatian. (Abdul Mun’im DZ.)

Sumber: H. Aboebajar Aceh, Sejarah Hidup KH Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar, Diterbitkan Panitia Peringatan KH Wahid Hasyim, Jakarta 1957.,

Choirul Anam Pertumbuhan dan Perkembangan NU, Penerbit Bisma Satu, Surabaya, 1999.

Departemen Agama RI, Enskilopedi Islam, Penerbit Depag RI, Jakarta, 1987.

Di Copast Dari Situs: [ Nu Online ]
Share:

Senin, 02 April 2018

Kisah Sayyidina Umar Dan Lelaki Pemabuk Bertaubat Karena Khamer Jadi Cuka

Pada masa kekhalifahan Sayyidina Umar bin Khattab, ada seorang lelaki yang gemar sekali minum khomr (arak). Suatu malam ketika lelaki itu sedang berjalan di sebuah gang di kota Madinah dengan sebotol arak di tangannya. Kemudian ia berjumpa dengan Sayyidina Umar.

"Dia adalah Umar bin Khoththob, apa yang aku katakan kepadanya jika ia bertanya padaku?" ucap lelaki itu dalam hati.

Jantungnya mulai berdebar-debar karena takut ketahuan oleh Sayyidina Umar. Kalau-kalau nanti sampai bertanya apa isi botol yang sedang dipegangnya.

Setiap malam Sayyidina Umar selalu berkeliling kota, mengamati keadaan rakyatnya. Jika Beliau mendapati kemungkaran, beliau segera memberantasnya. Cambuk Sayyidina Umar lebih ditakuti daripada pedangnya Hajjaj. 

Setelah memeras otak lelaki itu pun berkata: "Yaa Allah, jika engkau selamatkan aku dari Umar saat ini, maka aku akan bertobat kepada-Mu."

Lelaki itu pun berpapasan dengan Sayyidina Umar. 

"Apa itu yang kau bawa?" tanya Sayyidina Umar

"Botol" jawab lelaki itu. 

"Apa isi nya?"

"Cuka"

"Bawa kemari!" kata Sayyidina Umar.

Beliau pun meneliti isi botol tersebut. Dan ternyata botol tersebut benar-benar berisi cuka.

Setelah Sayyidina Umar pergi lelaki itu pun bersyukur : "Yaa Allah, betapa seringnya aku bermaksiat kepada-Mu, namun kasih sayang-Mu begitu besar padaku. Mulai saat ini aku benar-benar bertobat kepada-Mu."

Catatan:
Allah SWT mengetahui kesungguhan lelaki itu dan merubah Arak yang ada di dalam botol menjadi cuka. 

Imam Al Ghazali berkata:
"Sebagaimana Allah mampu merubah arak itu menjadi cuka, maka ketahuilah Allah juga Maha Mampu untuk merubah keburukan menjadi kebaikan".

Barang siapa bersungguh-sungguh bertobat kepada Allah SWT, maka keburukan-keburukan yang pernah dilakukan akan di catat sebagai kebaikan oleh Allah. Ini adalah salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada manusia sebagai hamba.

Sumber: [ www.dutaislam.com/ed/pin ]
Share:

Minggu, 01 April 2018

Sufyan Bin Uyainah Imam Penduduk Hijaz

Nama, Kelahiran Nan Sifat-sifatnya 

Namanya: Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah bin Abi Imran Maimun al-Hilali al-Kufi, seorang budak Muhammad bin Muzahim saudara kandung ad-Dhahak bin Muzahim. (Tahdziibul Kamaal 11/177-178) 

Kelahirannya: Muhammad bin ‘Umar berkata: ”Sufyan bin ‘Uyainah megabarkan kepadaku bahwasanya ia lahir pada tahun 107 Hijriyah.” 

Ibnu Sa’ad berkata: ”Sufyan bin ‘Uyainah berasal dari Kufah. Dia pembantu Khalid bin ‘Abdillah al-Qusairi. Ketika Khalid bin ‘Abdillah diturunkan dari jabatannya di Irak dan diganti oleh Yusuf bin ‘Umar ats-Tsaqafi, maka Yusuf mencari (memburu) para pembantu Khalid. Akibatnya, para pembantu Khalid termasuk Sufyan bin ‘Uyainah melarikan diri hingga bertemu ‘Uyainah bin Abi ‘Imran di Makkah. Selanjutnya, Sufyan bin ‘Uyainah menetap di sana.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad 4/497)

Sifat fisiknya: Sufyan bin ‘Uyainah sebagaimana disampaikan al-Mizzi adalah seorang yang bermata juling. 

Sanjungan Para Ulama Terhadapnya 

Abu Nu’aim rahimahullah berkata: ”Di antara imam yang amin (dapat dipercaya), berakal cerdas, mampu ber-istibath hukum (mengambil hukum dari dalil) dan mengorelasikan hukum-hukum tersebut adalah Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah. Dia seorang cendekiawan intelektual, seorang kritikus yang zuhud dan ahli ibadah. Keilmuan dan kezuhudannya sudah mashyur di kalangan Ulama.” (Hilyatul Auliya’ 7/270) 

Adz-Dzahabi rahimahullah menambahkan: ”Sufyan bin ‘Uyainah mulai menghafal dan mencari hadits sejak usianya masih kecil. Karena dia telah banyak menimba ilmu dari para Ulama besar terkemuka, maka hal tersebut membentuk sosoknya sebagai insan yang mutqin (profesional); kaya akan ilmu dan pengetahuan; mempunyai naluri intelektual sangat baik dan mengahasilkan banyak karya. 

Usianya yang panjang membuat dirinya sebagai tempat rujukan para Ahli hadits dalam menimba ilmu dan mendapatkan sanad ‘Ali. Para Ahli hadits berdatangan dari berbagai negeri menuju Sufyan bin ‘Uyainah, sehingga tanpa disengaja, di antara mereka saling bertemu antara cucu dengan kakeknya (karena umur Sufyan bin ‘Uyainah yang panjang).” (Siyar A’laamin Nubala’)
 

Ibnu Mahdi rahimahullah berkata: ”Ibnu ‘Uyainah memiliki sebagaian pengetahuan tentang al-Qur’an dan tafsir hadits yang tidak dimiliki oleh Sufyan ats-Tsauri rahimahullah.” 

Yahya bin Ma’in rahimahullah berkata: ”Dia adalah orang yang paling tsabit dalam meriwayatkan hadits dari ‘Amr bin Dinar rahimahullah.” 

Imam Syafi’i rahimahullah berkata: ”Kalau tidak ada Imam Malik dan Sufyan bin ‘Uyainah, niscya hilanglah ilmu yang ada di daerah Hijaz (Mekah, Madinah dan sekitarnya).”

Abu ‘Isa at-Tirmidzi rahimahullah berkata: ”Aku mendengar Muhammad, maksudnya Imam al-Bukhari berkata: "Ibnu ‘Uyainah lebih kuat hafalannya dibandingkan Hammad bin Zaid."

Abdullah bin Wahb rahimahullah berkata: ”Aku tidak mengetahui ada seorang yang lebih mengetahui tafsir al-Qur’an dibandingkan dengan Ibnu ‘Uyainah.” dan beliau juga berkata:”Imam Ahmad bin Hanbal lebih mengetahui tentang sunnah (hadits) Nabi dibandingkan Sufyan (Ibnu ‘Uyainah).”

Waki’ rahimahullah berkata: ”Kami menulis hadits dari Ibnu ‘Uyainah pada zaman al-A’masy masih hidup.” 

’Ali bin al-Madini rahimahullah berkata: ”Tidak ada seorang pun Shahabat az-Zuhri yang lebih sempurna dibandingkan Sufyan bin ‘Uyainah.”

Ahmad bin ‘Abdillah al-‘Ajali rahimahullah berkata: ”Ibnu ‘Uyainah adalah seorang yang tsabit (kokoh/kuat hafalanya) dalam hadits; dia menghafal hadits sekitar tujuh ribu hadits, sedangkan dia tidak memiliki kitab (buku).” 

Bahz bin Asad rahimahullah berkata: ”Aku tidak pernah melihat seseorang sepadan dengan Sufyan bin ‘Uyainah.” Lalu ditanyakan kepadanya: ”Apakah Syu’bah juga tidak sepadan dengannya?” Dia menjawab: ”Tidak juga Syu’bah.” 

Ilmunya yang Luas 

Harmalah bin Yahya rahimahullah berkata: ”Aku telah mendengar Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: "Aku belum pernah melihat orang yang memiliki piranti ilmu (ilmu alat untuk memahami al-Qur’an dan Hadits) sebagaimana yang dimiliki oleh Sufyan bin ‘Uyainah. Dan aku belum pernah melihat orang yang lebih berhati-hati dalam berfatwa (tidak mudah untuk memberikan fatwa) dibandingkan dengannya.”

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata: ”Aku mendapati hadits ahkam (hadits-hadits tentang hukum) semuanya ada pada (dihafal) Ibnu ‘Uyainah rahimahullah kecuali hanya enam hadits saja, dan aku mendapatinya (hadits ahkam) semuanya ada pada Imam Malik rahimahullah kecuali hanya tiga puluh hadits saja.” (Tadzkiratul Kamal 11/190) 

Imam adz-Dzahabi menambahkan perkataan di atas: ”Maka ini menjelaskan kepada anda tentang luasnya ilmu Sufyan, karena dia menggabungkan hadits-hadits dari orang Irak dan Hijaz, dan dia bertemu dengan banyak ulama (perawi hadits) yang tidak ditemui oleh Imam Malik. Dan keduanya adalah sepadan dalam masalah profesionalisme, akan tetapi Imam Malik lebih agung dan lebih tinggi, karena dia memiliki (guru) Nafi’ dan Sa’id al-Maqbari rahimahumallah.” (Tadzkiratul Kamal) 

’Abdurrahman bin Mahdi rahimahullah berkata: ”Ibnu ‘Uyainah termasuk salah seorang yamg paling tahu tentang haditsnya penduduk Hijaz.” (Siyar A’lamin Nubala’) 

Keteguhannya Mengikuti Sunnah 

Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata: ”Sufyan bin ‘Uyainah adalah ulama Ahli hadits yang mengikuti (mengamalkan) hadits tersebut.” 

Muhammad bin Ishaq ash-Shaghani rahimahullah berkata: ”Telah bercerita kepada kami Luwain, bahwasanya dia berkata: ”Dikatakan kepada Ibnu ‘Uyainah: ’Apakah ini hadits-hadits yang diriwayatkan tentang masalah ru’yah (hadits yang menyebutkan bahwa orang beriman akan melihat Allah pada hari Kiamat)? ”Sufyan menjawab: ”Benar, sesuai dengan apa yang kami dengar dari orang-orang yang kami percayai dan kami ridhoi.” 

Ibrahim bin Sa’id al-Jauhari berkata: ”Aku telah mendengar Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata: ”Iman adalah ucapan dan perbuatan, ia bisa bertambah dan berkurang.” 

Imam ath-Thabrani rahimahullah berkata: ”Telah mengabarkan kepada kami Bisyr bin Musa, telah mengabarkan kepada kami al-Humaidi, ia berkata: ’Dikatakan Sufyan bin ‘Uyainah: ’Sesungguhnya Bisyr al-Marisi berkata: ’Sesungguhnya Allah tidak dilihat pada hari Kiamat.’ Maka Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahberkata: ”Semoga Allah memerangi si kutu itu (maksudnya Bisyr), apakah dia tidak mendengar firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ(15) 

”Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka (orang kafir/musuh Allah) pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.” (QS. Al-Muthaffifin: 15) 

Jika Allah juga terhalangi dari pandangan para wali-wali-Nya (maksudnya wali-wali Allah tidak melihat Allah), maka di mana kelebihan wali-Nya dibandingkan musuh-Nya?” (Maksudnya kalau Allah tidak dilihat oleh para wali-wali-Nya yaitu orang-orang beriman, maka tidak ada beda antara wali Allah dengan musuh-Nya) 

 Kezuhudannya dan Pendapatnya seputar Zuhud 

Al-Musayyib bin Wadhih rahimahullah berkata: ’Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah ditanya tentang Zuhud, maka beliau menjawab: ”Zuhud adalah terhadap apa yang dilarang oleh Allah, adapun untuk yang dihalalkan oleh Allah, maka Dia telah membolehkannya untukmu. Para Nabi menikah, menaiki kendaraan, dan makan. Akan tetapi Allah Subhanahu wa Ta'alamelarang sesuatu dan mereka pun meninggalkannya, dengan hal mereka menjadi orang yang zuhud.” 

Dari Ahmad bin Ubadah, ia berkata: ’Sufyan bin ‘Uyainah mengabarkan kepada kami dan berkata: ”Zuhud di dunia adalah bersabar danbersiap-siap menerima datangnya kematian.” 

Ahmad bin Abi al-Hawari berkata: ’Aku bertanya kepada Sufyan bin ‘Uyainah: ’Bagaimanakah orang yang dikategorikan zuhud di dunia itu?’ Dia menjawab: ”Disebut zuhud apabila seseorang mendapatkan nikmat ia bersyukur dan ketika menerima musibah ia bersabar.” 

 Guru-gurunya 

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: Ibnu ‘Uyainah meriwayatkan hadits dari Abdul Malik bin ‘mar, Abu Ishaq as-Sab’i, Ziyad bin Alaqah, Aswad bin Qais, Abban bin Taghlab, Ibrahim bin Musa, Muhammad bin ‘Uqbah, Ishaq bin ‘Abdillah bin abi Thalhah, Israil bin Musa, Ismail bin Abi Khalid, Ismail bin Umayyah, Ayyub bin Abu Tamimah as-Sakhtiyani, Yazid bin Abi Bardah, Bayan bin Bisyr, Jafar ash-Shadiq, Jami’ bin Abi Rasyid, Humaid ath-Thawil, Humaid bin Qais al-A’raj, Zakaria bin Abi Zaidah, Zaid bin Aslam, Salim Abi Nadhir, Abu Hazim bin Dinar, Sulaiman at-Taimi, Sulaiman al-Ahwal, Sama, Suhail, Syubaib bin Gharqadah, Shalih bin Kaisan, Shalih bin Shalih bin Hayy, Safwan bin Sulaim, Dhamrah bin Sa’id, ,Ashim al-Ahwal, ‘Ashim bin Bahladah bin Kulaib. 

Juga tercatat sebagai guru-gurunya:’Abdullah bin Dinar, Abu Zinad, ‘Abdullah bin Thawus, ‘Abdullah bin Husain, Ibnu Abi Nujaih, dan masih banyak lagi yang lainnya. 

 Murid-muridnya 

Dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah bahwa orang yang meriwayatkan hadits dari Sufyan bin ‘Uyainah antara lain: al-A’masy, Ibnu Juraij, Syu’bah, Sufyan ats-Tsauri, Mus’ar (di samping itu mereka semua juga termasuk guru Sufyan bin’uyainah), Abu Ishaq al-Fazari, Hammad bin Zaid, al-Hasan bin Hayy, Hammam, Abu al-Ahwash, Ibnul Mubarak, Qais bin ar-Rabi’, Abu Mu’awiyah, Waki’ al-Jarrah, Ma’mar bin Sulaiman, Yahya bin Zaidah (mereka ini hidup sezaman dengan Sufyan bin ‘Uyainah dan meninggal lebih dahulu) 

Di anatara muridnya juga; Muhammd bin Idris (Imam asy-Syafi’i) ‘Abdullah bin Wahhab, Yahya al-Qaththan,Ibnu Mahdi,Abu Usamah, al-Faryabi, ath-Thayalisi, ‘Abdurrazaq, Abu Nu’aim, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in, Ali bin al-Madini, Ishaq bin Rahawaih, dan masih banyak lagi yang lainnya. 

 Beberapa Mutiara Perkataannya 

Muhammad bin Maimun al-khayyath berkata:’ Aku telah mendengar Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata: ”Apabila waktu siangku adalah ketololan dan waktu malamku adalah kebodohan, maka apa gunanya ilmu yang aku telah kumpulkan selama ini.” 

Ibrahim al-Jauhari berkata: ’Aku pernah mendengar Ibnu ‘Uyainah berkata: ”Orang yang berilmu yang memelihara ilmunya adalah yang mengamalkan ilmu tersebut.” 

Abu Ma’mar berkata: ’Aku telah mendengar Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullahberkata:”Bukanlah disebut Ulama orang yang hanya mengetahui kebaikan dan keburukan, akan tetapi disebut Ulama apabila orang tersebut mengetahui sebuah kebaikan lalu mengamalkannya, dan mengetahui keburukan lalu menjauhinya.” 

Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata: ”Bergaulah kalian dengan Ulama, sesungguhnya duduk bersama Ulama akan mendapatkan keuntungan, berteman dengan Ulama akan selamat, dan bersahabat dengan ulama merupakan kemuliaan.” 

Abu Musa al-anshari berkata: ’Aku mendengar Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata: ”Janganlah kalian menjadi orang yang berkelakuan buruk, yaitu orang yang tidak mendatangi masjid untuk menunaikan shalat, kecuali setelah iqamat dikumandangkan. Akan tetapi, datanglah ke masjid untuk menunaikan shalat sebelum adzan dikumadangkan.” 

Dari Ibrahim bin al-Asy’ats, ia berkata: Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah telah memberitahukan kepada kami dengan berkata: ”Telah dikatakan bahwa manusia yang paling rugi di hari Kiamat adalah tiga kelompok manusia: 

Pertama: Seorang laki-laki yang mempunyai budak, sedangkan besok di Hari Kiamat, amal kebaikan budak tersebut lebih banyak dari pada amalnya. 

Kedua: Seseorang yang memiliki harta, namun tidak mau bersedekah sedikit pun sampai ia meninggal. Kemudian, harta tersebut diwariskan kepada orang lain dan harta itu kemudian disedekahkan. 

Ketiga: Seorang Ulama yang ilmunya tidak bermanfaat baginya, akan tetapi dengan diajarkannya kepada orang lain,sedang orang lain itu dapat mengambil manfaat dari ilmu tersebut.” 

Abu Ayyub Sulaiman bin Dawud, dari Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah dia berkata: ”Apabila nasehat yang sedikit tidak bermanfaat bagi orang yang berakal, maka nasehat yang banyak tidak akan menambah sesuatu melainkan kejelekan.” 

 Wafatnya: 

Dari Hasan bin Imran bin ‘Uyainah bin Abi Imran, keponakan Sufyan bin ‘Uyainah ia berkata: ”Aku pergi haji bersama pamanku, Sufyan bin ‘Uyainah yaitu pada tahun 197 Hijriyah. Setelah kami menunaikan shalat dengan cara dijamak, dia lalu berbaring di atas tikarnya. Dalam keadaan terbaring itulah dia berkata: ”Sungguh aku telah mendatangi tempat ini selama tujuh puluh tahun lamanya, setiap tahunnya aku memohon: ”Ya Allah, janganlah Engkau jadikan hajiku kali ini sebagai kesempatan haji terakhirku. Dan sekarang sungguh aku malu sekali kepada Allah karena begitu banyaknya aku memohon kepada-Nya.” 

Kemudian Ibnu ‘Uyainah kembali untuk pulang dan akhirnya dia meniggal pada tahun berikutnya, tepatnya pada hari sabtu, hari pertama bulan Rajab tahun 198 Hijriyah dan dimakamkan di Hajun.” 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan rahmat kepada beliau dan menempatkan beliau di Surga-Nya yang membentang luas. Amiin 

[ Sumber: Diringkas dari kitab Min A’laamis Salaf edisi indonesia 60 bografi Ulama salaf, pustaka al-Kautsar dengan sedikit perubahan dari sumber-sumber lain berbahasa Arab. Diposting oleh Abu Yusuf Sujono ]

Di Copaste Dari Situs: www.alsofwah.or.id
Share:

Jumat, 30 Maret 2018

Syaikhona Kholil Peroleh Banyak Ilmu Dari Ulama Yang Telah Meninggal

Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Seseorang yang dekat dengan-Nya bisa jadi diberi kemampuan istimewa untuk mengajarkan ilmu kepada seorang muridnya dengan sekejap.

Alkisah, ketika Syaichona Cholil Bangkalan Madura masih muda, ia mendengar ada seorang kiai di daerah Pasuruan, Jawa Timur yang sangat alim, yaitu Kiai Abu Darin. Keteguhan tekad dan keinginan yang kuat untuk menimba ilmu kepada Kiai Abu Darin, membuat Syaichona Cholil rela berjalan kaki dari Bangkalan, Madura menuju Pasuruan, tempat kiai itu tinggal.

Sayang seribu sayang, saat sampai di kediaman Kiai Abu Darin, ternyata beliau telah wafat beberapa hari yang lalu sebelum kedatangan Kiai Kholil. Tak ada pilihan lain bagi Syaichona Cholil kecuali ia berziarah ke makam Kiai Abu Darin yang terletak tidak jauh dari pondok pesantren.

Karena begitu kuatnya tekad ingin belajar kepada Kiai Abu Darin, Syaichona Cholil rela terus berada di makamnya seraya membaca Al-Qur’an selama 40 hari. Pada malam ke 41, ia bermimpi bertemu dengan Kiai Abu Darin seraya berkata, “Karena niatmu tulus dan tekadmu yang kuat untuk belajar kepadaku, maka aku berikan kepadamu sebagian dari ilmuku.”

Anehnya, ketika terbangun, Syaichona Cholil tiba-tiba telah menghafal beberapa kitab di luar kepala, di antaranya, imrithi, Asymuni, dan Alfiyah. Kitab-kitab tersebut merupakan kitab yang banyak dipelajari dan dikaji di berbagai pondok pesantren di Indonesia.

Kisah ini memberi pelajaran bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. Dengan tekad yang kuat dan usaha yang sungguh-sungguh pastilah kita akan memperoleh apa yang kita harapkan, karena tidak ada usaha yang sia-sia dan tiada guna.

Kita harus punya ikhtiar yang kokoh dalam menjalankan hidup dan selalu bermunajat kepada Allah SWT, sehingga seluruh ikhtiar tersebut dikabulkan oleh Allah SWT. Pengalaman hidup Syaichona Cholil dapat dijadikan cerminan bagi kita untuk senantiasa berharap dan berdoa kepada Allah SWT dengan sepenuh hati dan seikhlas-ikhlasnya.

Sumber Artikel: [ www.baldatuna.com ]
Share:

Kamis, 29 Maret 2018

Biografi Syeikh Nawawi Banten Tokoh Sufi Thoriqoh Qodariyah


Syekh Nawawi juga tercatat sebagai tokoh sufi dengan thariqah Qadiriyah, yang mengikuti ajaran ajaran Syaikh Abdul-Qadir al-Jailani (wafat pada 561 H atau 1166 M). Sayangnya, hingga riwayat ini rampung ditulis, penulis masih belum mendapatkan bahan untuk rujukan yang memuaskan mengenai Syekh Nawawi Al Bantani sebagai pengikut thariqah Qadiriyah ataukah thariqah gabungan Qadiriyah wa Naqsabandiyah.

Padahal, sejak lama pembacaan kitab Manaqib Abdul Qadir pada berbagai kesempatan tertentu merupakan indikasi akan kuatnya tarekat ini di wilayah Banten. Bahkan, Hikayah Syekh, terjemahan salah satu dari versi Manaqib, Khulashatul Mafakhir fi Ikhtishar Manaqib As-Syaikh ‘Abdil Qadir yang ditulis ‘Afifuddin al-Yafi’i (wafat pada 1367 M),

sangat mungkin dikerjakan di Banten di abad ke-17, terutama mengingat penggunaan gaya bahasanya yang sangat kuno. Apalagi, pada pertengahan abad ke 18 silam, Sultan Banten ‘Arif Zainul ‘Asyiqin, di dalam segel resminya menggelari dirinya al-Qadiri.

Seabad kemudian, mukminin asal Kalimantan di Makkah, Syaikh Ahmad Khatib Sambas (wafat pada 1878), menyebarkan tarekat Qadiriyah yang digabungkan juga dengan Naqshabandiyah. Kedudukan Beliau sebagai pemimpin thariqah digantikan oleh Syaikh Abdul Karim yang juga bermukim di Mekah.

Di tangannya, thariqah gabungan ini kemudian berkembang pesat di wilayah Banten & memberi pengaruh pada meletusnya Geger Cilegon pada tahu 1888 & amalannya melahirkan debus.

Demiakanlah, Syekh Nawawi Banten yang hidup sekitar seabad setelah Syaikh Abdush Shamad Al-Falimbani disebutkan namanya di dalam isnad kitab tashawuf yang telah diterbitkan oleh ahli isnad kitab kuning yang masyhur, yaitu Syaikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani (Syekh Yasin Padang) sebagai mata rantai sesudah Syaikh ‘Abd as-Samad.

Sumber Artikel: Fp [ LAZ Sidogiri ]
Share:

Rabu, 28 Maret 2018

10 Perkara Yang Menyelamatkan Kita Dari Azab Neraka


Antara sebab kewujudan kita di atas muka dunia ini adalah untuk menyelamatkan diri kita dari azab neraka Jahannam. Allah merakamkan di dalam al-Quran,

ۖ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ

“Ketika itu sesiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga maka sesungguhnya ia telah berjaya.” (4:185)

Kejayaan sebenar adalah selamat dari seksa neraka, dan mendapat ganjaran terbesar, iaitu memasuki syurga.

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullahu taala telah menyenaraikan 10 perkara atau cara supaya terhindarnya kita dari azab yang maha pedih; azab jahannam.

1.Taubat

Taubat bermaksud kembali kepada Allah. Ia adalah merupakan tindakan hati. Taubat adalah sebuah psychological state; perasaan ingin kembali kepada Pencipta, Rabb. Rasulullah saw pernah mengatakan, “الندم التوبة” yang bermaksud, “rasa bersalah itu taubat”.

Oleh kerana dosa menjauhkan kita dari Allah, meletakkan pembatas antara kita dan Allah, maka taubat mengembalikan kita semula kepada Allah setelah melakukan dosa.

Taubat adalah merupakan cara paling berkesan untuk menghapuskan dosa-dosa kita. Tidak ada cara lain yang lebih hebat dari taubat. Tidak ada dosa yang tidak akan diampunkan melalui taubat.

ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا

“kerana sesungguhnya Allah mengampunkan segala dosa” (39:53)

Apa yang membuat taubat ini lebih lebih hebat ialah penerimaan taubat itu dijamin keatas mereka yang bertaubat dengan ikhlas. Tidak ada sesuatu pun yang boleh menjadi penghalang antara pendosa dan rahmat Allah.

Bahkan, sebahagian ulama’ telah menyebutkan bahawa konsep taubat ini adalah antara hikmah mengapa Allah menciptakan kita.

Apabila malaikat mempersoalkan “ya Allah mengapa Engkau menciptakan manusia sedangkan mereka ini selalu menumpahkan darah, saling bermusuhan, berperang? Sedangkan kami- para malaikat tidak melakukan dosa. Kami sering mengingatimu tanpa lelah, sentiasa taat dan patuh kepadaMu.”

Allah pun menjawab “Aku lebih tahu apa yang kalian tidak tahu.”

Di sinilah sebahagian mufassirun memberi komentar bahawa sebab Allah menciptakan manusia adalah agar Dia dapat memanifestasikan, memperlihatkan rahmat dan cintaNya kepada hamba-hamba yang selalu berdosa.

Subhanallah ikhwati fillah. Sepertinya Allah mengatakan, “Supaya mereka tahu betapa aku ini Maha Pengasih, Maha Pengampun, Maha Penyayang, maka apakah tidak ada dari hamba-hambaku yang mahu bertaubat?”

Nabi saw juga ada menyebutkan, “orang yang melakukan taubat itu seperti tidak pernah melakukan apa-apa dosa” (HR. Ibn Majah)

Lalu, apakah yang menghalang kita daripada mahu bertaubat?

2.Istighfar

Apabila kita mengatakan bahawa taubat ialah tindakan hati, maka istighfar pula ialah tindakan lidah kita. Taubat yang dilisankan. taubat dan istighfar; kedua-dua adalah hal berbeza, tapi saling memerlukan. Istighfar adalah salah satu cara melahirkan rasa taubat.

Nabi saw bersabda,
وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

“Demi Allah. Sungguh aku selalu beristighfar dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari)

Jika nabi saw sering bertaubat dan beristighfar, bagaimana dengan anda dan saya?

Dalam sebuah hadith riwayat Bukhari diceritakan tentang seorang hamba yang berbuat dosa kemudian berkata,

يَا رَبِّ إِنِّى أَذْنَبْتُ ذَنْبًا فَاغْفِرْ لِى

“Ya Allah aku telah berdosa, ampunilah aku”

Maka Allah berfirman,

عَلِمَ عَبْدِى أَنَّ لَهُ رَبًّا يَغْفِرُ الذَّنْبَ

“Hambaku mengetahui bahawa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa”

Maka dia pun diampunkan. Dan berulang-ulang kali hal yang sama terjadi. Dia berulang kali melakukan dosa, dan Allah tidak letih mengampunkan dosa-dosanya. Allah tidak menyukai dosa, tetapi Allah mencintai pendosa yang bertaubat.

3.Melakukan kebaikan

Berbuat kebaikan akan menghapuskan dosa-dosa. Dalam sebuah hadith nabi saw diceritakan bahawa seorang lelaki telah mencium seorang wanita ajnabi lalu bertemu dengan Nabi saw dan berkata, “Ya Rasulullah aku telah melakukan sekian dan sekian apakah aku akan diampunkan?” Rasulullah saw mendiamkan diri. Apalagi tidak ada sebarang hukuman dalam syarak terhadap perkara tersebut. Kemudian datangnya waktu solat dan mereka solat. Selepas solat, Nabi saw memanggil si fulan dan berkata, “Bukankah engkau telah hadir ke masjid dan solat bersama kami?” “Ya” jawabnya. Lalu kata nabi, ” ان الحسنات يذهبن السيات” “Sesungguhkan kebaikan menghapuskan kejahatan”.

Setiap sedeqah, setiap wudhu’, setiap solat, setiap senyuman, setiap tenaga yang disumbang, apa-apa sahaja kebaikan akan menghapuskan sebahagian dari dosa-dosa.

4. Doa daripada orang-orang beriman kepada kita

Mendoakan orang lain agar diampunkan adalah perintah dan anjuran Allah. Doa mampu menghapuskan dosa-dosa.

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Dan orang-orang (Islam) yang datang kemudian daripada mereka (berdoa dengan) berkata: “Wahai Tuhan Kami! Ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Amat Melimpah Belas kasihan dan RahmatMu”. (59:10)

Kita mengharapkan, agar setelah kita pergi, sebahagian doa-doa dari orang muslim itu sampai kepada kita, apatah lagi doa-doa yang menyebut nama kita secara khusus. Doakanlah orang lain, semoga kita juga didoakan.

“كما تدين تدان”

Sebagaimana kita mendoakan, kita juga didoakan.

5.Ujian di dunia

Atas rahmat dari Allah, setiap kesakitan, sama ada secara fizikal atau emosi yang menimpa akan menghapuskan dosa-dosa.

“Tidaklah seseorang muslim ditimpa keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, kegundah-gulanan hingga duri yang menusuknya, melainkan Allah akan menghapuskan sebagian dari kesalahan-kesalahannya”. (HR. Bukhari)

Tiada manusia yang sukakan kepayahan dan kesakitan. Akan tetapi seorang mukmin bila diuji, sebahagian kecil dari dirinya akan menyedari dan menerimanya dengan lapang dada kerana menyedari bahawa Allah sedang mengampuni dosa-dosanya, dan mengharapkan agar apabila di mahsyar kelak, dosa-dosanya semuanya terhapus.

6. Azab di kubur

Azab seksa di kubur adalah perkara yang tidak kita mahu lalui. Akan tetapi, berbanding dengan azab neraka, azab di kubur lebih baik kerana ia mampu memadamkan dosa-dosa kita.

Akan ada sebahagian dari kita, naudzubillahi min dzalik, melakukan dosa-dosa besar dan akan diseksa di neraka jahannam. Namun, atas rahmatNya, Allah menjadikan azab kubur sebagai kaffarah.

7. Kepayahan di hari akhirat

Hari akhirat adalah merupakan hari kesusahan bagi kebanyakan manusia. Ia adalah hari yang amat panas, kecuali bagi mereka yang mendapat naungan dari Allah. Kiamat adalah hari di mana manusia akan kehausan, kecuali mereka yang Allah izinkan untuk minum dari perigi Haud. Untuk ramai manusia hisab terlalu menggugah kekuatan, titian sirat amat payah dilalui, kecuali mereka yang diberikan kemudahan oleh Allah. Sebahagian ini akan menjadi kaffarah untuk kita dari ditimpa azab jahannam.

8. Kebaikan dari orang hidup kepada yang telah mati

Doa dari seorang anak yatim yang pernah kita berbuat baik padanya, membesar lalu teringat pada kita dan mendoakan kita, masyarakat yang mendoakan kita kerana ilmu kita memberi manfaat kepada mereka, ini semua mampu menyelamatkan kita dari azab neraka.

Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadith yang masyhur,

عَنْ اَبي هُـرَيْـرَةَ رَضِـَي اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذاَ ماَتَ ابْنُ اٰدَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّمِنْ ثَلاَثٍ : صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍصَا لِحٍ يَدْعُوْلَه. رَوَهُ مُسْلِمْ

“Dari Abi Hurairah r.a, dia berkata, Rasulullah SAW.bersabda; Apabila anak Adam telah meningal dunia terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah ilmu yang bermanfaat, dan anak soleh yang mendoakan kedua orang tuanya,” (HR Muslim)

Menyedari hal ini, menjadi keperluan bagi kita untuk memaksimakan manfaat kita semasa di dunia, planting the best of seeds, and as many as we could, agar selepas kita mati, mereka akan ingat pada kita dan mendoakan kita. Menjadi insan yang paling baik, yang paling pemurah, yang paling ringan tangan. Tidaklah kita tahu kebaikan mana yang akan membantu kita pada hari akhirat.

9. Syafaat Nabi SAW Syafaat nabi mampu menyelamatkan kita dari azab neraka. Berdoalah sebagaimana doa kita selepas azan,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدَاً الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ مَقَامَاً مَحْمُودَاً الَّذِي وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ

‘Maqam mahmudaa’ itu adalah maqam syafaat. Semoga Allah menerima kita dari mereka yang mendapat syafaat nabi saw di hari akhirat.

Rahmat dan kasih sayang Allah kepada sesiapa sahaja yang dia mahukan

Ini adalah yang terakhir, jauh sekali dari yang paling tidak penting.

10. Rahmat Allah.

Hakikatnya, akhirat kelak akan ada terlalu ramai manusia yang layak untuk dicampak ke neraka jahannam. Akan tetapi,

ۚ وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ

"dan rahmatKu meliputi tiap-tiap sesuatu.” (7:156)

Terlalu besar rahmat Allah. Dalam sebuah hadith nabi menceritakan bahawa Allah mempunyai 100 bahagian rahmat, dan 1 diletakkan di atas dunia. Dengan 1 rahmat itu, haiwan mengasihi anaknya, seorang ibu menyayangi keluarganya, pemuda berbuat baik kepada yang tua. Dari awal penciptaan sehingga hari kiamat. Segalanya. Semua atas satu rahmat ini.

99 lagi bahagian rahmat yang lain Allah memperuntukkan untuk hari akhirat. Begitulah sifat Ar-Rahman Allah kepada manusia, sekalipun kepada yang tidak layak.

Apapun, hal ini tiada jaminan dan kita harus berusaha mendapatkannya.

Kita semua pendosa, dan dosa itu pahit

Hakikatnya ikhwati fillah yang dikasihi, dosa tidak melakukan apa-apa kecuali kepedihan di alam ini dan akhirat. Ingkar kepada Allah tidak menenangkan, menjauhkan kita dari Allah.

Melakukan dosa mengeraskan jiwa, hati kita mati. Menarik rezeki-rezeki daripada turun kepada kita. Dosa-dosa juga akhirnya akan membawa kita ke neraka.

Sebelum berfikir tentang bagaimana untuk diampunkan dosa, fikirkan dahulu bagaimana ingin menghindarkan diri darinya. Kemudian barulah kita berfikir tentang cara terampunnya dosa-dosa.

Sama-sama kita berusaha dan berdoa agar pada bulan Ramadhan ini dosa-dosa kita dihapuskan, mendapat pengampunan Allah dan bergraduasi dari bulan Ramadhan dengan jiwa yang bersih. Ameen, inshaAllah.

Artikel ini di hantar oleh Saudara Adib ‘Afifi bin Abdul Rahimseorang Pelajar Perubatan Universiti Iskandariah, Mesir.
Nota: Diekstrak dan disunting dari khutbah Syeikh Yasir Qadhi, “10 things that saves us from hellfire”

Sumber Artikel: http://didakwah.blogspot.com
Share:

Sabtu, 24 Maret 2018

Mengapa Surga Wanita Ada Pada Ridho Suami?

Suami dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dia dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu mencintainya seumur hidupmu. Bahkan seringkali rasa cintanya padamu lebih besar daripada cintanya kepada ibunya sendiri.

Suami dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah ibunya hingga dia beranjak dewasa. Namun sebelum dia mampu membalasnya, dia telah bertekad menafkahimu, perempuan asing yang baru saja dikenalnya dan hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah dan ibunya.

Suami ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan anak-anakmu serta dirimu. Padahal dia tahu, di sisi Allah engkau lebih harus dihormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibandingkan dirinya. Namun tidak pernah sekalipun dia merasa iri, disebabkan dia mencintaimu dan berharap engkau memang mendapatkan yang lebih baik daripadanya di sisi Allah.

Suami berusaha menutupi masalahnya di hadapanmu dan berusaha menyelesaikannya sendiri. Sedangkan engkau terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan dia mampu memberi solusi. Padahal bisa saja di saat engkau mengadu itu, dia sedang memiliki masalah lebih besar. Namun tetap saja masalahmu diutamakan dibandingkan masalah yang dihadapinya sendiri.

Suami berusaha memahami bahasa diammu dan bahasa tangismu, sedangkan engkau kadang hanya mampu memahami bahasa verbalnya saja. Itupun bila dia telah mengulanginya berkali-kali.

Bila engkau melakukan maksiat, maka dia akan ikut terseret ke neraka karena dia ikut bertanggung-jawab akan maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah dituntut ke neraka karena apa yang dilakukan olehnya adalah hal-hal yang harus dipertanggungjawabkannya sendiri.

Putri baginda Nabi, Ternyata perempuan itu adalah perempuan yang sangat taat kepada suaminya. Ridho suaminya adalah segala galanya baginya.

Dalam islam memang begitulah aturannya. Ketaatan seorang perempuan ketika belum menikah memang nomer satu kepada orang tua. Tapi begitu menikah, ketaatan nomer satu adalah pada suaminya. Untuk menambahkan sebuah alasan yang bisa dijadikan sebuah renungan untuk para istri tentang mengapa redha seorang suami itu adalah surga untuk kalian para istri, berikut ini ada beberapa

Tidak perlu sering mempertanyakan siapa yang lebih besar kewajiban dan tanggungjawabnya karena masing-masing punya tangunggjawab yang telah dipertanggungjawabkan kepada diri masing-masing. Sebaliknya tanya diri sendiri apakah sudah menjalankan kewajiban tersebut atau belum.

Semoga bermanfaat

Sumber Tulisan: [ www.kabarmuslimah.com ]
Share:

Mengenal Lebih Dekat Pendiri Nu Hadratus Syaikh Hasyim Asyari

Sesepuh Nahdhatul Ulama, ormas Islam terbesar di Indonesia ini, lahir pada 24 Dzul Qaidah 1287 Hijriah atau 14 Februari l871 Masehi. Sejak anak-anak, bakat kepemimpinan dan kecerdasannya memang sudah nampak. Di antara teman sepermainannya, ia kerap tampil sebagai pemimpin. Dalam usia 13 tahun, ia sudah membantu ayahnya mengajar santri-santri yang lebih besar ketimbang dirinya.

Menuntut Ilmu

Saat usia 15 tahun Hasyim mulai berkelana memperdalam ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonokoyo, Probolinggo. Kemudian pindah ke Pesantren Langitan, Tuban. Pindah lagi ke Pesantren Trenggilis, Semarang. Belum puas dengan berbagai ilmu yang dikecapnya, ia melanjutkan ke Pesantren Kademangan, Bangkalan di bawah asuhan Kiai Cholil. Tak lama di sini, Hasyim pindah lagi ke Pesantren Siwalan, Sidoarjo. Di pesantren yang diasuh Kiai Ya’qub inilah, agaknya, Hasyim merasa benar-benar menemukan sumber Islam yang diinginkan. Kiai Ya’qub dikenal sebagai ulama yang berpandangan luas dan alim dalam ilmu agama. Selama 5 tahun Hasyim menyerap ilmu di Pesantren Siwalan. Dan rupanya Kiai Ya’qub sendiri kesengsem berat kepada pemuda yang cerdas dan alim itu. Maka, Hasyim bukan saja mendapat ilmu, melainkan juga istri. Ia, yang baru berumur 21 tahun, dinikahkan dengan Chadidjah, salah satu puteri Kiai Ya’qub. Tidak lama setelah menikah, Hasyim bersama istrinya berangkat ke Mekkah guna menunaikan ibadah haji. Tujuh bulan di sana, Hasyim kembali ke tanah air, sesudah istri dan anaknya meninggal.

Mendirikan Pesantren Tebuireng

Tahun 1893, ia berangkat lagi ke Tanah Suci. Sejak itulah ia menetap di Mekkah selama 7 tahun. Tahun l899 pulang ke Tanah Air, Hasyim mengajar di pesanten milik kakeknya, Kiai Usman. Tak lama kemudian ia mendirikan Pesantren Tebuireng.

Kiai Hasyim Asyari terkenal mumpuni dalam kajian Hadits. Setiap Ramadhan Kiai Hasyim punya ‘tradisi’ menggelar kajian hadits Bukhari dan Muslim selama sebulan penuh. Kemampuannya dalam ilmu hadits itu diwarisi dari gurunya, Syekh Mahfudh at-Tarmisi di Mekkah. Selama 7 tahun Hasyim berguru kepada Syekh ternama asal Pacitan, Jawa Timur itu. Disamping Syekh Mahfudh, Hasyim juga menimba ilmu kepada Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabau. Kepada dua guru besar itu pulalah Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berguru. Jadi, antara KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sebenarnya satu guru.

Kajian hadits Kiai Hasyim mampu menyedot perhatian ummat Islam, pesertanya datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk mantan gurunya sendiri, Kiai Cholil. Ribuan santri menimba ilmu kepada Kiai Hasyim. Setelah lulus dari Tebuireng, tak sedikit di antara santri Kiai Hasyim kemudian tampil sebagai tokoh dan ulama kondang dan berpengaruh luas. KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Bisri Syamsuri, KH. R. As’ad Syamsul Arifin, Wahid Hasyim (anaknya) dan KH Achmad Siddiq adalah beberapa ulama terkenal yang pernah menjadi santri Kiai Hasyim.

Tak pelak lagi pada abad 20 Tebuireng merupakan pesantren paling besar dan paling penting di Jawa. Zamakhsyari Dhofier, penulis buku ‘Tradisi Pesantren’, mencatat bahwa pesantren Tebuireng adalah sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura. Tak heran bila para pengikutnya kemudian memberi gelar Hadratus-Syaikh (tuan guru besar) kepada Kiai Hasyim.

Petani Dan Pedagang Yang Sukses

Syaikh Hasyim bukan saja kiai ternama, melainkan juga seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kiai Hasyim istirahat tidak mengajar. Saat itulah ia memeriksa sawah-sawahnya. Kadang juga pergi ke Surabaya berdagang kuda, besi dan menjual hasil pertaniannya. Dari bertani dan berdagang itulah, Kiai Hasyim menghidupi keluarga dan pesantrennya.

Karena pengaruhnya yang demikian kuat itu, keberadaan Kiai Hasyim menjadi perhatian serius penjajah. Baik penjajah Belanda maupun Jepang berusaha untuk merangkulnya. Di antaranya ia pernah dianugerahi bintang jasa pada tahun 1937, tapi ditolaknya.

Kiai Hasyim sempat membuat Belanda kelimpungan. Pertama, ia memfatwakan bahwa perang melawan Belanda adalah jihad. Belanda kemudian sangat kerepotan, karena perlawanan gigih melawan penjajah muncul di mana-mana. Kedua, Kiai Hasyim juga pernah mengharamkan naik haji memakai kapal Belanda. Fatwa tersebut ditulis dalam bahasa Arab dan disiarkan oleh Kementerian Agama secara luas. Keruan saja, Van der Plas (penguasa Belanda) menjadi bingung. Karena banyak ummat Islam yang telah mendaftarkan diri kemudian mengurungkan niatnya.

Kiai Hasyim sempat mencicipi penjara selama 3 bulan pada l942. Tidak jelas alasan Jepang menangkap Kiai Hasyim. Mungkin, karena sikapnya tidak kooperatif dengan penjajah. Uniknya, saking khidmatnya kepada gurunya, ada beberapa santri minta ikut dipenjarakan bersama kiainya itu.

Latar Belakang Berdirinya NU

Saat Hasyim belajar di Mekkah, Muhammad Abduh sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam. Buah pikiran Abduh itu sangat mempengaruhi proses perjalanan ummat Islam selanjutnya. Ide-ide reformasi Islam yang dianjurkan oleh Abduh yang dilancarkan dari Mesir, telah menarik perhatian santri-santri Indonesia yang sedang belajar di Mekkah. Termasuk Hasyim tentu saja.

Ide reformasi Abduh itu ialah: Pertama, mengajak ummat Islam untuk memurnikan kembali Islam dari pengaruh dan praktek keagamaan yang sebenarnya bukan berasal dari Islam. Kedua, reformasi pendidikan Islam; dan ketiga, mengkaji dan merumuskan kembali doktrin Islam untuk disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan kehidupan modern; dan keempat, mempertahankan Islam. Usaha Abduh merumuskan doktrin-doktrin Islam untuk memenuhi kebutuhan kehidupan modern pertama dimaksudkan agar supaya Islam dapat memainkan kembali tanggung jawab yang lebih besar dalam lapangan sosial, politik dan pendidikan. Dengan alasan inilah Abduh melancarkan ide agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada pola pikiran mazhab dan agar ummat Islam meninggalkan segala bentuk praktek tarekat.

Syekh Ahmad Khatib mendukung beberapa pemikiran Abduh, walaupun ia berbeda dalam beberapa hal. Beberapa santri Syekh Khatib ketika kembali ke Indonesia ada yang mengembangkan ide-ide Abduh itu. Di antaranya adalah KH Ahmad Dahlan yang kemudian mendirikan Muhammadiyah. Tidak demikian dengan Hasyim. Ia sebenarnya juga menerima ide-ide Abduh untuk menyemangatkan kembali Islam, tetapi ia menolak pikiran Abduh agar ummat Islam melepaskan diri dari keterikatan mazhab. Ia berkeyakinan bahwa adalah tidak mungkin untuk memahami maksud yang sebenarnya dari ajaran-ajaran al-Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari pendapat-pendapat para ulama mazhab. Untuk menafsirkan al-Qur’an dan Hadist tanpa mempelajari dan meneliti buku-buku para ulama mazhab hanya akan menghasilkan pemutarbalikan saja dari ajaran-ajaran Islam yang sebenarnya. Dalam hal tarekat, Hasyim tidak menganggap bahwa semua bentuk praktek keagamaan waktu itu salah dan bertentangan dengan ajaran Islam. Hanya, ia berpesan agar ummat Islam berhati-hati bila memasuki kehidupan tarekat.

Dalam perkembangannya, benturan pendapat antara golongan bermazhab yang diwakili kalangan pesantren, dengan yang tidak bermazhab itu memang kerap tidak terelakkan. Puncaknya adalah saat Konggres Al Islam IV yang diselenggarakan di Bandung. Konggres itu diadakan dalam rangka mencari masukan dari berbagai kelompok ummat Islam, untuk dibawa ke Konggres Ummat Islam di Mekkah.

Karena aspirasi golongan tradisional tidak tertampung (di antaranya: tradisi bermazhab agar tetap diberi kebebasan, terpeliharanya tempat-tempat penting, mulai makam Rasulullah sampai para sahabat) kelompok ini kemudian membentuk Komite Hijaz. Komite yang dipelopori KH Abdullah Wahab Chasbullah ini bertugas menyampaikan aspirasi kelompok tradisional kepada penguasa Arab Saudi. Atas restu Kiai Hasyim, Komite inilah yang pada 31 Februari l926 menjelma jadi Nahdlatul Ulama (NU) yang artinya kebangkitan ulama.

Setelah NU berdiri posisi kelompok tradisional kian kuat. Terbukti, pada l937 ketika beberapa ormas Islam membentuk badan federasi partai dan perhimpunan Islam Indonesia yang terkenal dengan sebutan MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia) Kiai Hasyim diminta jadi ketuanya. Ia juga pernah memimpin Masyumi, partai politik Islam terbesar yang pernah ada di Indonesia.

Beberapa Pandangan Kiai Hasyim Asyari

Kyai Hasyim tidak segan melawan kemungkaran dalam beragama. Dalam kitabnya Al-Tasybihat al-Wajibat Li man Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat Kyai Hasyim mengisahkan pengalamannya. Tepatnya pada Senin 25 Rabi’ul Awwal 1355 H, Kyai Hayim berjumpa dengan orang-orang yang merayakan Maulid Nabi SAW. Mereka berkumpul membaca Al-Qur’an, dan sirah Nabi. Akan tetapi, perayaan itu disertai aktivitas dan ritual-ritual yang tidak sesuai syari’at. Misalnya, ikhtilath (laki-laki dan perempuan bercampur dalam satu tempat tanpa hijab), menabuh alat-alat musik, tarian, tertawa-tawa, dan permainanan yang tidak bermanfaat. Kenyataan ini membuat Kyai Hasyim geram. Kyai Hasyim pun melarang dan membubarkan ritual tersebut.

Pada Muktamar NU ke-XI pada 9 Juni 1936, Kyai Hasyim dalam pidatonya menyampaikan nasihat-nasihat penting berkaitan dengan kewaspadaan terhadap invasi Barat. Dalam pidato yang disampaikan dalam bahasa Arab, beliau mengingatkan, “Wahai kaum muslimin, di tengah-tengah kalian ada orang-orang kafir yang telah merambah ke segala penjuru negeri, maka siapkan diri kalian yang mau bangkit untuk…dan peduli membimbing umat ke jalan petunjuk.”

Dalam pidato tersebut, warga NU diingatkan untuk bersatu merapatkan diri melakukan pembelaan, saat ajaran Islam dinodai, “Belalah agama Islam. Berjihadlah terhadap orang yang melecehkan Al-Qur’an dan sifat-sifat Allah Yang Maha Kasih, juga terhadap penganut ilmu-ilmu batil dan akidah-akidah sesat”,

Untuk menghadapi tantangan tersebut, menurut Kyai Hasyim, para ulama harus meninggalkan kefanatikan pada golongan, terutama fanatik dalam masalah furu’iyah. “Janganlah perbedaan itu (perbedaan furu’) kalian jadikan sebab perpecahan, pertentangan, dan permusuhan,” tegasnya. Situasi aktual yang akan dihadapi kaum muslim ke depan sudah menjadi bahan renungan Kyai Hasyim. Dalam kitab Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah, beliau mengutip hadis dari kitab Fathul Baariy bahwa akan datang suatu masa bahwa keburukannya melebihi keburukan zaman sebelumnya. Para ulama dan pakar hukum telah banyak yang tiada. Yang tersisa adalah segolongan yang mengedepan rasio dalam berfatwa. Mereka ini yang merusak Islam dan membinasakannya. Dalam kitab yang sama, Kiai Hasyim menyinggung persoalan aliran-aliran pemikiran yang dikhawatirkan akan mempengaruhi umat Islam Indonesia. Misalnya, kelompok yang meyakini ada Nabi setelah Nabi Muhammad, Rafidlah yang mencaci sahabat, kelompok Ibahiyyun – yaitu kelompok sempalan sufi mulhid yang menggugurkan kewajiban bagi orang yang mencapai maqam tertentu – , dan kelompok yang mengaku-ngaku pengikut sufi beraliran wihdatul wujud, hulul, dan sebagainya.

Dalam kitabnya Risalah Ahlu Sunnah wa al-Jama’ah itu Kyai Hasyim banyak menulis tentang kondisi pemikiran umat pada akhir zaman. Oleh sebab itu, Kyai Hasyim mewanti-wanti agar tidak fanatik pada golongan, yang menyebabkan perpecahan dan hilangnya wibawa kaum muslim. Jika ditemukan amalan orang lain yang memiliki dalil-dalil mu’tabarah, akan tetapi berbeda dengan amalan syafi’iyyah, maka mereka tidak boleh diperlakukan keras menentangnya. Sebaliknya, orang-orang yang menyalahi aturan qath’i tidak boleh didiamkan. Semuanya harus dikembalikan kepada al-Qur’an, hadis, dan pendapat para ulama terdahulu.

Dalam Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyati Nadlatu al-‘Ulama, Hadratu Syaikh mewanti agar berhati-hati jangan jatuh pada fitnah – yakni orang yang tenggelam dalam laut fitnah, bid’ah, dan dakwah mengajak kepada Allah, padahal mengingkari-Nya.

Wafatnya Hadratu Syaikh Hasyim Asy’ari

Beliau wafat pada 25 Juli 1947. Semoga Allah Ta’ala senantiasa mencurahkan rahmat dan ampunan kepadanya. Semoga kita dapat meneladani kebaikan-kebaikannya. Amin…

Dikutip dan diolah dari dua tulisan: Hadratu Syaikh Hasyim Asy’ari,

Sumber: [ www.suaramuslimin.com ]

Share:

Jumat, 23 Maret 2018

Nasehat Ibnu Athaillah Tentang Rizeki

Ikhtiar adalah wajib. Kita diperintahkan untuk berusaha dan bekerja. Kita hanyalah hamba Allah yang diperintahkan menjalankan tugas kehambaan. Karena itu, serahkan hasil jerih payah kita hanya kepada Allah. Dialah yang menentukan segalanya. Sandarkan seluruh harapanmu hanya kepada Allah. Jangan pernah meragukan-Nya.

Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan: “Alangkah banyaknya sesuatu yang tersembunyi dalam dirimu!Jika engkau mau mengamati dengan seksama maka pasti akan tampak. Dan, hal yang paling berbahaya adalah dosa keraguan kepada Allah SWT. Sebab, ragu terhadap rezeki berarti ragu terhadap Dzat Sang Pemberi rezeki. Dan sesungguhnya, dunia ini terlalu hina untuk kau risaukan!

Jika engkau mempunyai perhatian tinggi pastilah engkau akan merisaukan sesuatu yang lebih besar, yaitu masalah akhirat. Orang yang merisaukan hal-hal yang kecil, lalu melupakan sesuatu yang lebih besar, maka berarti dia adalah orang yang paling bodoh.

Karena itu, kerjakanlah kewajiba untuk melaksanakan ibadah dan semua perintah Allah. Dia pun akan menjalankan apa yang menjadi kewajiban-Nya untukmu. Jika kumbang, cicak-tokek, dan cacing saja diberi rezeki oleh Allah, apa mungkin engkau akan dilupakan?

Allah SWT berfirman, “Suruhlah keluargamu untuk shalat dan sabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak menuntut rezeki darimu. Kamilah yang memberi rezeki. Balasan yang baik akan diberikan kepada orang yang bertakwa.” (QS Tha Ha: 132)

Jika engkau melihat ada orang yang risau karena rezeki, maka ketahuilah bahwa sebenarnya dia jauh dari Allah. Seandainya ada yang berkata kepadamu, “Besok kamu tak perlu kerja! Cukup kamu kerjakan ini saja! Saya akan memberimu Rp 2 juta,” pastilah engkau akan percaya dan mematuhi perintahnya. Padahal, dia itu makhluk yang fakir, tak bisa memberi manfaat atau madarat. Lalu, mengapa engkau merasa cukup dengan Allah Yang Mahakaya dan Mahamulia, yang menjamin rezekimu sepanjang hidup?

Allah SWT berfirman: “Tidak ada makhluk yang melata di muka bumi ini kecuali Allah-lah yang menjamin rezekinya. Dia mengetahui tempat tinggal binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam Kitab yang nyata (Lawh Mahfuzh).” (QS Hud [11]: 6)

Syekh Ibnu Atha’illah dalam Bahjat An-Nufus

Sumber Tulisan: Fp Tasawuf Underground

Share:

Kamis, 22 Maret 2018

Keutamaan Menjadi Wanita Sholehah


Point-point dari halaman ini terdapat di dalam kitab Kanzul ‘Ummal, Misykah, Riadlush Shalihin, Uqudilijjain, Bhahishti Zewar, Al-Hijab, dan lain-lain. Mudah-mudahan dapat diambil ibrah darinya.

1. Doa wanita lebih maqbul dari laki-laki karena sifat penyayang yang lebih kuat dari laki-laki. Ketika ditanya kepada Rasulallah SAW akan hal tersebut, jawab baginda : “Ibu lebih penyayang dari bapak dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia.”

2. Wanita yang solehah itu lebih baik dari 1.000 orang laki-laki yang tidak soleh.

3. Seorang wanita solehah lebih baik dari 70 orang wali.

4. Seorang wanita solehah lebih baik dari 70 laki-laki soleh.

5. Barangsiapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya diibaratkan seperti orang yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah SWT dan orang yang takut Allah SWT akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.

6. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah. Hendaklah mendahulukan anak perempuan terhadap anak laki-laki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah-olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail AS.

7. Tidaklah seorang wanita yang haidh itu, kecuali haidhnya merupakan kifarah (tebusan) untuk dosa-dosanya yang telah lalu, dan apabila pada hari pertama haidhnya membaca “Alhamdulillahi’alaa Kulli Halin Wa Astaghfirullah”. Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan dan aku mohon ampun kepada Allah dari segala dosa.”; maka Allah menetapkan dia bebas dari neraka dan dengan mudah melalui shiratul mustaqim yang aman dari seksa, bahkan AllahTa’ala mengangkat derajatnya, seperti derajatnya 40 orang yang mati syahid, apabila dia selalu berzikir kepada Allah selama haidhnya.

8. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah SAW.) di dalam syurga.

9. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggung jawab, maka baginya adalah syurga.

10. Dari ‘Aisyah r.ha. “Barang siapa yang diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka.”

11. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.

12. Apabila memanggil kedua ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.

13. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.

14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan meredhainya. (serta menjaga sembahyang dan puasanya)

15. ‘Aisyah r.ha. berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah SAW. siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita ?” Jawab baginda, “Suaminya”. “Siapa pula berhak terhadap laki-laki ?” Jawab Rasulullah SAW. “Ibunya”.

16. Seorang wanita yang apabila mengerjakan solat lima waktu, berpuasa wajib sebulan (Ramadhan), memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya, maka pasti akan masuk syurga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.

17. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu dari suaminya (10.000 tahun).

18. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah SWT mencatatkan baginya setiap hari dengan 1.000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1.000 kejahatan.

19. Dua rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik dari 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.

20. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.

21. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadah pada malam hari.

22. Seorang wanita yang mengalami sakit saat melahirkan, maka Allah SWT memberi pahala kepadanya seperti pahala orang yang berjihad dijalan Allah SWT.

23. Wanita yang melahirkan akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan tiap rasa sakit dan pada satu uratnya Allah memberikan satu pahala haji.

24. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia dari dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.

25. Wanita yang meninggal dalam masa 40 hari sesudah melahirkan akan dianggap syahid.

26. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya dari badannya (susu badan) akan dapat satu pahala dari tiap-tiap titik susu yang diberikannya.

27. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup (2 1/2 tahun), maka malaikat-malaikat di langit akan memberikan kabar gembira bahwa syurga adalah balasannya.

28. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.

29. Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak nyaman karena menjaga anaknya yang sakit akan mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba.

30. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari karena menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia menghibur hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.

31. Apabila seorang wanita mencucikan pakaian suaminya, maka Allah mencatatkan baginya seribu kebaikan, dan mengampuni dua ribu kesalahannya,bahkan segala sesuatu yang disinari matahari akan memohonkan ampun untuknya, dan Allah mengangkatkannya seribu darjat.

32. Seorang wanita yang solehah lebih baik dari seribu orang laki-laki yang tidak soleh, dan seorang wanita yang melayani suaminya selama seminggu, maka ditutupkan baginya tujuh pintu neraka dan dibukakan baginya delapan pintu syurga, yang dia dapat masuk dari pintu mana saja tanpa dihisab.

33. Mana-mana wanita yang menunggu suaminya hingga pulang, disapukan mukanya, dihamparkan duduknya atau menyediakan makan minumnya atau memandang ia pada suaminya atau memegang tangannya, memperelokkan hidangan padanya,memelihara anaknya atau memanfaatkan hartanya pada suaminya karena mencari keridhaan Allah, maka disunatkan baginya akan tiap-tiap kalimat ucapannya,tiap-tiap langkahnya dan setiap pandangannya pada suaminya sebagaimana memerdekakan seorang hamba. Pada hari Qiamat kelak, Allah kurniakan Nur hingga tercengang wanita mukmin semuanya atas kurniaan rahmat itu. Tiada seorang pun yang sampai ke mertabat itu melainkan Nabi-nabi.

34. Tidakkan putus ganjaran dari Allah kepada seorang isteri yang siang dan malamnya menggembirakan suaminya.

35. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suaminya melihat isterinya dengan kasih sayang akan di pandang Allah dengan penuh rahmat.

36. Jika wanita melayan suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun solat.

37. Wanita yang melayani dengan baik kepada suami yang pulang ke rumah dalam keadaan letih akan medapat pahala jihad.

38. Jika wanita memijat suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 emas dan jika wanita memijat suami bila disuruh akan mendapat pahala perak.

39. Dari Hadrat Muaz ra.: Wanita yang berdiri atas dua kakinya membakar roti untuk suaminya hingga muka dan tangannya kepanasan oleh api,maka diharamkan muka dan tangannya dari bakaran api neraka. 40. Thabit Al Banani berkata : Seorang wanita dari Bani Israel yang buta sebelah matanya sangat baik khidmatnya kepada suaminya. Apabila ia menghidangkan makanan dihadapan suaminya, dipegangnya pelita sehingga suaminya selesai makan. Pada suatu malam pelitanya kehabisan sumbu, maka diambilnya rambutnya dijadikan sumbu pelita. Pada keesokkannya matanyayang buta telah celik. Allah kurniakan keramat (kemuliaan pada perempuan itu karena memuliakan dan menghormati suaminya).

41. Pada suatu ketika di Madinah, Rasulullah SAW. keluar mengiringi jenazah. Beliau menemukan beberapa orang wanita dalam majelis itu. Rasulullah SAW lalu bertanya, “Apakah kamu menyolatkan jenazah ?” Jawab mereka,”Tidak”. Sabda Rasulullah SAW “Sebaiknya kalian semua tidak usah ikur berziarah dan tidak ada pahala bagi kamu. Tetapi tinggallah di rumah dan berkhidmatlah kepada suami niscaya pahalanya sama dengan ibadat-ibadat orang laki-laki”.

42. Wanita yang memerah susu binatang dengan “Bismillah” akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.

43. Wanita yang membuat adonan tepung gandum dengan “Bismillah” , Allah akan berkahkan rezekinya.

44. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di Baitullah.

45. “Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan mejadikan 7 parit diantara dirinya dengan api neraka, jarak diantara parit itu ialah sejauh langit dan bumi.”

46. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang, Allah akan mencatatkan untuknya perbuatan baik sebanyak utus benang yang dibuat dan memadamkan seratus perbuatan jahat.”

47. “Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang menenun kain, Allah telah menentukan satu tempat khusus untuknya di atas tahta di hari akhirat.”

48. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang dan kemudian dibuat pakaian untuk anak-anaknya maka Allah akan memberikan pahala sama seperti orang yang memberi makan kepada 1.000 orang lapar dan memberi pakaian kepada 1.000 orang yang tidak berpakaian.”

49. “Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang meminyakkan rambut anaknya,menyikatnya, mencuci pakaian mereka dan memandikan anaknya, Allah akan memberikan pahala kebaikan sebanyak helai rambut mereka dan menghapus sebanyak itu pula dosa-dosanya dan menjadikan dirinya kelihatan berseri di mata orang-orang yang memerhatikannya.”

50. Sabda Nabi SAW: “Ya Fatimah barang mana wanita meminyakkan rambut dan janggut suaminya, memotong kumis (misai) dan mengerat kukunya, Allah akan memberinya minum dari sungai-sungai serta diringankan Allah baginya sakaratul maut dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman dari taman- taman syurga dan dicatatkan Allah baginya kelepasan dari api neraka dan selamatlah ia melintas Titian Shirat.”

51. Jika suami mengajarkan isterinya satu hal akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.

52. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumah tangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal dari suaminya, akan menjadi ketua 70.000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat dari yakut.

53. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya iaitu memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.

54. Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita (isteri) yang solehah.

55. Salah satu tanda keberkatan wanita itu ialah cepat perkahwinannya, cepat pula kehamilannya dan ringan pula maharnya (mas kawin).

[ Deandra Shalsaby ]

Sumber Artikel: Fp Madras Ribath

Share:

Tokoh Islam

Hikmah

Islamia

Muslimah